Ghost Husband

Ghost Husband
τριάντα δύο


__ADS_3

Eric kini tengah merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memainkan ipad nya untuk melihat dokumen yang berada di sana dengan paha Debby sebagai bantalannya. Sedangkan Debby kini tengah sibuk membaca buku yang akan digunakan untuk referensi dari skripsi yang sedikit lagi selesai.


“Besok aku tidak ada kelas. Aku jadi begitu besok. Kau mau menemani ku jalan-jalan?” tanya Debby pada Eric. Eric menurunkan iPad nya lalu menatap ke arah Debby yang kini juga tenga menatap ke arah nya.


“Tidak. Besok aku ada rapat penting. Lebih baik kau ikut aku ke kantor. Setelah selesai aku bisa menemani mu,” ucap Eric pada Debby memberikan sebuah saran agar gadis itu bisa mempertimbangkannya.


Debby terlihat terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawabnya dengan anggika. Debby pikir akan lebih baik jika ia ikut Eric, dan berharap bisa menghilangkan bosan nya. Dari pada ia hanya tinggal di rumah dan tidak melakukan apapun.


Setidaknya kini ia butuh refreshing dan sedikit hiburan setelah ia di sibuk kan dengan berbagai skripsi yang menunggu untuk ia selesaikan. Debby menjawabnya pertanyaan Eric dengan angguka.


“Apa tak masalah jika aku ikut dengan mu?” tanya Debby sambil menaikkan sebelah alisnya menatap Eric dengan penuh tanda tanya.


“Tidak masalah, lagipula siapa yang akan melarang? Aku adalah pemiliknya,” ucap Eric dengan begitu santainya yang membuat Debby berdecih mendengar ucapan Eric yang begitu penuh percaya diri.


“Baiklah,” ucap Debby dengan senyumannya dan menganggukkan kepalanya.


“Turun lah dulu, aku ingin mengambil laptop ku,” ucap Debby pada Eric. Dengan patuh laki-laki bangun dari posisinya namun baru saja Debby akan beranjak dari tempat nya. Eric justru menarik nya dan merebahkannya di samping laki-laki itu.


“Ini sudah malam. Lebih baik kita istirahat,” ucap Eric pada Dabby sambil memeluk gadisnya itu dan memejamkan matanya. Debby yang melihat hal itu menggelengkan kepalanya.


“Apa Lucifer juga butuh tidur?” tanya Debby degan begitu penasarannya pada Eric.


“Tidak, hanya saja kami melakukannya sekedar mengisi energi. Kami tidak akan mengantuk,” ucap Eric menjelaskan yang dibalas dengan anggukan oleh Debby. Namun tak lama gadis itu menaikkan sebelah alisnya.


“Lalu mengapa kau mengajakku untuk tidak, jika kau sendiri tak mengantuk?’ tanya Debby dengan memicingkan matanya menatap curiga pada laki-laki di depannya itu.


“Aku hanya ingin untuk memelukmu lebih lama,” ucap Eric pada Debby dengan semakin memeluk dan semakin menelusupkan wajahnya di dalam ceruk leher Debby yang membuat Debby merasa geli.

__ADS_1


“Hentikan Eric,” ucap Debby pada Eric namun Eric sama sekali tidak memperdulikannya dan tetap melakukan apa yang ia mau.


“Eric,” ucap Debby pada Eric lagi agar laki-laki itu menghentikan aksinya namun Eric tetap saja gencar menggoda Debby.


“Aku menginginkan mu Debby,” ucap Eric sambil berbisik di telinga gadis tersebut. Debby hanya diam sambil melenguh. Hingga malam itu ia benar-benar menyerahkan kehormatannya pada Eric.


Entah seberapa besar rasa percayanya ada Eric. Namun pada akhirnya ia benar-benar mempercayai Eric dan memberikan apa yang telah ia jaga selama ini pada Eric. Pada laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


***


Pagi ini Debby bangun dengan tubuhnya yang terasa begitu sakit. Tadi malam mereka melakukannya dengan Eric yang begitu bersemangat melakukannya. Debby menarik nafasnya dalam. Tadi malam ia seolah bukan dirinya.


