
Pagi harinya, ketika ayah Al, al, dan dion belum bangun. Aku, kely dan ibu Al. memasak sarapan untuk mereka. Kami membuat nasi goreng, dan juga susu. Tidak lama setelah itu mereka bangun dan pergi ke dapur karena mencium aroma wangi dari nasi goreng buatan kami.
Kami makan bersama dengan sangat lahap, setelah makan kami pergi menyiram tanaman yang ada di taman. Berbagai jenis bunga ada di taman ini termasuk bunga matahari yang aku suka. Aku juga tidak mengerti mengapa bisa aku menyukai bunga matahari. Kami menyiram bunga-bunga dengan semangat pagi. Ibu Al juga tidak mau momen ini terlupakan oleh sebab itu ia merekam semua yang kami lakukan dari camping hingga menyiram tanaman.
Hari mulai sore, aku, kely, dan dion harus pulang ke rumah.
"Om, tante, Al, kami pamit pulang, kataku."
"Jangan malu untuk main lagi kemari, kata ibu Al."
"Iya tante, kata kely."
"Asal tante masak buat kita lagi, kata dion."
Kami pun pulang diantar oleh supir mereka. Sesampai di rumah kakek dan nenek memintaku untuk berkemas, aku tidak tahu mengapa.
"Untuk apa amel berkemas? memangnya kita mau pergi kemana?, Tanyaku."
"Kita akan pindah ke bandung, kita tidak lagi bisa tinggal di rumah ini, kata kakek."
"Tapi kek, amel tetap mau di sini, amel tidak mau pindah ke bandung, kata ku."
"Amel, kamu harus mengerti keadaan kita, kakek dan nenek tidak mampu membayar uang kontrakan rumah ini lagi, kata nenek."
"Apa harus hari ini kita pergi? apa tidak bisa besok saja setelah amel pulang dari sekolah? Tanyaku."
"Baiklah kalau itu mau kamu, kita akan pergi besok."
__ADS_1
Aku mengemas semua barang-barangku, termasuk foto kami berempat yang selalu aku pajang, aku juga mengambil semua barang-barang yang Al berikan. Mengapa ini semua terjadi di saat Al sudah benar-benar menjadi kekasihku? Bagaimana cara aku menjelaskan kepada mereka, aku tidak ingin berpisah dengan mereka. Tapi aku juga tidak bisa memaksa kakek dan nenek untuk tinggal disini.
Setelah selesai mengemas barang-barangku. Aku membaringkan tubuhku dan terlelap dalam kesedihan.
Esok harinya aku pergi ke sekolah dengan wajah kusam dan mata bengkak akibat menangis semalaman. Aku masuk ke dalam kelas dan menemui kely dan dion yang sedang duduk berdua.
"Amel, kamu kenapa? Kok mata kamu bengkak dan wajahmu juga kusam? Tanya kely."
"Ayo duduk dan ceritakan pada kami, kata dion."
"Al dimana? Tanyaku."
"Al tidak mengabarimu? dia dipanggil untuk mengikuti lomba olimpiade matematika, kata dion."
"Mungkin ini terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di sekolahan ini, sepulang sekolah aku akan pindah ke bandung bersama kakek dan nenekku. Dan aku akan mulai bersekolah di sana, kataku."
"Karena kakek dan nenekku sudah terlalu tua untuk bekerja dan mereka sudah tidak sanggup membayar uang kontrakan, kami akan pindah kerumah paman, kakak dari ibuku, kataku."
"Bagaimana dengan Al? apa dia sudah tahu? Tanya dion."
"Aku belum memberitahunya, dan apa kalian mau membantuku membuat suatu video untuk al? Tanyaku."
"Kami pasti akan membantumu, kata kely dan dion serentak."
Dion telah mengaktifkan tombol video di handphonenya dan aku mulai berkata "Ghozali al gaffar, aku ingin menemuimu pagi ini di sekolah dan ternyata kamu pergi untuk sekolah dalam perlombaan olimpiade matematika. Aku do'a kan semoga kamu berhasil dalam lomba itu maupun lomba lainnya, terima kasih untuk setahun lebih ini, aku bahagia bisa bersamamu.
Namun ada kenyataan pahit yang harus aku katakan, aku akan pergi dan melanjutkan pendidikan di bandung. Tapi satu hal yang perluh kamu tahu, aku akan tetap mencintaimu meski dalam jarak yang berbeda.
__ADS_1
Aku tidak tahu denganmu, apakah kamu juga akan tetap mempertahan cinta ini atau tidak. Maafkan aku yang pergi tanpa sepengetahuanmu."
Aku melihat kely dan dion menangis haru di balik camera. Aku tahu mereka merasakan apa yang aku rasakan, mereka adalah sahabatku.
Aku berpisah dengan mereka sampai disini. Aku harus pergi karena kakek dan nenek sudah menjemputku. Aku melihat kely yang berlari dan memeluk tubuhku dengat sangat erat dan air mata yang mengalir di pipinya.
"Amel kamu harus janji akan kembali lagi bersama kami di Jakarta, kamu tidak boleh tinggal di bandung selamanya, kata kely."
"Aku akan kembali menemui kalian, aku janji, kataku" Akhirnya kely melepasku dan mobil yang kami kendarai membawaku jauh dari mereka.
*****
(KELY, DION, & AL)
Al kembali ke sekolah setelah beberapa menit yang lalu aku meninggalkan sekolah. Al Nampak bahagia karena bisa memenangkan olimpiade matematika tersebut, namun kebahagiannya seketika terhenti saat melihat kely dan dion masih ada di sekolah dan wajahnya terlihat jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
"Kely, dion, kalian kenapa? dan kenapa kalian belum pulang? oh iya amel di mana? Tanya Al."
"Kami hanya bisa memperlihatkan ini untuk menjawab semua pertanyaanmu, kata dion."
"Apa ini? Tanya Al."
"Kamu lihat sendiri, kata dion."
Setelah al melihatnya, air matanya seketika jatuh tanpa aku bisa menadah air mata itu. Al juga menjatuhkan pialanya dan meninggalkan kely dan dion tanpa sepatah kata pun. Al pergi untuk menngejarku ke stasiun, sampai di sana Al tidak lagi menemukanku, sebab dia terlamat. Kereta yang aku tumpangi sudah berangkat 5 menit lalu. Al menggaruk-garuk kepalanya dan merasa belum percaya jika aku pergi meninggalkannya.
Hari-hariku sepi tanpa mereka lagi di sisiku, dan begitu juga mereka, hari-harinya menyepi tanpa hadirku. Aku bersekolah di SMA KARYA 1 yang jaraknya sangat dekat dengan rumah paman. Tidak terasa waktu berjalan, sekarang kami sudah di ujung puncak penentuan masa depan. Ujian nasional sudah semakin dekat, kami juga sudah memikirkan di mana kami akan melanjutkan pendidikan. Aku memutuskan untuk bersekolah lagi di universitas yang ada di Jakarta.
__ADS_1