GERIMIS DI MATA HATI

GERIMIS DI MATA HATI
eps. 34


__ADS_3

"Sudah hampir 1 bulan, kata dokter."


"Amel, kamu sudah menyembunyikan hal ini cukup lama, dan aku yakin tidak lama lagi pasti kakek, nenek, dan juga paman surya akan mengetahuinya, karena penyakitmu akan semakin membuat pertahanan tubuhmu menurun, kata putra."


"Aku tahu, tapi aku tetap tidak mau memberitahukannya, kata amel."


"Ya sudah kalau begitu, kata putra."


"Dokter terima kasih, kalau begitu kami pamit pulang dulu, kata amel."


"Iya sama-sama, kata dokter."


"Ayo kita pulang, kamu harus banyak istirahat, kata putra."


"Putra! jangan terlalu memberiku perhatian lebih, karena itu akan membuat mereka merasa curiga, kataku."


"Baiklah, maafkan aku, kata putra."


"Jangan meminta maaf lagi putra, kataku."


Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak mendengar suara putra, dia terlihat sangat focus mengendarai motornya. Aku merasa sedikit aneh karena tidak biasanya putra seperti ini, mungkinkah dia marah padaku karena menyembunyikan hal ini padanya?


Amel, mengapa kamu tidak mengerti juga, aku mengkhawatirkan keadaanmu dan aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku sudah merasa nyaman dengan kehadiranmu di sisiku dan aku tidak ingin kamu pergi meninggalkan aku seperti langit yang kehilangan awan ketika mendung.


Ketika sampai di rumah paman surya, putra tidak lagi melihat diriku dan mengemudi motornya dengan kecepatan yang tinnggi dan itu membuatku khawatir padanya. Aku masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar, aku menangis merenungi kesalahan terbesar yang telah aku lakukan dengan menyembunyikan hal ini pada kakek, nenek, dan juga paman. Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarku dan mendapati diriku sedang menangis.


"Amel sayang, mengapa kamu menangis? Tanya nenek."


"Aku hanya merindukan kedua orang tuaku nek, kataku berbohong pada mereka."


"Tidak biasanya kamu menangis karena merindukan ayah dan ibumu, kata nenek."


"Sudahlah nek, sekarang amel tidak menangis lagi, kataku."


"Baguslah, kamu jangan menangis karena nenek juga ikut merasa sedih jika melihatmu seperti ini, kata nenek."

__ADS_1


"Oh iya, nenek mau apa datang ke kamarku? Tanyaku."


"Nenek hanya mau memastikan kamu baik-baik saja atau tidak, kata nenek."


"Amel baik-baik saja, nenek tidak perluh khawatir ya, kataku."


"Iya-iya sayang, kata nenek."


"Amel mau tidur siang dulu nek, kata amel."


"Tidur yang nyenyak sayang, nenek mau ke dapur dulu, kata nenek."


"Iya nenekku sayang, jangan lupa masak yang enak-enak, kataku."


"Nenek akan buat makanan yang lezat, kalian pasti akan menyukainya, kata nenek."


Aku tidak sanggup menatap wajah nenek dalam waktu yang lama, aku semakin merasa mengambil keputusan yang baik untuk menyembunyikan sakitku darinya. Aku juga tidak berani membayangkan reaksi dari kely, dion, cristofer, dan Aabriella mengetahui jika aku sedang sakit.


Aku merasa sedikit bosan malam ini, jadi aku memutuskan untuk mengirim pesan kepada putra.


"Putra apa kamu sedang sibuk?, tanyaku."


"Aku sedang sibuk, kata putra."


"Kalau mengitu aku minnta maaf telah mengganggumu, balasku."


"Kamu tidak ingin tahu aku sibuk apa? Tanya putra."


"Memangnya kamu sibuk apa? Tanyaku."


"Aku sibuk memikirkan dirimu, sepanjang hari aku hanya memikirkan temanku yang sok pintar, kata putra."


"Apa katamu! aku sok pintar? Tanyaku."


"Memang benarkan kamu sok pintar, kata putra."

__ADS_1


"Terserah apa katamu saja, aku tidak mau lagi mengirim pesan padamu, kataku."


"Jangan marah, aku tidak akan mengulangi ucapanku lagi padamu, kata putra."


"Hahaha...ternyata kamu takut ya kalau aku marah? jangan takut, aku tidak akan marah hanya karena perkataanmu itu, kataku."


"Kamu ini, senang sekali membuat orang merasa salah tingkah, kata putra."


"Benarkah? itu artinya kamu juga pernah salah tingkah karenaku? Tanyaku."


"Tidak! bukan seperti itu, kamu salah paham, kata putra."


"Sudalah jangan berbohong padaku, akui saja kebenarannya, kataku."


"Aku mengaku kalah, kali ini kamu yang memenangkan debat ini, tetapi lain kali aku yang akan memenangkannya, kata putra."


"Siapa takut, aku tidak akan membiarkan kamu menang, kataku."


"Oke, kita tunggu saja perdebatan selanjutnya, kata putra."


"Baiklah, kataku."


"Sudah, lebih baik kamu pergi tidur karena kamu harus banyak istirahat, kata putra."


"Kamu benar, tapi aku belum merasa ngantuk, jadi tidurnya sebentar saja karena aku masih ingin menghirup udara malam yang entah sampai kapan aku bisa merasakannya, kataku."


"Jangan katakan hal seperti itu amel, aku yakin kamu pasti akan sembuh, kata putra."


"Lebih baik kamu yang tidur, karena aku tahu kamu merasa lelah bekerja di restaurant, kataku."


"Baiklah aku tidur duluan ya, kata putra."


"Selamat malam, kataku."


"Selamat malam juga amel, kata putra."

__ADS_1


Bagaimana lagi cara aku mengucapkan terima kasih kepada putra yang menemani hariku bersama penyakit ini. Tidak terasa mata ini benar-benar terlelap tanpa sengaja.


*****


__ADS_2