
BAB 5
HATI RETAK
Katakan padaku jika aku mengungkapkannya, apa yang akan hati ini dapatkan darinya?
Kali ini aku hanya mendengar musik berharap dengan ini bisa sedikit mengurangi kegalauan yang terjadi kemarin sama sekali menyayat hati. Aku tidak tahu mengapa Al terkadang baik dan terkadang sangat kasar padaku.
Aku mematung di pinggiran jalan kampus menunggu Al, saat mata ini menangkap sosoknya aku langsung menebarkan senyuman termanisku kepadanya. Tetapi apa balasannya, dia menangkis senyumku dengan membuang muka. Sekali lagi Al membuatku kecewa. Entah apa yang membuatku tetap ingin mempertahankannya.
"Hati ini perlahan-lahan menjadi abu karena api amarah dalam diriku sendiri sudah tidak sanggup aku bendung lagi."
Langkah kakiku menghasilkan irama di koridor ditambah lagi padangan mataku lurus namun tidak sadar hingga aku menabrak tiang raksasa dan yang membuatku malu, karena aku ditertawakan oleh mereka yang hanya bisa menghina bukan menolong. Dengan langkah tidak beraturan aku meninggalkan mereka yang menertawakanku.
"Sial, mengapa bisa aku tidak melihat tiang sebesar itu, ada apa denganku hari ini? Tanyaku ketus."
"Amel! Aku mau bicara empat mata denganmu, kata Al yang membuatku terkejut."
Dengan perasaan gembira akupun membalas Al. "Kamu mau bicara? Silahkan, Kataku."
"Kamu mau tidak membantuku merapikan perpustakaan? Tanya Al."
"Aku fikir kamu mau minta maaf, tapi ternyata dugaanku salah. Tapi tidak apa, aku akan membantumu, kataku."
"Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama denganmu amel, aku juga merasa sangat bersalah, aku sudah menjadi pria yang hanya bisa membuatmu bersedih dan menangis. Aku juga tidak sanggup mengucapkan kata maaf di hadapanmu. Seandainya kamu tahu jika aku akan pergi jauh dari sisimu demi pendidikanku, maka dari itu aku melakukan ini semua agar kamu terbiasa tanpa diriku suatu saat nanti, dan mengapa kamu tetap mempertahankan cintamu untukku yang banyak mengecewakanmu, gumam Al dalam batinnya."
Al berjalan dengan mata senduh, sedangkan aku berjalan jauh di depan Al. Kebiasaanku berjalan dengan pandangan kosong kembali membuat diriku celaka namun tidak lebih sadis dari yang kemarin karena disini hanya ada aku dan dia saja.
__ADS_1
Aku menaiki anak tangga yang bersandar di lemari perpustakaan untuk menyimpan buku-buku yang tergeletak di lantai. Dan secara tidak sengaja kaki kananku terpeleset dan terjatuh namun tubuhku tidak terjatuh ke lantai karena Al berlari ke arahku, aku menatap satu pasang mata yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Ada apa dengannya? Tanyaku dalam batin."
Al menertawakan aku selagi dia membantuku berdiri dan memintaku untuk lebih hati-hati.
"Sepertinya kamu tidak ikhlas menolongku, kataku sambil melanjutkan pekerjaanku."
Al tidak membalas perkataanku lagi, aku kembali berfikir mungkinkah Al masih marah padaku atas kejadian yang telah berlalu sekian hari. Tapi, belum sempat aku melanjutkan ucapanku dan terdengar suara teriakan yang menggelegar di telingaku. Kubalikkan badanku dan melihat Al terjatuh ke lantai denggan aliran darah di keningnya.
Dengan perasaan panik aku berlari menghampirinya, dia yang tidak sadarkan diri semakin membuatku khawatir. Tanpa berfikir panjang aku berusaha mengangkat tubuh Al, namun aku tidak bisa dan aku beruntung karena dion dan kely lewat di depan perpustakaan. Akupun memanggil mereka dengan sangat suara lantang. Mereka melihatku dan melihat kepala Al di pangkuanku. Kami menggotong tubuh Al ke UKS.
Aku berjalan mondar-mandir di sekeliling UKS menunggu Al sadarkan diri. Tidak lama Al benar-benar sadarkan diri.
"Amel, kata Al."
"Tidak, kamu lebih baik pergi dan tinggalkan aku bersama kely dan juga dion, kata Al."
Aku kesal dan pergi meninggalkan mereka bertiga, gerimis pun datang melengkapi hatiku yang terluka.
"Al mengapa kamu mengusir amel, dia sangat menyayangi kamu dan menerima semua kepedihan yang kamu beri untuknya, dia adalah gadis terbaik yang pernah aku jadikan sahabat, kata kely."
"Justru itu, aku tidak berani melihat reaksinya jika mengetahui sebenarnya yang terjadi padaku, aku juga tidak kuat bila dia memperlihatkan air matanya lagi padaku, kata Al."
"Maksud kamu apa Al, memangnya apa yang terjadi dengan kamu? Tanya dion."
"Aku akan melanjutkan pendidikanku di jerman dan sekaligus dijodohkan oleh putri pengusaha terbesar disana dan mungkin saja aku akan dinikahkan dengan syerien, aku tidak mencintainya tetapi aku mencintai amel, namun aku tidak punya pilihan lain, kata Al."
__ADS_1
"Jika itu benar akan terjadi, lalu bagaimana nasib wanita yang selama ini menunggumu untuk mengatakan maaf dan aku yakin dia akan memaafkan kamu, kata kely."
"Itu pilihan yang berat Al, aku mengerti keadaanmu, tapi yang dikatakan kely juga ada benarnya."
Setelah percakapan panjang yang mereka rundingkan tadi, mereka melihat aku terduduk di lantai depan UKS menunggu mereka. Aku meringis kesakitan denagn luka goresan akibat terjatuh.
"Amel, apa yang terjadi dengan lutut dan siku kamu? Tanya al?"
"Tumben kamu khawtir sama aku, biasanya juga kamu marah, dan bilang kamu ini harus hati-hati, kataku dengan nada mengejek."
"Amel ayo masuk ke UKS biar lukamu diobati dulu, kata kely."
"Iya benar kalau tidak bisa infeksi, kata dion."
"Aku mau pulang sekarang, ayo kita pulang kely, kataku."
"Maaf mel aku tidak bisa, soalnya hari ini aku masih ada kelas, kata kely."
"Yasudah kalau begitu aku pulang duluan saja, kataku."
"Emm amel aku akan mengantarmu pulang, kata Al."
"Baiklah, kataku singkat."
Ketika harapan telah sirnah maka hati akan mencoba bertahan demi cintaku untuknya.
*****
__ADS_1