GERIMIS DI MATA HATI

GERIMIS DI MATA HATI
eps. 30


__ADS_3

"Langit akan selalu membutuhkan awan dan awan akan selalu setia bersama langit meski itu dalam keadaan terang maupun gelap, mereka selalu bersama tanpa kita sadari itu, dan kamu ibarat langitnya sedangkan aku adalah awan yang tidak akan membiarkanmu sendiri, kata putra."


"Terima kasih putra karena kamu mau menjadi temanku, kataku."


"Iya sama-sama, kata putra."


"Aku mau bertanya sesuatu padamu, kata putra."


"Kamu bertanya soal apa? Kataku."


"Mengapa wajahmu terlihat begitu pucat? Tanya putra."


"Mungkin karena aku terlalu lelah, kataku."


"Begitu ya, kata putra."


"Sebaiknya kamu pulang saja karena ini juga sudah malam dan udaranya semakin dingin, kataku."


"Kalau begitu aku pulang dulu, kata putra."


"Iya, kamu hati-hati di jalan, kataku."


"Oke, kata putra."


Aku kembali ke kamar dengan jalan perlahan karena kepalaku yang sakit, kubaringkan tubuhku di tempat tidur lalu memandangi foto sahabat-sahabatku serta tiga orang penting di dalam hidupku yang telah meninggalkan aku. Air mataku kembali mengalir mengingat semua yang pernah aku lalui bersama mereka.


*****


Putra datang menemuiku di rumah paman, putra bermaksud ingin mengajakku ke suatu tempat yang indah. Aku percaya tempatnya akan indah karena sekarang aku ada di bandung yang juga terkenal dengan wisata alamnya.


Putra memintaku untuk naik ke mobilnya sementara ia harus berpamitan terlebih dulu pada kakek, nenek, dan juga paman surya. Di dalam mobil putra memutar lagu "Bukti-Virgoun."

__ADS_1


"Apa kamu menyukai lagu ini? Tanyaku."


"Tentu, semua orang juga menyukai lagu ini, dan kamu sendiri suka lagu apa? Tanya putra."


"Aku juga suka lagu ini, tapi aku juga suka mendengar dan menyanyikan lagu "dia dari anji" kataku."


"Selera music dan lagu kita ternyata sama, kata putra."


"Iya kamu benar, kataku."


Kami tiba di tempat yang sedikit tinggi namun kita akan menyaksikan keindahan alam dari tempat ini. Untuk pertama kalinya aku pergi ke tempat setinggi ini, tempat ini sungguh luar biasa.


"Apa kamu bisa merasakan sentuhan angin di kulitmu? Tanya putra."


"Iya aku bisa merasakan halusnya angin yang menggelitik kulitku, kataku."


"Kamu tahu apa yang akan aku lakukan jika kita terjatuh di tempat setinggi ini? Tanya putra."


"Aku akan meminta malaikat agar mau meminjamkan sayapnya padaku untuk menyelamatkan kamu, kata putra."


"Jika malaikat tidak ingin meminjamkan sayapnya padamu? Tanyaku."


"Aku akan menarik tanganmu dan berlari melompati satu persatu awan yang menggantung di atas sana, kata putra."


"Kamu belajar kata-kata seperti itu dari mana? Tanyaku."


"Dari sini, kata putra sambil menaru kepalan tangan di dadanya."


"Apa artinya itu? Tanyaku."


"Semuanya dari hati, kata putra."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum mendengarnya, dia bisa membuatku merasa dihargai sebagai seorang wanita. Dia pandai dalam menghibur diriku, dia juga begitu baik padaku.


Setelah puas melihat pemandangan, putra memintaku untuk turun ke bawah dan mencari sesuatu yang lebih menyenangkan. Aku melihat balon berwarna-warni yang mengingatkan aku pada Al yang dulu menyatakan cinta kepadaku dengan puluhan balon gas yang indah, putra memegang pundakku bermaksud menyadarkan aku dari lamunanku.


"Kamu tidak apa-apakan? Tanya putra."


"Aku tidak apa-apa, kataku."


"Kamu mau balon itu? Tanya putra."


"Bukan, bukan seperti itu, aku tidak ingin merepotkanmu, kataku."


"Hal seperti itu tidak akan merepotkan aku sama sekali, kata putra."


"Terima kasih putra, kau sudah sangat baik padaku."


"Aku sudah tidak bisa lagi menghitung berapa banyak kata terima kasih yang kamu berikan kepadaku, kata putra."


"Kamu membuat aku merasa malu, kataku."


Putra pergi menemui orang yang menjual balon gas terebut, dan membeli semua balon itu. Lalu putra kembali berjalan ke arahku dengan memegang puluhan balon yang sebagian menutupi wajahnya.


Aku membantunya untuk memegang balon itu agar putra tidak terlalu pusing membawanya.


"Sekarang letakkan balon itu disini, kata putra."


Akupun meletakkan balonnya di tempat yang putra pilih, lalu ia memberiku selembar kertas agar aku bisa menulis satu permohonan.


"Kamu ambil kertas ini dan tulislah satu permohonan, kata putra."


"Baiklah, aku akan menulis satu permohonan di kertas ini, kataku"

__ADS_1


__ADS_2