
Debby kini berjalan ke sebuah kamar yang di depannya begitu banyak penjaga sudah tiga hari gadis di dalam sana dikurung namun sampai saat ini belum ada kepastian tentang apa yang akan dilakukan oleh gadis itu. Entah membawanya kembali ke dunia manusia atau justru membawa nya kembali ke lembar ilusi.
“Biarkan aku masuk,” ucap Debby dengan tegas, ia berusaha mengontrol suaranya agar terdengar sedikit berwibawa untuk mengintimidasi lawan bicaranya itu.
“Maaf Putri, namun Putra mahkota melarang siapapun untuk masuk,” ucap pengawal yang berjaga di depan sana. Debby kini menatap tajam pada pelayan itu.
“Buka lah, biarkan dia masuk,” ucap orang di belakang Debby. Debby yang mendengarnya segera menoleh kebelakang dan melihat ibu Eric yang kini berdiri di depannya sambil tersenyum ke arah nya.
“Tapi Ratu….” belum sempat pengawal itu melanjutkan ucapannya pintu tersebut sudah terbuka, dan jelas semua itu karena Shiley yang melakukannya.
Tak bisa lagi membantah pengawal tersebut akhirnya hanya bisa membiarkan Debby masuk namun tetap mengawasinya.
“Terima kasih Mom,” ucap Debby samping menundukkan kepalanya hormat pada Shirley yang menjawabnya dengan anggukan. Setelahnya wanita itu segera pergi dan Debby seger masuk ke dalam suarangan itu.
Hingga terlihat disana seorang gadis yang kini terlihat memandangi pemandangan di bawaanya. Saat mendengar langkah kaki yang memasuki ruangannya gadis itu sontak menoleh. Hingga senyuman bahagianya mengembang saat melihat keberadaan Debby di sana.
“Debby,” panggil gadis tersebut yang tak lain adalah Michele. Debby segera berjalan mendekat lalu menggenggam tangan Michele dengan tatapan sendunya.
“Maaf karena baru menemuimu,” ucap Debby dengan rasa bersalahnya yang pada Michele yang kini hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Tak masalah, aku tahu kau pasti sibuk. Dengan kau mengelkuarkan ku dari tenat itu saja aku sudah begitu senang dan berterima kasih padamu.
“Tunggu lah sebentar lagi. Aku akan berusaha membawa mu kembali ke dunia manusia,” ucap Debby pada Michele yang di jawab dengan anggukan oleh gadis tersebut.
“Terima kasih Debby,” ucap Michele tulus yang Debby balas dengan anggukan.
“Maaf aku tak bisa lama, aku harus pergi. Nanti aku akan menemuimu lagi,” ucap Debby yang takut jika Eric malah mengetahuinya berada di tempat ini. Ia tak ingin membuat laki-laki itu marah karena jika Eric marah, ia akan melampiaskannya pada orang disekitarnya yang bahkan tak bersalah.
__ADS_1
“Kau berhati-hati lah,” ucap Michele yag Debby balas dengan anggukan. Lalu setelahnya ia segera pergi dari sana untuk menuju ke arah kamar nya. Namun baru saja ia sampai belokan menuju kamarnya ia sudah dikejutkan dengan keberadaan Eric di depannya.
“Kau membuat ku terkejut saja Eric,” ucap Debby sambil menghembuskan nafasnya kasar sedangkan Eric kini menatao Debby dengan tatapan menyelidiknya.
“Aku hanya berjalan-jalan,” ucap Debby tanpa mau memberitahu Eric jika ia datang mengunjungi Michel.
Eric menatap menyelidik pada Debby sebelum akhirnya menjawabnya dengan anggukan.
“Ikutlah dengan ku,” ajak Eric yang membuat Debby mengerutkan keningnya bingung. Namun tetap saja akhirnya ia mengikuti Eric, bahkan kini laki-laki itu sudah menarik tangannya untuk segera pergi menuju tempat yang Eric ingin tuju.
Eric kini membawa Debby pada rooftop dari istana tersebut. Mata Debby kini berbinar karena dari atas saja pemandangannya begitu indah. Debby tak percaya ada tempat seperti ini di istana itu.
“Ingin terbang?” tawar Eric yang malah membuat Debby kini membelalakkan matanya mendengar ucapan laki-laki itu.
