
Pagi menyambut gugurnya daun yang setelah malam itu semakin kering, dan memilih melepas diri dari tungkai yang selama ini menopangnya.
Saat aku hendak pergi ke toilet, aku sulit untuk menopang tubuhku sendiri. Bahkan aku merasa tubuhku semakin lemah.
Pukul 07:00 putra datang menemuiku setelah semalaman dia tidak bisa tidur dikarenakan memikirkan keadaanku.
"Tokk, tokk, suara ketukan di balik pintu kamarku, aku berusaha bangkit dan turun dari tempat tidur dan mengesot sampai di depan pintu untuk meraih gagang pintu itu. Aku tak sanggup untuk berjalan, maka dari itu aku mengesot."
Saat pintu terbuka, putra terlihat sangat terkejut melihatku dengan wajah yang pucat.
"Amel! kamu kenapa ? mengapa kamu duduk di lantai yang dingin ini dan wajahmu semakin tidak bisa berbohong lagi soal sakitmu, kata putra."
"Putra, bolekah aku meminta satu saja permintaan untuk yang terakhir? tanyaku."
"Tentu saja boleh, memangnya kamu mau meminta apa dariku? Tanya putra sambil menggendongku ke sofa yang ada di kamarku."
"Aku hanya akan mengatakannya di saat waktunya tiba, kata amel yang semakin membuat putra penasaran."
"Baiklah jika itu yang menjadi keinginanmu, dan sekarang lebih baik kamu makan, aku akan ambilkan makanan untukmu, kata putra."
"Putra tunggu! Kataku."
Dan putra berbalik ke arahku dan mengangkat kedua alisnya yang mengisyaratkan sebuah pertanyaan.
"Aku hanya ingin berterima kasih padamu, kataku."
"Sama-sama, kata putra dan melanjutkan perjalannya ke dapur."
"Aku benar-benar tidak lagi bisa menahan sakit di bagian perutku ini."
Tidak lama putra datang dengan membawa semangkuk bubur dari dapur.
"Amel, kamu merasakan sakit itu lagi ya? Tanya putra yang terlihat sangat cemas dan aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan putra."
"Sekarang kita harus ke dokter dan kamu tidak boleh menolaknya dan maafkan aku amel, karena aku tidak lagi bisa menyembunyikan rahasia ini lama-lama. Dan sekaranglah waktunya untuk mereka tahu semua ini, kata putra yang menggendong tubuhku ke dalam mobilnya."
Kakek, nenek, dan paman yang melihat putra menggendongku tersentak kanget dan mulai bertanya sebenarnya apa yang terjadi pada amel.
Putra hanya meminta kakek, nenek dan paman untuk ikut bersamanya ke rumah sakit. Di perjalanan nenek dan kakek tidak henti-hentinya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padaku, namun putra tetap diam.
__ADS_1
Sesampai di rumah sakit, aku langsung di bawah ke ruangan gawat darurat.
"Kakek, nenek, paman, maafkan putra yang sudah menyembunyikan hal besar mengenai amel. Sebenarnya amel mengalami gagal ginjal yang sudah ia rasakan sebulan yang lalu. Amel melarangku untuk memberitahukan semua ini pada kalian karena ia tidak ingin kalian mengkhawatirkannya lagi, kata putra."
"Cucuku, kata kakek yang tak lagi bisa mengeluarkan banyak kata dari bibir dan tubuh gemetarnya itu."
Putra menelfon semua orang yang amel sayangi termasuk ayah dan ibu putra serta kely, dion, cristofer dan Aabriella yang berada jauh darinya.
"Hallo, apa benar ini kely sahabat amel? Tanya putra."
"Iya benar, dan ini siapa ya? Tanya kely."
"Aku putra, teman amel di bandung, aku hanya ingin memberitahukanmu mengenai amel yang kini sedang berada di rumah sakit karena gagal ginjal, kata putra."
