
Pandangan Debby sedari tadi tak pernah terlepas dari laki-laki di depannya yang kini terlihat begitu serius dengan tumpukan dokumen di kerasannya. Debby tak mengetahui tentang dokumen tersebut, entah dokumen perusahaan ataupun dokumen kerajaan.
“Apa pekerjaanmu juga harus menggunakan dokumen?” tanya Debby dengan pelan pada Eric.
Tanpa menoleh ke arah Debby, Eric menjawabnya dengan anggukan. Mendengar itu, Debby jadi penasaran apa isi dari dokumen itu. Apa tentang pencatatan penduduk berapa banyak yang lucifer dan berapa banyak makhluk lainnya?
“Eric apa kau bisa sihir?” tanya Debby lagi. Ia merasa bosan jika hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun dan tak ada teman berbicara.
“Ya,” ucap Eric singkat. Mendengar jawaban Eric yang begitu singkat Debby berdecak menatap kesal pada laki-laki di depannya itu. Tak tahukah laki-laki itu jika kini ia tengah bosan?
“Eric, kapan kita akan kembali ke dunia ku?” tanya Debby dengan tatapan memohonnya pada Eric. Eric yang mendengar pertanyaan Debby segera menoleh ke arah gadis tersebut dengan tatapan seriusnya.
“Untuk apa lagi kita kembali? Kau akan segera di nobat kan. Jadi lebih baik kau membiasakan diri di sini,” ucap Eric dengan tegas yang sontak membuat Debby menggeleng tak setuju mendengar ucapan Eric. Tidak, setidak nya untuk saat ini ia masih ingin untuk menikmati dunia luar.
“Tidak Eric. Aku masih ingin melanjutkan kuliahku Eric,” ucap Debby dengan tatapan kesalnya pada Eric yang kini hanya menatap datar pada Debby.
“Eric, aku mohon. Aku ingin untuk melanjutkan kuliahku. Lagi pula bukankah kau juga mengatakan akan datang ke rumahku untuk melamarku? Kau juga memiliki perusahaan di sini, jadi bisakah kita kembali ke dunia manusia? Setidak nya sampai kuliah ku lulus,” mohon Debby pada Eric dengan tatapan penuh harapan berharap laki-laki itu mau untuk menuruti permintaannya untuk kali ini.
Eric menghembuskan nafasnya kasar, seolah tengah memikirkannya.
“Baiklah, aku akan memikirkannya. Sekarang lebih baik kau istirahat. Ini sudah malam. Besok aku akan mengajakmu jalan-jalan keluar istana,” ucap Eric yang membuat Debby kini membelalakkan matanya tak percaya mendengar ucapan Eric.
“Benarkah?” tanya Debby dengan tatapan tak percaya nya yang di jawab dengan anggukan oleh Eric. Mendengar jawaban tersebut Debby menatap Eric dengan tatapan bahagia. Ia begitu senang karena laki-laki itu mau untuk mengajaknya jalan-jalan.
__ADS_1
“Terima kasih Eric, aku pergi dulu,” ucap Debby yang setelahnya segera pergi. Di depan pintu ruang kerja Eric kini sudah banyak pengawal dan pelayan yang menunggu. Hingga akhirnya ia segera pergi menuju kamarnya bersama dengan pelayan yang kini mengantarnya menuju kamar gadis itu.
Senyumannya tak pernah luntur dari wajah gadis itu. Bahkan pelayan nya kini bertanya-tanya ada apa dengan Debby.
***
Sesuai yang telah Eric janjikan. Pagi ini laki-laki itu mengajaknya untuk pergi ke pasar yang berada di dalam lingkungan tersebut. Mereka kini pergi dengan menyamar menjadi rakyat biasa namun tetap dengan membawa satu pelayan dan juga pengawal Eric.
Tatapan Debby kini menatap tak percaya tempat di depannya itu. Ia tak percaya jika yang ada di depannya kini adalah sebuah perkampungan yang bukanlah manusia.
“Eric, apa mereka semua Lucifer?” tanya Debby dengan tatapan nya yang kini melihat ke segala penjuri pasar tersebut. Kini banyak yang menatap Debby dengan tatapan penasarannya bahkan ada yang menatap Debby dengan tatapan lapar. Semua itu jelas karena Debby yang adalah manusia malah masuk ke dalam dunia seperti ini.
