
"Yang tidak tahu malu itu kamu, sudah jelas sekali, kalau Al tidak suka padamu! Tapi kamu tetap mengejar Al, kata kely."
Regina kesal dengan ucapan kely dan menamparnya. Semuanya kaget, terutama aku yang berada tepat di samping kely.
"Berani-beraninya kamu bicara seperti itu padaku, kata regina."
"Regina, cukup, kamu itu terlalu kasar, kata dion."
Aku mengejar kely yang lari setelah ditampar oleh regina, sepertinya dia sangat kesakitan, bukan aku saja yang mengejar kely tapi dion dan al ikut denganku mengejar kely. Kami menemukan kely di belakang sekolah sedang menangis dan sesekali mengusap air matanya. Saat aku hendak menghampiri kely, dion menahanku dan memintaku untuk tetap di posisiku, lalu ia pergi menemui kely sendiri disana.
"Kel...kata dion".
"Kamu mau apa lagi kemari? Tanya kely."
"Aku cuman mau memberi botol mineral dingin ini untuk mengurangi rasa sakit bekas tamparan tadi."
"Aku tidak membutuhkan itu semua, aku hanya butuh sendiri dan asal kamu tahu aku membenci dirimu, kata kely."
"Mengapa kamu membenciku? jelaskan padaku, kata dion."
"Aku tidak bisa memberitahumu alasannya, kata kely."
"Baiklah kalau begitu aku juga tidak ada alasan untuk pergi dari tempat ini, kata dion."
"Terserah darimu saja, kata kely."
Mengapa Al diam saja? mengapa dia tidak mengajakku berbincang? Padahal aku sangat ingin bicara berdua dengannya tanpa orang lain. Tapi lama kelamaan al mulai membuka mulut.
"Amel? kata al."
"Iya, jawabku singkat."
__ADS_1
"Ada ulat di kepala kamu, kata al."
"Serius? Tanyaku dengan panik."
"Dimana!...dimana! kataku."
"Di hatiku, kata al."
"Kamu bisa saja, kataku."
Aku tidak menyangka ternyata al pandai juga merayu.
"Kamu tidak perlu terlalu tegang dekat denganku, karena aku masih makan-makanan manusia, kata al."
"Lagi pula kamu terlalu pendiam, jadi aku juga bingung cara mengajakmu bicara, kataku."
Aku bahagia karena selain dion berhasil membuat kely tidak marah lagi, aku juga mendapat rayuan dari Al. Dari orang yang terkenal dengan pendiam dan kecerdasannya itu. Dan bukan hanya itu saja, mereka berdua mau mengajari kami alat musik. Kami sudah menentukan jadwal latihan yaitu setiap pulang sekolah selama 30 menit.
Sepulang sekolah kami langsung pergi ke rumah Al. Kira-kira 15 menit dari sekolah kita sudah sampai di rumah Al, rumahnya bak istana. Besar dan mewah, pasti Al bahagia tinggal di rumah sebesar ini.
"Biasa saja melihatnya, kata kely mengejekku."
Al mempersilahkan kami masuk ke rumahnya. Ternyata di rumah al juga ada ruangan khusus untuk alat musik, hampir semua alat musik ada di ruangan ini.
"Kely kamu duduk di sini, dan aku akan mengajarkan satu persatu kunci gitar, itu untuk pemula sepertimu."
Dengan sabar dion mengajari kely yang memiliki otak tidak jauh berbeda denganku. Al juga mengajariku tehnik-tehnik dalam bermain drum, dia juga terlihat sabar mengajariku.
Di tengah kami latihan tiba-tiba terdengar pecahan kaca yang arahnya dari dapur. Al meminta kami agar tetap berada di ruangan ini, kami tidak boleh keluar. Al pergi melihat keadaan yang terjadi di sana. Kami tidak menuruti perintah Al, kami mengikuti Al dari belakang.
Al menyaksikan orang tuanya bertengkar, kami pun juga ikut menyaksikannya.
__ADS_1
"Kamu pasti jalan dengan wanita lain, aku melihat dengan ekor mataku sendiri, kamu makan berdua di sebuah cafe, kata ibu Al."
"Jangan asal menuduh kamu, mungkin kamu saja yang sedang berselingkuh dengan atasan kamu, kata ayah Al."
"Jangan memutar balik situasi, kata ibu Al."
"Aku berkata yang sebenarnya, kata ayah Al."
"Ayah! ibu! cukup, aku sudah lelah mendengar kalian bertengkar dan saling menuduh seperti ini, aku ingin ayah dan ibu yang dulu, kata Al."
"Semuanya tidak bisa dipertahankan lagi, ayah dan ibu tidak bisa lagi bersama, dan kamu harus memilih untuk ikut bersama siapa, kata ayah Al."
"Tapi...aku tidak bisa hidup terpisah dari ayah dan ibu, aku mau tetap bersama kalian, dan aku tidak bisa memilih salah satu di antara kalian, kata Al."
"Om! Tante! maaf karena kami telah mendengar semuanya secara diam-diam, tapi apa yang dikatakan Al itu benar, kalian sudah saling memilih satu sama lain beberapa tahun lalu, kalian yang memutuskan untuk menikah, dan kalian juga sudah memiliki Al yang cerdas, apa hanya karena kalian saling mencurigai satu sama lain, lalu kalian akan mengorbankan putra dan masa lalu kalian? Aku bisa merasakan apa yang Al rasakan saat ini, tapi Al masih termasuk orang yang beruntung ketimbang diriku. Aku ditinggalkan ayah dan ibuku saat usiaku lima tahun, mereka menitipkan aku pada kakek dan nenekku. Nenek dan kakeklah yang membesarkan aku sampai seperti ini.
Entah apa alasan dari ayah dan ibuku meninggalkan aku. Tanpa mereka pernah berfikir anaknya meraung-raung mencarinya. Kalian ingat masa-masa di mana kalian menantikan buah hati dan sekarang buah hati kalian sudah tumbuh dewasa lalu kalian juga akan meninggalkannya? Tanyaku."
"Yang kamu katakan benar nak, kami menantikan buah hati dalam waktu yang sangat lama. Mungkin memang seharusnya aku tidak langsung mengambil keputusan tanpa mendengar alasannya terlebih dulu, kata ayah Al."
"Kamu gadis yang cantik dan juga baik hati, kamu dapat mengetuk batin tante dengan semua ucapanmu, tante juga seharusnya tidak cepat mengambil keputusan."
"Mas maafkan aku, kata ibu Al."
"Aku juga minta maaf, kata ayah al sambil memeluk istrinya."
"Amel terima kasih, karena sudah membuat mereka mengubah fikiran untuk tidak berpisah, kata Al."
"Iya sama-sama, aku tidak ingin kamu bernasib sama dengan sepertiku, kataku."
"Kalau begitu aku pamit pulang, sudah hampir sore, kakek dan nenek pasti sudah mencariku, kataku."
__ADS_1
"Baiklah, biar aku mengantarmu pulang, kata Al."
"Terus aku pulang dengan siapa? Tanya kely."