Ghost Husband

Ghost Husband
Σαράντα τρία


__ADS_3

Setelah puas berkeliling pasar kini mereka memutuskan untuk segera kembali ke istana. Namun saat sampai di istana kini mereka dibuat bingung dengan banyaknya kereta yang berjejer rapi di depan istana.


“Ada apa ini Eric? Mengapa begitu ramai?” tanya Debby sambil menatap Eric dengan tatapan penuh tanya nya saat ia melihat banyaknya kereta yang berada di istana mereka. Eric yang juga tak mengetahui apapun kini menggelengkan kepalanya.


“Entahlah, aku juga tak mengetahuinya,” ucap Eric dengan tatapan bingung nya. Namun akhirnya ia tetap menggandeng tangan Debby untuk segera memasuki istana dengan tatapan bingung nya. Debby benar-benar merasa penasaran melihat apa yang terjadi saat ini.


“Yang mulia,” suara Arthur yang memanggil Eric membuat mereka menoleh ke arah Arthur yang kini terlihat tengah berlari ke arah mereka. Debby melihat hal itu semakin di buat bingung entah mengapa ia merasa jika sesuatu yang begitu buruk akan terjadi.


“Ada apa Arthur?” tanya Eric dengan menaikkan sebelah alisnya menatap Arthur dengan tatapan bingungnya. Melihat Arthur yang mendekat ke arah nya untuk membisikkan sesuatu membuat Eric menghentikan laki-laki tersebut.


“Kita bicarakan setelah aku mengantar Debby ke kamar,” ucap Eric pada Arthue yang kini terlihat kebingungan namun akhirnya ia tetap saja menganggukkan kepalanya walau tak tahu mengapa Eric mengajaknya berbicara saat tak ada Debby.


Padahal Debby tak bisa mendengar pembicaraan mereka saat berbisik. Eric yang setelah nya langsung mengantar Queena menuju ke arah kamar mereka. Masih dengan tatapan bingung nya Debby pada akhirnya hanya bisa menurut saja. Debby sebenarnya masih begitu penasaran dengan apa yang terjadi.


“Masuklah. Jangan pergi tanpa pelayan,” ucap Eric memperingati Debby saat mereka sudah sampai di depan kamar mereka. Eric mengelus kepala Debby dengan begitu lembut sebelum akhirnya ia pergi bersama dengan Arthur.


Arthur kini segera pergi dengan Arthur meninggalkan Debby dengan kebingungannya. Debby memilih untuk segera masuk ke dalam kamar nya. Sedangkan Arthur kini menuju ruangan sidang kerajaan untuk menemui ayahnya.


“Apa yang terjadi sebenar nya Arthur?” tanya Eric pada Arthur dengan tatapan bingung nya. Menatap ajudannya itu dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


“King akan mencarikan selir untuk Anda, Yang mulia. Sekarang semua putri dari semua kerajaan tengah berkumpul untuk mengikuti pemilihan selir,” ucap Arthur memberitahu Tuannya itu. Mendengar ucapan Arthur, Eric memelototkan matanya tak percaya.


Ia bahkan baru saja menikah dan kini ayahnya itu malah mencarikannya selir? Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh ayahnya itu. Pantas saja tadi ibunya mengajaknya berbicara. Jadi ini lah alasannya? Demi kebaikannya, kata ibunya itu? Tidak, ini tidaklah baik untuk nya. Ia bisa saja kehilangan Debby karena ini.


Ia sudah pernah berkata akan setia pada Debby dan tak akan memiliki selir. Namun siapa yang tahu kini pada akhirnya ayahnya itu malah mencarikannya selir tanpa sepengetahuannya.


“Kita ke ruang sidang sekarang,” ucap Eric dengan begitu tegasnya pada Arthur yang kini mengikutinya.


“Tuan, tidak kah kita lebih baik menunggu hingga sidang selesai? Lebih baik Anda berbicara berdua dengan King,” ucap Arthur menyarankan karena ia tak ingin jika Tuannya itu malah bersalah karena telah mengganggu pertemuan tersebut.