“Tidak, ada beberapa dari mereka yang merupakan campuran antara dua makhluk atau lebih,” jelas Eric yang membuat Debby kini menganggukkan kepalanya mengerti.
Pasar di tempat itu memang cukup kuno begitupun dengan pakaian yang mereka kenakan. Walau beberapa ada yang sudah menggunakan pakaian modern dan menggunakan bisnis modern dalam pasar itu namun masih banyak yang tertinggal.
“Kau adalah pengusaha yang begitu terkenal di dunia manusia, apa kau tak ingin membangun istana mu ini menjadi seperti perkotaan?” tanya Debby pada Eric dengan tatapan seriusnya yang kini dijawab dengan gelengan oleh Eric.
“Masih banyak yang harus aku benahi. Jika semua biaya pembangunan digunakan untuk membuat mall ataupun tempat perbelanjaan besar maka aku membutuhkan biaya yang besar juga membutuhkan kerja sama dari rakyat,” ucap Eric menjelaskan pada Debby yang kini terlihat berpikir apa yang dimaksud oleh Eric.
“Bukankah kau sudah begitu kaya?” tanya Debby dengan tatapan seriusnya pada Eric.
“Kekayaan ku masih belum cukup untuk membangun sebuah negara,” kesal Eric pada Debby yang kini menyengir mendengar ucapan Eric.
__ADS_1
“Lagi pula pandangan masyarakat di kota berbeda dengan di sini. Namun aku memang sudah merencanakannya. Namun baru di pusat kota, bukankah kau sudah melihat bangunan di sekitar istana sudah modern?” tanya Eric yang Debby balas dengan anggukan.
Memang bangunana di sekitar istana ataupun perumahan di sana sudah modern. Banyak alat canggih yang sudah mulai digunakan.
“Apa juga akan ada kendaraan di dunia mu?” tanya Debby dengan tatapan penasarannya pada Eric.
“Untuk apa? Bahkan kita bisa berlari, terbang, dan berteleportasi,” ucap Eric sombong yang membuat Debby berdecih mendengar ucapan laki-laki itu.
“Lalu bagaimana dengan perjalanan jauh? Pasti kalian akan bosan,” ucap Debby dengan begitu mengejeknya pada Eric yang kini malah terkekeh mendengar ucapan Debby.
“Kami memiliki kendaraan. Bahkan ada mobil dan kereta. Hanya saja memang tak semua memilikinya. Hanya kerajaan dan para orang kaya yang memiliki nya,” ucap Eric menjelaskan yang membuat Debby selanjutnya menjawabnya dengan anggukan.
Selama di perjalanan mengelilingi pasar Debby sesekali berhenti di sebuah kedai untuk melihat barang-barang yang berada di sana. Atau mencoba makanan di sana. Jika enak ia akan membelinya. Bahkan mereka juga bisa memasak makanan dengan enak. Mereka memang begitu pintar.
“Masakan kaum mu begitu enak,” ucap Debby dengan senyumannya sambil memperlihat kan makananya pada Eric yang hanya menggeleng melihatnya.
“Jelas saja, semua daging di sini adalah daging segar yang mereka dapatkan dari hasil berburu,” ucap Eric menjelaskan yang Debby balas dengan anggukan. Di tangannya kini sudah begitu banyak makanan. Bahkan ia juga memberikan nya pada Osmic yang kini menemaninya.
“Aku tak tahu jika seorang lucifer bisa memakan makanan seperti ini,” ucap Debby dengan senyumannya sambil memakan makananya dengan begitu lahap.
“Kami hanya mengikuti kebiasaan manusia saja. Kami jelas bisa bertahan walau tidak makan atau minum, bahkan kami bisa tidak tidur. Yang kami perlukan hanya energi yang kami dapat dari sikap negatif seseorang agar kami bertambah kuat,” jelas Eric yang lagi-lagi hanya Debby balas dengan anggukan.
Dan hari itu mereka habiskan dengan berjalan-jalan di pasar. Setelah Debby merasa puas barulah mereka kembali ke istana dengan Debby yang sudah banyak membawa belanjaan dan juga makanan yang ia beli. Eric yang melihatnya bahkan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
***