Ghost Husband

Ghost Husband
Εικοσι εξι


__ADS_3

“Aku sudah lelah, lebih baik kita pulang saja,” ajak Debby pada Eric. Rasanya ia sudah malas jika berlama-lama di tempat itu. Apalagi kini banyak mata yang terus menatap ke arah mereka dengan berbagai tatapan. Dan Debby begitu risih melihatnya.


“Tunggu lah sebentar lagi, masih ada pertunjukan lainnya,” ucap Eric pada Debby dengan seringainya yang kini membuat Debby mengerutkan keningnya mendengar ucapan laki-laki itu.


“Apa lagi yang ingin kau lakukan Eric?” tanya Debby dengan tatapan terkejut nya. Ia tak habis pikir dengan laki-laki satu itu. Entah rencana apa lagi yang dimilikinya.


“Tunggu lah, kau akan melihat nya,” ucap Eric dengan tatapannya yang kini mengarah ke arah pintu.


Debby kini mengikuti arah pandangan Eric, hingga seorang laki-laki kini memasuki ruangan tersebut dengan wajah tegasnya. Debby seperti tak asing pada laki-laki itu namun ia lupa di mana ia pernah melihat nya.


“Mengapa laki-laki itu tampak tak asing?” tanya Debby seolah tengah berpikir tentang laki-laki tersebut.


“Bukankah dia adalah kekasih kakakmu?” tanya Eric seolah membantu gadis di samping nya itu mengingat nya. Debby yang mendengar ucapan Eric dan mengingat sipa laki-laki itu sontak memelototkan matanya.


“Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Debby pada Eric yang kini malah mengedikkan bahunya mendengar pertanyaan Debby. Namun seringai laki-laki itu seolah menjelaskan segalanya.


“Kau lihat saja,” ucap Eric dengan tatapannya yang kini terus saja tertuju pada ke arah laki-laki tersebut yang kini sudah naik ke atas pelaminan.


Debby dan Eric kini bahkan sudah mengambil minuman untuk menemani mereka menonton tontonan gratis yang akan segera tayang itu. Debby kini seolah tak memiliki lagi perasan pada Luis hingga ia bisa melihat semua adegan di depan itu dengan begitu santai.


Sebuah tamparan yang begitu keras kini terdengar begitu nyaring di ruangan itu hingga menarik perhatian tamu lainnya untuk melihat apa yang terjadi di depan sana. Kini sudah banyak yang mendekatkan dirinya ke arah depan. Untuk melihat lebih jelas kejadian di depan sana.


“Apa yang kau lakukan?” marah Laura pada laki-laki yang kini menamparnya itu. Luis yang sedari tadi berusaha menahan pusing di kepalanya kini bahkan juga terkejut melihat adegan di depannya itu saat melihat wanita nya di tampar oleh laki-laki lain.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan? Bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu? Apa yang kau lakukan Laura?” marah laki-laki tersebut pada Laura yang kini terlihat begitu marah namun juga ketakutan. Jelas dia ketakutan karena takut jika rahasia nya terbongkar.


“Aku? Kau tak melihat nya?” tanya Laura balik pada laki-laki itu dengan senyuman sinisnya berusaha menahan rasa takut nya.


“Apa kau lupa siapa aku? Aku adalah kekasihmu, kenapa kau malah menikah dengannya? Kapan kau merencanakannya? Bahkan semalam kau masih menemani ku di club,” ucap laki-laki tersebut yang kini sontak membuat banyak orang yang terkejut mendengar nya begitupun dengan Luis yang sekarang terlihat begitu terkejut mendengar nya.


“Kau bercanda? Kau sedang memfitnah ku? Jangan asal berbicara kau Trafit,” ucap Laura namun dengan jelas ia memperlihatkan ketakutannya membuat orang disana bisa melihat nya dengan jelas dan berpikir jika apa yang dikatakan laki-laki bernama Trafit itu bukanlah fitnah namun sebuah fakta.


“Mengapa kau ketakutan jika ucapanku adalah omong kosong?” tanya Trafit dengan seringainya pada Laura.


