
Debby tak pernah menyangka jika pada akhirnya ia akan berada di posisi ini. Menjumpai hari bahagianya sendiri. Hari ini Queena sudah tampak cantik dengan gaun berwarna putih yang terlihat membalut tubuhnya dengan begitu sempurna. Senyum nya kii tak pernah luntur melihat laki-laki yang kini berdiri tak jauh dari nya. Menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut.
Disampingnya kini sang ayah juga tampak tak kalah tampan dengan jas hitam nya. Tatapan ayahnya kini begitu terharu melihat anak satu-satu nya kimi akhirnya akan menikah dengan laki-laki yang begitu mencintainya.
“Kau yakin untuk bersama nya?” tanya Pater sekali lagi pada anaknya itu yang kini menoleh ke arah ayahnya itu sambil terkekeh.
“Pa, papa sudah bertanya tentang ini berkali-kali dan jawaban ku tetap sama. Lagi pula aku dan Eric juga sudah menikah dengan sah secara hukum,” ucap Debby berusaha menenangkan ayahnya itu yang membuat Pater menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya dan segera berjalan untuk mengantar anaknya itu ke arah pelaminan yang kini sudah ada Eric yang menunggunya.
“Eric sekarang aku serahkan anak ku pada mu, aku harap kau bisa menjaganya dengan baik dan tidak pernah menyakiti anak ku. Jangan membuat nya menangis. Jika kau sudah tidak lagi mencintai nya, maka katakan pada ku jangan katakan padanya karena aku akan segera membawanya pergi,” ucap Pater berpesan pada Eric sambil menyerahkan tangan anaknya pada Eric. Mendengar hal tersebut Eric tersenyum dan mengambil alih tangan Debby.
“Kau tenang saja Pa, aku tak akan menyakitinya dan aku pastikan kau tak akan bisa membawanya pergi,” ucap Eric dengan senyumannya dengan tatapannya kini menatap lurus ke arah Debby, menatap wanitanya itu dengan begitu lembut nya.
Rasanya kini ia begitu bahagia karena setelah berbagai hal yang terjadi dan membuat pernikahan mereka di tunda kini akhirnya ia bisa menikahi wanita yang sudah dicintainya begitu lama. Kini akhirnya ia bisa menjadikan Debby menjadi miliknya seutuhnya.
“Terima kasih karena telah menerima ku menjadi suamimu, Debby,” ucap Eric pada Debby dengan senyumannya dan menggenggam kedua tangan istrinya itu.
“Terima kasih karena tetap mencintai ku dalam waktu yang lama Eric,” ucap Debby pada Eric yang di balas dengan senyuman dan anggukan oleh laki-laki itu.
Tanpa mereka ketahui di ujung ruangan kini ada yang menatap mereka dengan tatapan terluka. Tatapannya yang terlihat begitu sendu sarat akan luka dan penyesalan. Kita tak ada yang dapat ia lakukan selain melindungi dan menjaga wanita itu dari jauh. Wanita yang sampai saat ini masih menjadi wanita yang begitu penting untuk nya.
__ADS_1
Setelahnya Eric menggiring Debby untuk menuju tempat mereka akan melempar karangan bunga yang Debby bawa. Hingga dalam hitungan ketiga Debby segera melempar karangan bunga tersebut, kalau membalikkan badannya untuk melihat siapa yang mendapatkannya.
Mata Eric dan Debby sontak membelalak saat yang mendapatkan karangan bunga itu adalah Arthur. Bahkan Arthur berdiri di bagian belakang dan tidak berniat untuk ikut berebut karangan bunga itu, ia hanya berdiri di sana karena dipaksa oleh Debby.
“:Arthur kau memang sudah tua dan harus segera menikah,” ucap Debby dengan tawanya yang membuat laki-laki itu kini semakin membelalakkan matanya lalu kembali melempar bunga tersebut.
“Michele?” tanya Debby tak percaya saat melihat orang yang kini menangkap karangan bunga itu adalah Michele.
***
Debby kini merebahkan tubuhnya di ranjang king size hotel. Ingatannya kini kembali padi Michelle yang tiba-tiba muncul di hari pernikahannya. Ingin sekali padahal Debby menghampiri gadis itu, namun Eric malah menahannya dan melarang nya, Debby akhirnya hanya bisa menurut saja.
“Aku sudah meminta Arthur untuk mencari tahu. Dan ternyata dia adalah anak dari rekan bisnis ayah mu,” ucap Eric menjelaskan pada Debby yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Eric. Tak heran memang mereka mengundang banyak sekali tamu untuk acara pernikahan mereka, entah dari rekan kerja ataupun dari keluarga dan teman mereka.
“Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Lebih baik sekarang kini nikmati waktu kita,” ucap Eric yang kini berjalan ke arah Debby lalu segera memeluk Debby dengan ikut berbaring di samping wanita nya itu.
Eric kini bahkan sudah mengendus leher Debby yang membuat Debby merasa begitu geli. Hingga malam itu akhirnya mereka menghabiskan waktu mereka dengans saling menyelami kenikmatan dunia.
Paginya Debby dibuat kebingungan saat ia terbangun kini ia bukan lagi berada di kamar hotel melainkan sebuah kamar luas yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Debby melihat ke arah tubuhnya dan ternyata ia sudah menggunakan gaun tidur berbahan satin.
__ADS_1
Debby segera turun dari ranjang nya untuk melihat ke arah luar. Hingga matanya dibuat memelotot saat tahu jika kini ia berada di kerajaan Eric.
Wanita itu segera berjalan ke arah kamar nya kembali untuk membangunkan Eric yang kini masih tertidur dengan begitu lelap nya di tempat nya tadi.
“Eric,” panggil Debby, berusaha untuk membangunkan Eric yang masih saja terlelap dalam tidur nya. Namun akhirnya ia karena terganggu dengan panggilan Debby. Eric segera membuka matanya dengan malas.
“Kenapa?” tanya Eric pada Debby sambil menaikkan sebelah matanya saat melihat wajah kebingungan Debby.
“Mengapa kita bisa berada di kerajaan mu? Dan di mana ini?” tanya Debby pada Eric sambil melihat ke sekeliling. Eric yang mendengar pertanyaan Debby menghela nafasnya kasar. Ia pikir apa yang membuat Debby begitu heboh ternyata hanya karena itu.
“Aku yang membawamu kesini. Karena nanti malam adalah acara pengangkatan mu sebagai putri mahkota. Dan ini adalah kamar ku,” ucap Eric menjelaskan yang kini sontak membuat Debby membelalakkan matanya mendengar ucapan laki-laki tersebut.
“Mengapa kau tidak memberitahuku lebih awal? Sekarang apa yang harus aku persiapkan?” tanya Debby yang kini sudah turun dari ranjang hingga ia kini berjalan dengan tidak menentu. Eric yang melihat hal tersebut hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya,.
“Kau tenang saja Debby, aku sudah menyiapkan semuanya. Sekarang yang perlu kau siapkan adalah dirimu sendiri,” ucap Eric yang kini sudah mengubah posisinya menjadi duduk. Mendengar ucapan Eric kini Debby dengan segera berjalan ke arah Eric lalu menatap laki-laki itu dengan serius.
“Apakah aku akan siap?” tanya Debby pada Eric yang membuat laki-laki tersebut tersenyum mendengar pertanyaan Debby yang terdengar begitu polos.
“Kau tenang saja. Ada aku yang akan membantu mu,” ucap Eric dengan senyumannya sambil genggam tangan Debby. Debby menghembuskan nafasnya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Semoga saja ia bisa melakukan semuanya dengan baik.
__ADS_1
***