GERIMIS DI MATA HATI

GERIMIS DI MATA HATI
eps. 31 BAB 11 DILEMA


__ADS_3

"Tuhan jika engkau menginginkan diriku untuk kembali bersamamu, maka aku ingin bersama orang-orang yang aku sayangi meski dalam waktu yang singkat. Berikan aku waktu dimana aku dapat memberikan mereka kebahagiaan."


"Jika sudah, ayo gulung kertasnya dan ikatkan di tali ini, lalu lepaskan, kata putra."


"Tunggu, aku akan melepaskan balonnya bersama-sama dengan satu permohonan yang kamu buat, kataku."


"Baiklah jika itu mau kamu, kata putra."


"Aku ingin selalu bersamanya, jadikanlah aku malaikat untuk dirinya yang saat ini sangat membutuhkan sosok pelindung." (putra)


Kami pun melepaskan balon itu bersama-sama, bolon itu terbang bebas di langit dengan membawa dua buah surat permohonan aku dan putra.


Setelah itu kami pergi mencari makanan, semua makanan di pinggiran jalan itu sangat lezat.


Untuk pertama kalinya aku makan bakso setelah beberapa tahun lamanya.


"Kamu suka makan bakso? Tanya putra."


"Iya aku suka, tapi aku lebih suka nasi goreng buatan nenek, kataku."


"Kalau begitu besok aku akan mengajakmu membuat nasi goreng bersama di rumah pamanmu, kata putra."


"Kamu serius? Tanyaku."


"Iya aku serius, aku akan membuatkan nasi goreng yang sangat lezat, kata putra."


"Aku merasa sangat bahagia mempunyai teman sepertimu, kataku."


"Aku lebih bahagia karena bisa berteman dengan wanita sebaik dirimu, kata putra."


"Jangan memuji aku seperti ini, kataku."


"Tapi pujian itu pantas buatmu, kata putra."


"Habiskan makananmu, lalu kita pulang, nenek, kakek, dan juga paman surya pasti sudah menungguku, kataku."


"Iya baiklah, kata putra."


Setelah membayar makanan yang sudah kami makan tadi, kami kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku merasakan sakit kepala dan perut seperti waktu itu, aku menahan sakit itu dengan berusaha tersenyum.


Setiba di rumah, aku melihat kakek dan nenek sedang berdiri di teras rumah.


"Putra terima kasih untuk hari ini, aku masuk duluan ya karena kakek dan nenek sudah menungguku, kataku."


"Iya, selamat malam, kata putra."

__ADS_1


"Selamat malam, kataku."


Putrapun pulang ke rumahnya untuk beristirahat setelah seharian menemaniku berjalan-jalan.


Aku tidak tahu mengapa aku mendapatkan kedamaian dalam kegelisahan dan juga kesepian.


09 juni 2018


Putra datang menemuiku untuk menepati ucapan yang kemarin ia katakan padaku. Dia ingin membuatkan aku nasi goreng lezat. Akupun menyambutnya dengan senyuman termanis yang aku punya.


"Sekarang ayo kita ke dapur untuk membuat nasi goreng, kata putra."


"Ayo, aku sudah tidak sabar ingin melihat caramu membuat nasi goreng, kataku."


Aku melihat putra memainkan pisau dengan sangat terlatih, satu persatu bahan mulai ia tumis dan terakhir dia memasukkan nasi. Setelah itu putra selesai menyajikannya dan memberikan nasi goreng itu padaku. Aku mencicipi makan yang ia buatkan untukku.


"Nasi goreng ini sungguh lezat, aku saja tidak bisa membuat nasi goreng selezat buatanmu, kataku."


"Jika kamu mau, aku bisa mengajarimu membuat makanan lezat, asal kamu sungguh-sungguh mau belajar, kata putra."


"Jujur saja, aku belum pernah memasak, nenek tidak memperbolehkan aku untuk memasak di dapur, karena nenek khawatir bila terjadi sesuatu padaku, kataku."


"Kamu beruntung mempunyai kakek, nenek, dan paman yang sangat menyayangi kamu, kata putra."


"Iya aku beruntung memiliki seorang ibu yang luar biasa, dimana orang tua kamu? mengapa aku tidak pernah melihatnya? Tanya putra."


"Ayah dan ibuku pergi meninggalkan aku sejak usiaku lima tahun, mereka menitipkan aku kepada kakek dan nenek untuk dirawat, dan sampai saat ini aku tidak pernah lagi mendengar dimana keberadaannya saat ini, kataku."


"Maafkan aku karena telah mengingatkanmu pada ayah dan ibumu, kata putra."


"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu meminta maaf untuk pertanyaanmu itu, kataku."


"Kamu mau bertemu dengan ayah dan ibuku? Tanya putra."


"Ak..aku mau berkenalan dengan ayah dan ibumu, kataku."


"Kalau begitu ikut denganku sekarang juga, kata putra."


"Tunggu, aku mau mengambil tasku, kataku."


"Baiklah, aku akan berpamitan dengan kakek, nenek, dan paman surya dulu, kata putra."


"Oke, kataku."


"Kakek, nenek, paman surya, aku akan mengajak amel bertemu dengan ayah dan ibuku, kata putra."

__ADS_1


"Ya sudah kamu hati-hati di jalan, kata kakek."


"Iya kek, kata putra."


"Kamu harus janji sama nenek buat menjaga dan melindungi amel, kata nenek."


"Putra janji nek, kata putra."


Kami pun pergi ke rumah putra yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah paman surya. Putra menggandengku masuk ke rumahnya, aku merasa sangat gugup dan takut jika nanti ayah dan ibu putra tidak menyukai diriku.


"Assalamualaikum, ayah, ibu, kata putra."


"Walaikumsalam, putra siapa wanita yang bersamamu? Tanya ibu putra."


"Ini amel bu, cucu dari kakek sultan, kata putra."


"Cantik sekali, dan dia terlihat memiliki hati yang baik pula, kata ibu."


"Yang ibu kamu ucapkan benar sekali, kata ayah putra."


"Terima kasih tante, om, kataku."


"Iya sama-sama sayang, ayo kemari dan duduk di dekat tante, kata ibu putra."


"Ayo kamu tidak perlu takut karena ibuku baik seperti yang pernah aku katakan padamu, kata putra."


"Memangnya apa yang kamu katakan kepadanya mengenai ibu? Tanya ibu putra."


"Rahasia, kata putra."


"Kamu ini ya, kata ibu putra."


"Amel, mengapa kamu tidak mengajak ayah dan ibumu kemari, kata ibu putra."


"Ayah dan ibuku sudah lama meninggalkan aku, mereka pergi tanpa kabar dan entah kemana, mereka hanya menitipkan aku pada kakek dan nenekku saja, aku juga tidak ingat dengan wajah mereka, kataku."


"Sayang sekali mereka meninggalkan anak secantik dan sebaik dirimu, dan mulai hari ini kamu bisa memanggil tante dengan sebutan ibu, kata ibu putra."


"Sungguh, aku merasa sangat senang, kataku."


"Sekarang ayo peluk ibumu ini, kata ibu putra. Aku memeluknya dengan sangat erat dan air mataku membasahi lengan bajunya, aku menangis bahagia merasakan pelukan hangat dari seorang ibu."


"Dan amel, kamu juga bisa memanggil om dengan panggilan ayah, om dulu sangat ingin punya anak perempuan, namun Tuhan memberikan putra pada kami."


"Dan om juga punya kamu, kata ayah putra."

__ADS_1


__ADS_2