Di sisi lain kini Debby juga Eric yang menyangsikannya begitu serius. Bahkan tak sadar jika ia sudah banyak menghabiskan minuman beralkohol tersebut.


“Mengapa mereka begitu banyak bicara? Harusnya langsung saja tampilkan buktinya,” teriak Debby di tengah kehebohan tersebut sambil menunjuk Laura dengan gelas nya yang masih saja berada di tangannya.


Tatapan seluruh mata kini malah tertuju pada Eric juga Debby.


“Maaf, dia sedikit mabuk,” ucap Eric dengan senyuman nya yang berusaha untuk terlihat bersalah karena sudah membiarkan gadisnya itu mabuk.


“Benar apa yang adikmu katakan, lebih baik aku menunjukkan buktinya bukan?” tanya Trafit dengan seringainya. Lalu ia segera mengambil ponselnya dan menunjukkan nya pada Luis yang sedari tadi hanya terdiam melihat pertengkaran itu. Kepala nya kini semakin pusing, juga amarahnya semakin memuncak melihat adegan di ponsel itu. Ia merasa begitu dikhianati oleh gadis yang kini berada di depannya itu yang tak lain adalah wanita yang baru dinikahinya.


Di sisi lain kini Debby dengan tingkah nya saat mabuk kini membuat Eric menggeleng kan kepalanya. Ia bahkan kini tengah mengintip gelas nya yang sudah habis dan terus memastikannya.


“Bisakah kau hentikan?” tanya Eric pada Debby. Debby menoleh ke arah Eric lalu menggelengkan kepalanya dengan polos. Eric yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Apa tak ada minuman yang lainnya?” tanya Debby menatap Eric dengan tatapan polosnya.


“Berhenti minum. Kau sudah begitu mabuk,” tegas Eric dengan decakan kesalnya. Padahal ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi di depan namun gadisnya itu kini malah mabuk.


Hingga tak lama suara seseorang yang terjatuh terdengar begitu keras, bersamaan dengan suara teriakan yang kini memecah keheningan. Debby dan Eric sointak melihat ke arah Depan hingga mereka terkejut saat melihat Luis yang kini malah pingsan.


“Hu! Apa yang terjadi padanya?” tanya Debby sambil mengerjap-ngerjapkan matanya dan terkejut melihat Luis yang kini malah sudah tak sadar kan diri nya.


“Luis sepertinya pingsan karena efek yang aku berikan. Padahal aku hanya memberinya sedikit ingatan dan tak jelas mengapa bisa begitu berpengaruh?” tanya Eric lebih kepada dirinya sendiri. Tatapannya kini tak lepas dari Luis yang kini sudah di bopong untuk perg.


Pesta itu begitu kacau. Debby yang tengah mabuk terus saja dirangkul dengan posesif oleh Eric karena takut jika gadisnya itu akan pergi darinya.


“Eric pertunjukannya sudah selesai?’ tanya Debby dengan menaikkan sebelah alisnya dan menatap Eric dengan tatapannya yang begitu menggemaskan. Bahkan Eric rasanya begitu gemas melihat hal itu.


“Sudah, sekarang waktunya kita pulang. Kau sudah begitu mabuk,” ucap Eric yang kini malah menggendong Debby ala bridal style menuju ke arah mobil mereka.


“Bagaimana akhirnya?” tanya Debby yang terdengar begitu bersemangat. Eric yang melihat nya hanya terkekeh karena gemas.


Eric bersumpah ia tak akan membiar Debby mabuk bersama laki-laki lain. Debby begitu menggemaskan begitu mabuk. Ia tak ingin jika ada yang melihat tingkah menggemaskan Debby ini.


“Sangat menarik. Sekarang diamlah. Aku akan menceritakannya nanti saat di rumah,” ucap Eric yang di jawab dengan anggukan patuh oleh Debby. Senyuman terlihat jelas di wajah laki-laki itu. Ia begitu gemas melihat Debby yang seperti ini.


Akhirnya mereka memilih untuk pulang dan tidak melanjutkan untuk menonton pertunjukan itu lebih lanjut.

__ADS_1


***


__ADS_2