“Aku tak bisa lagi untuk menunggu nya,” ucap Eric dengan kekesalannya yang kini membuat Arthur menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan Tuannya yang kini terlihat begitu marah itu.


“Putra mahkota, apa yang kau lakukan? Masuk ke ruangan tanpa permisi,” ucap Fred pada anaknya itu yang kini terlihat begitu marah. Fred tahu jika anaknya itu kini pasti tengah marah.


“Keluar dari ruangan sekarang juga,” ucap Fred dengan begitu tegasnya pada anaknya itu yang kini menatapnya dengan tatapan penuh amarah.


“Keluar? Bukankah kita harus membicarakan ini King? Aku bahkan tak pernah tahu tentang pemilihan selir ini. Aku baru saja menikah dan mengangkat putra mahkota. Dan sekarang tanpa sepengetahuan ku kau mencarikan ku selir?” tanya Eric dengan matanya yang kini sudah berubah menjadi merah. Siapapun tahu jika laki-laki tersebut kini tengah begitu marah.


“Bukankah, kau sudah menyetujui jika kau akan melakukan apapun yang aku katakan? Pemilihan ini adalah tradisi kita. Kita tidak bisa untuk mengabaikannya. Harusnya kau melakukan pemilihan ini untuk Putri mahkota, namun karena kau sudah memilih sendiri putri mahkota mu maka aliansi ini akan tetap dilakukan, mengikuti leluhur kita,” ucap Fred yang membuat Eric kini mengepalkan tangannya. Fred kini telah mengingatkannya tentang perjanjian darah yang dilakukan.

__ADS_1


“Kau bahkan sama seperti ku King, memilih ratumu sendiri. Namun aku bukan lah dirimu yang bisa hidup dengan banyak wanita,” ucap Eric yang masih ingin menentang perkataan Fred. Ia benar-benar tak ingin memiliki selir. Ia tak ingin wanita nya memiliki saingan.


“Kita akan membicarakan ini lagi Putra mahkota. Dan keputusan kami para tetua tetap lah sama, kita tetap akan melangsungkan pemilihan selir sesuatu aturan dari para terus. Pengawal. Bawa Putra mahkota keluar,” ucap Fred pada para pengawal kerajaan. Eric yang mendengar nya kini mengepalkan tangannya lalu ia segera pergi dari sana walau ia terlihat begitu marah saat ini.


Di tempat lain kini Debby merasa bosan berada di kamar nya. Jadi ia memutuskan untuk keluar kamar nya itu. Dayang yang berada di depan kamar nya segera mengikuti Debby.


“Eric? Ada apa dengannya? Mengapa ia terlihat begitu marah?” tanya Debby dengan tatapan bingung nya saat melihat Eric yang keluar dari ruang sidang kerajaan dengan tatapan yang terlihat begitu tajam menandakan jika laki-laki itu saat ini sedang marah.


“Sepertinya ada kekacauan di persidangan Putri,” ucap kepala dayang Debby yang membuat Debby menganggukkan kepalanya mendengar hal tersebut.


Setelahnya mereka memutuskan untuk berjalan ke arah pavilium utama. Namun saat sampai di sana, Debby mengerutkan kening nya melihat keadan pavilium yang begitu ramai.


“Apa yang terjadi? Mengapa para perempuan itu saling menunjukkan bakat dan kekuatan mereka?” tanya Debby pada para dayang nya yang kini hanya diam saja mendengar pertanyaan Debby. Terlalu takut untuk memberitahu Debby membuat mereka hanya diam saja. Hingga pelayan dari putri kerajaan lain lah yang berbisik tak jauh dari nya dan bisa didengar oleh Debby.


“Aku dengar Putra mahkota sebenarnya menolak untuk pengangkatan selir,” ucap dayang tersebut kini sontak membuat Debby menoleh ke arah dayang nya yang kini hanya menundukan kepalanya karena terlalu takut.


Kini ia mengerti mengapa Eric tadi terlihat begitu marah. Debby segera berjalan untuk pergi dari sana dan ingin menuju kamar nya lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2