
Mereka menangis membacanya, mereka merasakan hal yang sama sepertiku, merasa sangat kehilangan. Begitu banyak sosok yang aku temui dalam hidupku, namun mengapa selalu terjadi suatu perpisahan. Aku mengingat semua yang pernah aku jelajahi dalam hidupku. Banyak sekali kenangan bersama Al, Andra, Kely, Dion, Aabriella, dan Cristofer.
Setelah sampai di bandara soekarno-hatta aku kembali naik taksi ke stasiun kereta api menuju bandung. Perutku kembali sakit, mungkin karena hari ini aku terlalu lelah. Aku tidak pernah memikirkan kesehatanku, jika aku sakit aku tetap saja bekerja mengetik tulisan. Sesampai di rumah paman, kakek dan nenek terlihat sangat terkejut akan kehadiranku disini.
"Amel cucuku, apa ini benar kamu? Tanya kakek."
"Iya kek ini amel, cucu kakek, kataku."
"Amel sekarang kamu sudah tumbuh dewasa, kata nenek."
"Iya nek, ini semua berkat kakek dan nenek yang membesarkan aku sampai sekarang, kataku."
"Kamu tidak boleh pergi jauh lagi dari nenek, kata nenek."
"Iya nek, amel juga mau bersama kalian disini, kataku."
"Sekarang kamu makan dulu, kata nenek."
"Iya nek, amel juga lapar, kataku."
"Malam ini kamu harus tidur dengan nenek, karena nenek masih ingin melepas rindu denganmu, kata nenek."
"Baiklah nek, aku juga masih sangat rindu denganmu, kataku."
Setelah makan, aku tidur bersama nenek, banyak cerita yang bisa aku beritahu kepada nenek.
BAB 10
MAAFKAN AKU
Jika kamu mau, aku bisa meminta agar malaikat meminjamkan sayapnya padamu.
07 mei 2018
Aku menghela nafas panjang sembari meneguk kopi di depan rumah dengan pekarangan hijau dan udara pagi yang sejuk. Ditambah lagi nenek membelai rambutku, aku memeluk nenek dengan air mata yang tidak mampu aku tahan.
"Amel sayang, mengapa kamu terlihat sangat sedih? Tanya nenek."
"Aku tidak sedang bersedih nenek, aku hanya merasa lelah karena perjalanan semalam, kataku."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu nenek masuk dulu, kata nenek."
Kakek sedang memotong rumput dengan tangan gemetar, kakek sudah semakin tua, aku berjalan mendekatinya dan meminta agar kakek istirahat saja, biar aku yang melanjutkan semua ini.
Mereka terlalu berarti di kehidupanku, aku tidak akan mungkin bisa melihat mereka sakit. Memotong rumput merupakan pekerjaan yang tidak mudah, membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Paman surya memintaku berhenti memotong rumput, kata paman kakek dan nenek memanggilku. Aku merasa perasaanku tidak enak, ada apa dengan mereka memanggilku, akupun meninggalkan pekerjaan kakek dan bergegas menemui kakek dan nenek di dalam.
"Ada apa kakek dan nenek memanggil amel? Tanyaku."
"Amel kami sudah tua, kami tidak akan bisa menjaga kamu dalam waktu yang lama, kata nenek."
"Maksud nenek apa? Tanyaku."
"Kamu sudah dewasa, sudah waktunya untuk kamu menikah, kata nenek."
"Tapi aku tidak punya pasangan untuk menikah, dan aku juga sudah tersakiti tiga kali, aku masih ingin sendiri, kataku dengan lembut."
"Kakek akan mengenalkan kamu dengan cucu dari teman kakekmu ini, kata kakek."
"Aku tidak bisa memaksa seseorang yang tidak mencintaiku, kataku."
"Jika itu bisa membuat kalian bahagia maka amel akan menurutinya, kataku."
"Baguslah kalau kamu sudah setuju, kakek akan merasa sangat bahagia, kata kakek."
Akupun tersenyum pada kakek dan nenek yang pergi meninggalkan aku dan paman surya.
"Amel, kamu yakin akan menikah dengan pria yang kakek dan nenek pilihkan untukmu? Tanya paman surya."
"Aku tidak punya pilihan selain menerimanya, kakek dan nenek yang sudah membesarkan dan merawatku dari kecil, apa lagi yang bisa aku berikan jika bukan semua ini yang membuat mereka bahagia, kataku."
"Paman juga akan mendukung keputusnmu, paman akan berdo'a untukmu, kata paman surya."
"Terima kasih paman surya, kataku."
"Iya sama-sama sayang, kata paman surya."
Di belakang rumah paman ada danau yang tidak begitu luas dan dalam, tempat itu sangat cocok bagi mereka yang membutuhkan ketenangan. Seperti diriku saat ini, aku berjalan ke pinggiran danau, di pinggir danau itu juga tumbuh bunga-bunga yang cantik dengan warna menarik.
__ADS_1
Aku memeluk kedua lututku dan menangis tanpa sebab, aku takut jika aku benar-benar sakit, aku tidak berani ke dokter karena jika benar aku tidak tahu bagaimana cara memberitahu kakek dan nenek mengenai penyakitku tersebut.
"Kamu lihat gadis yang duduk di pinggir danau itu? Tanya kakek."
"Iya, aku melihatnya, kata pria itu."
"Dia adalah cucu yang ingin kakek kenalkan padamu, kata kakek."
"Jadi dia orangnya? Tanya pria itu."
"Iya, sekarang ayo temui dia, kata kakek."
"Baik kek, kata pria itu sambil berjalan mendekatiku."
"Hai, kamu amel cucu dari kakek sultan kan? Tanya pria itu."
"Iya, kamu tahu dari mana? tanyaku tanpa melihat ke arahnya."
Aku putra arfandi, panggil saja putra, aku tahu dari kakekmu, kata putra."
"Apa kamu orang yang akan kakek kenalkan denganku? Tanyaku."
"Iya kamu benar, tapi apa yang sedang kamu lakukan di danau ini? Tanya putra."
"Aku tidak punya pilihan lain selain tempat ini untuk menemaniku dalam hidupku yang kelam, kataku."
"Amel ayo kita berteduh di pohon itu, gerimis dan sebentar lagi akan hujan, kata putra."
"Hujan tidak akan turun, kamu tahu gerimis itu apa? Tanyaku."
"Yang aku tahu gerimis itu sama dengan hujan, kata putra."
"Kamu benar, gerimis adalah hujan yang ragu-ragu untuk turun membasahi bumi tempat dimana seseorang saling menyakiti dan hujan akan berfikir mereka lebih baik tidak turun sebab para wanita di bumi sedang menangis, kataku."
"Andai kamu bisa mengambil sehelai bulu dari sayap malaikat, apa yang akan kamu lakukan dengan bulu tersebut? Tanya putra."
"Aku tidak akan setega itu kepada malaikat, kalau kamu? Tanyaku."
"Aku akan menjadikannya pena untuk mengirim surat agar Tuhan menghilangkan semua kesedihanmu melalui malaikat, kata putra."
__ADS_1