"Apa! tidak mungkin, baru beberapa hari yang lalu aku menelfon amel dan emel terdengar baik-baik saja, kata kely yang mulai menangis tidak percaya."
"Amel sengaja tidak memberitahukanmu, karena dia tidak ingin orang-orang yang ia sayangi mengkhawatirkan dirinya, kata putra."
"Baiklah besok aku akan pulang ke Indonesia untuk menemui amel, kata kely sambil menutup telfonnya."
"Ada apa denganmu kely! mengapa kamu menangis setelah menerima telfon? Tanya dion."
"Itu tidak mungkin, sekarang bagaimana keadaan amel? Tanya dion."
"Aku juga belum tahu bagaimana keadaan amel sekarang, yang terpenting kita harus kemali ke Indonesia besok, kata kely."
"Iya, kita harus kembali ke Indonesia demi amel, saat ini amel pasti membutuhkan kita, kata dion."
Baru saja putra akan menghubungi cristofer, dan cristofer terlanjur menghubungi amel, lalu putra menjawab telfon dari cristofer.
"Hallo amel, bagaimana kabarmu di Indonesia? Tanya cristofer."
"Maaf, saya putra teman amel, saya hanya ingin mengabari anda bahwasanya amel sekarang dirawat di rumah sakit terbesar yang ada di bandung, amel mengalami gagal ginjal sejak sebulan yang lalu, kata putra."
"Apa! sebulan yang lalu, berarti amel sudah mengalami gagal ginjal sejak masih ada di prancis, kata cristofer."
"Yang anda katakan benar, dan amel menyembunyikan hal ini kepada semua orang, kata putra."
"Terima kasih atas informasinya, aku akan pergi ke Indonesia besok, kata cristofer."
__ADS_1
*****
(KELY, DION, CRISTOFER DAN AABRIELLA)
Setelah beberapa jam akhirnya pesawat mereka mendarat. Kely dan dion turun dari pesawat dengan perasaan sedih karena ia datang ke Indonesia untuk melihat amel sahabatnya.
Kely berjalan tidak hati-hati sehingga menabrak seorang pria berbadan tinggi.
"I'm sorry, kata kely."
"Tidak apa-apa, kata pria itu."
Kely terkejut mendengar pria bule itu pandai berbahasa Indonesia.
Kely meninggalkan pria itu dengan tersenyum heran. Cristofer dan Aabriella pun pergi menuju stasiun kereta api untuk mengejar kereta yang menuju bandung.
Di stasiun kereta api kely dan cristofer kembali bertemu dan saling berkenalan.
"Hai, kamu orang yang aku tabrak kan waktu di bandara ? Tanya kely."
"Iya, dan kenalin namaku cristofer dan ini Aabriella, kata cristofer."
"Namaku kely dan ini dion dan yang satunya lagi Nicole anak kami, kata kely."
"Anak yang manis, kata cristofer."
"Oh iya, kalian pasti mau ke bandung karena wisata alam yang ada di bandung itu sangat indah dan keren kan? Tanya kely."
"Tujuan kami ke bandung bukan untuk berwisata atau berkuliner, tetapi kami ingin melihat dan menemani sahabat kami yang sedang sakit di bandung, kata cristofer."
"Kok tujuan kita sama ya, kami juga ke bandung untuk menemani sahabat kami sejak SMA, kalau boleh tahu siapa teman kalian yang sakit? Tanya kely."
"Namanya Amelia aiyah putri, seorang penulis yang berkeliling dunia untuk mencari inspirasi tulisannya, kami bertemu di prancis, kata cristofer."
"Amel? kalian kenal dengan amel? amel juga adalah sahabat yang saat ini kami rindukan semenjak lulus kuliah kami berpisah, dan saat pertemuan akan dimulai malah pertemuan melihatnya sedang sakit, kata kely sambil meneteskan air matanya."
"Bagaimana kalau kita pergi bersama saja, kalian juga kan belum tahu daerah sini, kata dion."
"Iya, memang lebih baik seperti itu, kata cristofer."
__ADS_1