
"Terima kasih banyak om, tante, amel merasa sangat bahagia bisa memiliki keluarga baru yang baik dan sayang pada amel, kataku."
"Karena kamu pantas mendapatkan ini semua, kata putra."
"Putra terima kasih banyak dengan semua yang kamu berikan untukku, kamu memang teman aku yang baik, kataku."
"Iya sama-sama, kata putra."
Ibu ratna adalah nama dari ibu putra yang sudah menganggap aku sebagai anaknya. Andai saja orang tuaku tidak meninggalkan aku, pasti aku akan selalu memeluk dan berada di dekat mereka. Aku juga ingin ibu menidurkan aku dengan mengelus rambutku dengan jemarinya, lalu memberikan aku kecupan di kening.
Dan harusnya mereka ada menemaniku saat aku diwisuda dan mereka tersenyum bangga padaku. Ibu ratna memperlihatkan aku album foto yang monokrom milik putra sewaktu dia masih kecil. Ibu ratna benar-benar ibu yang penyayang, bayangkan saja foto saat ibu ratna hamil perminggu dan perbulan ada di dalam album ini serta saat ibu ratna melahirkan putra, merawat putra dari umur ke umur hingga dewasa seperti ini. Putra memang beruntung, aku sirik padanya karena aku juga menginginkan hal itu sejak dulu.
"Ibu, Ayah, aku mau mengajak amel jalan-jalan dulu, kami tidak akan lama dan juga pulang malam, kami akan naik motor, kata putra."
"Putra, Amel, hati-hati ya sayang, kata ibu ratna."
"Putra jangan ngebut, kata ayah putra."
"Putra, memangnya kita mau kemana? Tanya amel."
"Kamu suka danau kan? nah kita akan pergi ke danau dekat rumah paman surya, kata putra."
"Untuk apa kita ke danau itu? Tanya amel."
"Kita akan piknik di tempat itu, aku sudah menyediakan semua itu semalam, kata putra."
"Terima kasih putra, kamu terlalu baik padaku, aku harap kamu melakukan ini untuk teman baikmu, kataku."
"Aku melakukan ini semua demi kamu, teman baikku, kata putra."
"Sekarang aku tutup mata kamu dan akan membukanya, kata putra."
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa langkah akhirnya putra membuka penutup mataku, betapa terkejutnya aku saat melihat ratusan balon warna-warni di danau ini, serta bunga-bunga matahari yang sangat indah.
"Bagaimana kamu suka? Tanya putra."
"Aku suka dan aku bahagia, ini sungguh mengagumkan putra, terima kasih buat semua yang kamu berikan untuk diriku, kataku."
"Aku juga merasa bahagia saat kamu tersenyum, karena senyum itu terlalu manis untuk redup, kata putra."
"Kamu bisa saja, kataku."
"Ayo kita makan, aku sudah lapar, kata putra."
"Ayo, aku juga sudah lapar, kataku."
"Saat kamu memandang mentari, apa yang kamu temukan? bukankah hanya cahaya yang silau? lalu mengapa kamu menyukainya? Tanya putra."
"Aku menyukainya karena hidupku sudah terlalu gelap dan aku membutuhkan secercah cahayanya untuk menghapus gelapku, namun sekarang aku tidak perlu memandang mentari lagi, karena sudah ada kamu yang lebih nyata terlihat, kataku."
"Dari seseorang yang memberikan aku banyak kebahagiaan yaitu kamu, putra.. Kataku."
"Amel, apa aku termasuk seseorang yang berharga bagimu? Tanya putra."
"Kamu akan selalu menjadi awan untuk langit, awan yang berharga sebagai teman dari langit, kataku."
"Apa kamu mempunyai teman seperti aku? Tanya putra."
"Aku punya empat orang sahabat yang begitu aku sayangi dan aku rindukan."
Namanya kely, dion, cristofer dan Aabriella. Mereka begitu perhatian padaku, mereka selalu ada di dekatku ketika aku merasa sedih, terluka dan bahagia.
"Kamu memang pantas mendapatkan sahabat-sahabat seperti mereka karena kamu terlalu baik dan terlalu berharga untuk ditinggalkan, kata putra."
__ADS_1
"Kamu salah jika mengatakan aku terlalu berharga untuk ditinggalkan, buktinya kedua orang yang aku sayangi meninggalkan diriku tanpa mengerti perasaanku, kataku."
"Mengapa bisa mereka meninggalkan dirimu? Tanya putra."
"Al pergi meninggalkan aku karena dia dijodohkan oleh orang tuanya demi mempertahankan perusahaan ayahnya yang mulai bangkrut dan aku menyaksikan langsung pernikahan mereka tanpa aku sadari saat itu, sedangkan andra, dia sangat menyayangiku hingga dia terpaksa berbohong dan menyembunyikan sakitnya dariku, satu bulan dia terbaring di rumah sakit yang ada di Singapore, sebelum pergi meninggalkan aku untuk selamanya, dia sudah menjadi malaikat di atas sana, kataku."
"Maafkan aku, karena sudah mengingatkan kamu dengan masa lalu yang terjadi padamu, kata putra."
"Kamu tidak perlu meminta maaf, kamu satu-satunya teman yang aku punya disini, kataku."
"Sekarang kita pulang saja, karena wajahmu terlihat pucat, mungkin tempat ini terlalu dingin untukmu, kata putra."
"Baiklah, sekarang kita pulang saja, kataku."
Putra mengantar aku pulang ke rumah paman surya, putra tidak tahu jika saat ini aku merasa pusing dia hanya mengira bahwa aku merasa kedinginan. Putra membawa motornya dengan kecepatan maksimal dan juga sangat berhati-hati. Ketika sampai di rumah paman, nenek langsung mendekatiku dan memeluk diriku. Aku tahu nenek selalu mengkhawatirkan aku, walaupun aku hanya pergi sebentar saja.
"Putra terima kasih untuk hari ini dan sebelumnya, kataku."
"Sama-sama, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, salam buat kakek dan paman surya, kata putra."
"Iya, pasti aku sampaikan salammu untuk mereka berdua, kataku."
"Sekarang ayo masuk dan mandi setelah itu bantu nenek untuk memasak makan malam, kata nenek."
"Baik nek, kalau begitu amel ke kamar dulu ya, kataku."
"Iya, jangan lama-lama mandinya, nanti kamu bisa masuk angin, kata nenek."
"Iya nenekku sayang, kataku."
Setelah aku selesai mandi dan berpakaian, tiba-tiba handphone aku bordering, tertera nama kely di layar handphoneku, akupun segera mengangkat telfonnya.
__ADS_1
"Hallo, kely! aku sangat merindukan kamu dan juga dion, kataku."