
Aku berangkat ke kampus bersama Al pagi ini, kebetulan jam kuliah kami sama. Sesampai di kampus, kely dan dion melihat dan menghampiri kami di depan pintu gerbang.
"Sepertinya ada yang lagi bahagia hari ini, kata kely mengejekku."
"Nah begitu dong Al, kalau cinta jangan dilepas, kata dion."
"Kalian ini apa-apaan sih, kataku."
Saat kami berempat hendak masuk bersama namun tiba-tiba ada yang memanggil namaku, aku pun berhenti dan melihat siapa dia.
"Amel tunggu, kata orang itu."
"Kamu masih ingat denganku? Tanyanya."
"Iya, kamu yohan kan? Tanyaku."
"Iya, aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi di kampus yang sama, kamu tahu setelah pertandingan itu aku selalu menunggumu pulang di luar sekolah, namun kamu tidak pernah terlihat lagi dan aku bertanya pada seseorang dan bilang kamu pindah ke bandung, kata yohan."
Tiba-tiba Al pergi meninggalkan kami, aku tahu saat ini Al pasti sedang cemburu, aku harus mengejarnya.
"Maaf yohan tapi aku harus pergi mengejar Al, kataku."
__ADS_1
"Tunggu, amel, kata yohan sambil menarik tanganku."
"Yohan lepaskan amel, biarkan dia menggejar orang yang dia sayang, kata dion."
"Yohan aku mohon lepaskan tanganku, sakittt! kataku, namun yohan tidak mendengarkannya."
Dan akhirnya dion dan yohan bertengkar, sedangkan kely pergi menemui Al untuk meminta bantuan. Al kembali untuk membantu dion yang sudah terluka akibat pukulan yohan.
"Yohan hentikan, kamu sudah keterlaluan, kata Al."
"Selanjutnya adalah kamu, kata yohan."
Mereka berdua bertengkar namun kali ini Al yang mengalahkan yohan dan akhirnya yohan pergi meninggalkan kami.
"Aku tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir dan aku kagum denganmu Al, kata dion."
Aku dan kely pergi membawa al dan dion ke ruang UKS.
"Al, terima kasih karena sudah menolongku, kataku."
"Aku tidak menolongmu tapi aku menolong sahabatku dion, kata Al."
__ADS_1
"Kamu bohong, aku bisa melihat kekhawatiran di matamu, kataku."
"Aku sama sekali tidak mengkhwatirkan dirimu, karena aku yakin yohan tidak akan melukaimu sebab dia mencintaimu, kata Al."
"Kamu bilang dia tidak akan melukaiku? tapi mengapa dia menggenggam pergelangan tanganku hingga seperti ini, kataku."
Al terkejut saat melihat tanganku yang memar, "Benar-benar keterlaluan sih yohan, kata Al."
"Sekarang kamu masuk dan obati lukamu, kata Al."
Setelah dion diobati kami langsung pulang namun kami tidak bersamaan, dion dan kely pulang bersama, sedangkan aku sendiri dan Al pun sendiri. Sesmpai di rumah, aku merebahkan tubuhku dan terlelap.
Aku fikir, Al tidak akan membiarkan aku pulang sendirian dalam keadaan yang kurang enak. Ternyata Al masih marah dengan apa yang terjadi siang tadi. Tapi setidaknya Al memberi aku kesempatan untuk menjelaskan, jika aku hanya mencintainya tanpa ada lagi yang tersembunyi di dalam hati ini.
"Sampai kapan gerimis di sudut mata ini akan berakhir? aku ragu mengucapakan kata kuat dalam dilema perasaan yang tengah beradu."
"Awan, bolehkah aku meminta sesuatu padamu? Aku ingin tarik kembali gerimis ini, percuma saja tidak akan berpengaruh pada dia yang terlanjur mengkakukan dirinya."
Kali ini ia merasa Al yang kini, kembali berubah sama seperti awal mengenalnya dulu. Tidak ada senyum, yang ada hanya diam dan semakin tidak perduli denganku yang meski aku berada dekat di sampingnya.
Bahkan melihat wajahku saja dia mulai enggan, dan itu juga yang membuat aku semakin merasa cinta ini sudah mati. Akan sulit memperbaiki hubungan yang salah satu dari kami sudah melepas ikatan.
__ADS_1
Jangan salahkan waktu yang mulai membawaku menjauh darimu yang terlihat biasa saja.
*****