“Tidak. Aku bahkan tak memiliki sayang,” ucap Debby menolak dengan tegas tawaran Eric. Eric yang mendengar nya malah terkekeh namun selanjutnya laki-laki itu menarik tubuh Debby dan merangkul pinggang gadis itu begitu posesif.
Gadis itumemekik karena terlalu takut. Bahkan ia langsung mengubah posisinya hingga ia kini memeluk Eric dengan begitu erat karena terlalu takut.
“Eric turun,” teriak Debby berusaha mengeraskan suaranya takut jika Eric tak mendengarnya karena rasanya suaranya kini sudah dibawa oleh angin.
“Buka lah matanya Debby. Kau akan melihat keindahan dari atas sini,” ucap Eric berusaha untuk membujuk Debby agar gadis itu mau untuk membuka matanya. Namun Debby kini malah menggelengkan kepalanya kuat. Ia terlalu takut berada di atas sini. Ia takut jika Eric malah akan melepaskannya.
“Tidak, lebih baik kita segera turun,” tolak Debby sambil menggelengkan kepalanya dengan begitu tegasnya.
“Sekali saja, jika kau memang ingin turun setelah melihat ini. Maka aku akan membawa mu untuk turun,” ucap Eric yang masih aja memaksa Debby. Debby menarik nafasnya dalam dan menganggukkan kepalanya.
Kini ia berusaha untuk membuka matanya dengan pelan. Berhasil ia berhasil membuka matanya dan kini mereka seperti menginjak permukaan. Debby tak salah kan? Kini ia benar-benar seperti menginjak permukaan.
__ADS_1
“Kita di permukaan?” tanya Debby sambil menatap mata Eric. Ia masih saja belum berani untuk melihat ke arah bawah. Apa lagi melihat senyuman Eric yang terlihat begitu misterius ia semakin takut untuk melihat ke bawah.
“Lihat lah jika kau penawaran,” ucap Eric dengan senyuman evil nya yang terlihat begitu menakutkan bagi Debby.
Debby kembali mengatur nafasnya sebelum memberanikan diri untuk melihat ke arah bawah. Hingga matanya membelalak saat melihat apa yang tersaji di bawahnya. Kini bukannya tanah yang ia pijak melainkan awan. Ya, kini ia menginjak awal. Gila.
“Eric, aku benar-benar bisa menginjak awan?” tanya Debby dengan tatapan tak percaya nya pada Eric yang kini hana menganggukkan kepalanya.
“Aku sudah memberinya mantra agar kau tak terjatuh saat menginjak nya,” ucap Eric dengan senyumannya. Senyuman yang tak pernah Debby lihat sebelumnya. Senyuman yang begitu manis serta memabukkan. Bahkan hanya dengan melihat senyuman lucifer di depannya itu. Debby merasa seluruh dunia teralihkan pada laki-laki di depannya itu.
Tidak, terlalu lama melihat ke arah laki-laki itu tak akan bagus untuk kesehatan detak jantung nya yang kin malah berdetak dengan begitu cepat nya. Benarkan ini? Jantung nya berdetak tak normal saat bersama Eric? Apa ia memang begitu mudah untuk mencintai laki-laki di depannya itu?
“Hey, apa yang kau pikirkan?” tanya Eric sambil menjentikkan tangannya di depan Debby yang kali ini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Tidak, aku hanya berpikir apa aku bisa mengendarai awan ini?” tanya Debby dengan senyumannya pada Eric.
“Bisa. Kau bisa mengendarainya. Kau bisa memanggilnya saat kau ingin menggunakannya,” ucap Eric yang kini membuat Debby memelototkan matanya tak percaya.
“Pernah?” tanya Debby yang Eric blas dengan anggukan.
“Kau hanya perlu menjentikkan jari mu maka ia akan mencari mu,” ucap Eric yang membuat senyuman Debby mengembang dengan begitu sempurna.
“Terima kasih Eric,” ucap Debby tulus yang Eric blas dengan anggukan.
Dan hari itu mereka habiskan dengan melihat pemandangan dari atas sana dengan awan yang mereka gunakan sebagai tempat mereka duduk. Debby begitu menyukainya. Debby begitu menyukai saat-saat ini.
***
__ADS_1