“Kau sudah bangu?” tanya Eric yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Debby yang kini terlihat hanya menatap lurus ke arah depan. Debby melihat ke arah Eric dengan tatapan tajamnya yang seolah siap membunuh Eric kapan saja.


“Apa yang kau lakukan pada ku? Apa kau memiliki ilmu hipnotis?” tanya Debby dengan memicingkan matanya curiga ke arah Eric yang kini hanya bisa memutar bola matanya malas mendengar tuduhan dari gadis di depannya itu.


“Hentikan omong kosongmu Eric. Kau Lucifer jelas kau lah yang memiliki sihir,” tunjuk Debby pada Eric tanpa rasa takut nya.


Eric kini malah menyeringai mendengar ucapan Debby. Melihat Debby yang kini menatapnya dengan tajam dan gadis itu yang memegangi selimut untuk menutupi dirinya yang masih polos membuat Eric begitu gemas melihat nya.


Laki-laki itu kini semakin mendekatkan dirinya pada Debby, Menggoda wanita nya itu. Jarak antara Debby da Eric kini bahkan semakin dekat membuat Debby terus memundurkan dirinya berusaha menghindar dari Debby.


“Tadi malam, kau begitu ganas sayang. Aku menyukainya,” ucap Eric yang setelahnya langsung mencuri cium dari Debby.


Debby yang melihat nya memelototkan matanya. Eric yang melihat tanda-tanda jika Debby akan murka langsung pergi dari sana sebelum ia terkena amukan wanita nya itu.


“Eric,” teriak Debby pada Eric yang kini sudah keluar dari kamar nya.

__ADS_1


Eric yang masih bisa untuk mendengar nya hanya terkekeh mendengar nya. Debby pasti saat ia tengah marah padanya. Memikirkan bagaimana wajah marah wanita nya itu yang begitu menggemaskan membuat Eric terkekeh.


Arthur yang menunggu Debby di bawah lift kini mengerutkan kening nya saat melihat Eric yang terus saja tersenyum setelah keluar dari Lift. Namun ia tak berani untuk menanyakannya karena itu adalah privasi Eric.


“Tuan, rapat pagi ini jam sembilan,” ucap Arthur pada Eric sambil berjalan bersama dengan laki-laki tersebut.


“Debby akan ikut bersama kita, jadi urus penjagaan yang ketat,” ucap Eric pada Arthur yang langsung menjawabnya dengan anggukan.


“Baik Tuan,” ucap Arthur yang setelahnya terus mengikuti Eric menuju ruang makan.


Selama itu mereka terus membicarakan tentang pekerjaan juga tentang masalah kerajaan yang baru-baru ini terjadi. Hingga tak lama Debby berjalan ke arah mereka dengan langkah nya yang kesulitan.


Eric yang melihat hal tersebut mengulum senyumnya berbeda dengan arthur yang terlihat bingung dengan keadaan Debby.


“Nyonya, Anda baik-baik saja?” tanya Arthur dengan tatapan khawatirnya pada Debby. Memang jika mereka berada di dunia manusia Arthur menyesuaikan panggilannya pada Debby dan juga Eric.


“Tidak, hanya karena tadi malam aku digigit oleh tikus saja,” ucap Debby dengan senyuman menenangkannya pada Arthur yan kini terkejut mendengar jika di mansion mereka ada hewan yang berani melukai Nyonya rumah mereka.


Sedangkan Eric kini sudah menatap tajam pada Debby yang kini malah mengabaikannya dan tetap saja berjalan dengan santai menuju ke arah kursinya.


“Kau tak ikut makan bersama?” tanya Debby pada Arthur yang kini hanya diam saja berdiri di belakang Eric.


“Tidak Nyonya, Anda nikmati saja makanan Anda,” ucap Arthur dengan begitu sopan pada Debby.


“Duduklah, ini bukan di kerajaan. Mari sarapan bersama,” ucap Debby dengan begitu santainya. Arthur terlihat melihat ke arah Eric terlebih dulu sebelum akhirnya ia segera duduk di depan Debby dan mereka makan bersama.


***

__ADS_1


__ADS_2