
“Bagaimana dengan desa Luxi di perbatasan? Bencana di sana cukup parah. Apa ada solusi yang sudah kalian temukan?” pertanyaan yang terdengar begitu datar dan dingin itu membuat para bawahannya yang kini berdiri di depan sang raja saling berbisik satu sama lain memberikan desa yang baru saja terkena bencana akibat dari longsor yang melanda mengingat desa tersebut berada di daerah pegunungan.
“Lapor raja, kami sudah memberikan bantuan dan mengirimnya melalui desa terdekat,” ucap Miguel sambil menundukkan kepalanya berbicara pada sang ayah sekaligus sang raja.
“Kita tak bisa untuk terus meminta desa terdekat mengirim bantuan pada Desa Luxi. Desa terdekat juga terkena sedikit dampak dari itu. Jika kita terus meminta desa tetangga untuk mengirimkan bantuan Maka bahan pangan mereka juga akan habis,” tegas Eric dengan suara datar nya menatap sekilas pada Miguel dengan datar.
Bisikan dari para bawahan lain juga kini saling terdengar membuat Fred yang duduk di singgasana nya terdiam. Ia tengah menunggu kelanjutan dari ucapan anaknya itu.
“Kita sudah mengirimkan bahan dari istana juga, hanya saja memang mengalami sedikit keterlambatan, juga terkadang ada bandit yang kerap merampok makanan yang kita kirim,” ucap Miguel dengan tatapan seriusnya pada sang kakak sebelum akhirnya ia kembali melihat ke arah ayahnya.
“Maka permasalahannya adalah bandit. Dan pengiriman yang lambat. Apa hanya itu? Kita tak pernah tahu bantuan akan langsung sampai pada masyarakat atau malah terhenti pada masyarakat. Apa kau sudah menyelidiki itu juga pangeran kedua?” tanya Eric yang terdengar begitu tajam pada Miguel yang kini terdiam mendengar pertanyaan Eric lalu ia berlutut di depan ayahya.
“Maaf atas kelalaian Hamba, Raja. Kami belum menyelidiki tentang ini,” ucap Miguel sambil berlutut ke arah ayahnya itu yang kini menghembuskan nafasnya kasar.
“Bukankah Anda seperti tak mempercayai bawahan Anda sendiri, Putra mahkota?” tanya Mario seorang pejabat kerajaan yang juga tak lain adalah adik dari ibu Miguel.
“Tidakkah ucapan mu itu terlalu lancang Mario? Kau mempertanyakan kepercayaan Putra Mahkota pada bawahan nya?” Tanya Edwin yang merasa tak suka jika ada yang mengganggu kakaknya itu.
“Aku hanya ingin memastikan. Karena kita tak pernah tahu, kecurangan yang bisa dilakukan karena harta,” ucap Eric dengan begitu tajamnya pada Mario yang kini hanya menunduk karena takut.
“Pangeran kedua hanya fokus pada pemberian bantuan. Tanpa memikirkan masalah lain yang bisa saja ditimbulkan. Ya, mungkin seperti yang Tuan Mario katakan. Pengaran Kedua begitu mempercayai bawahannya. Hingga hanya meminta pengawal saja yang mengirimkan bantuan tanpa ada pengawasan. Tak heran jika pada akhirnya para bandit malah dengan mudah mengambil bantuan yang sudah kita berikan,” ucap Eric dengan begitu tajamnya pada Miguel.
“Jadi apa kau memiliki encana putra mahkota?” tanya Fred yang kini memecah pertengkaran itu.
__ADS_1
“Arthur akan menangani para bandit itu. Dan Putra kedua bersama dengan pangeran agung akan memeriksa tempat terjadi nya bencana juga proses penyaluran bantuan,” ucap Eric tegas memberikan saran yang membuat Fred kini menganggukkan kepalanya.
“Maaf tak bisa untuk datang langsung. Karena perusahaan kini membutuhkan ku dan aku akan kembali ke dunia manusia dua hari lagi,” ucap Eric tegas yang dijawab dengan anggukan kembali oleh Fred.
“Baiklah, lakukan seperti yang dikatakan putra mahkota. Rapat kali ini cukup sampai di sini. Jika ada masalah lain silahkan berikan dokumennya pada Travis,” ucap Fred yang setelahnya segera berdiri membuat bawahannya menunduk hormat sebelum kepergian raja nya itu.
Eric dengan wajah datarnya kini berjalan keluar dari ruangan itu yang diikuti oleh Arthur juga adiknya yang kini juga menghampirinya.
“Miguel dan Mario benar-benar keterlaluan. Aku semakin tak menyukai mereka,” ketus Edwin dengan tatapan kesalnya yang malah membuat Eric terkekeh sambil menepuk pundak adiknya itu.
“Jalankan saja tugasmu dengan baik,” ucap Eric sambil menepuk punda adiknya itu, berusaha untuk menenangkannya. Edwin menghembuskan nafasnya kasar sambil menganggukkan kepalanya.
“Tentang Michele, kau sudah mengurus nya?” tanya Eric pada Arthur yang kini menjawabnya dengan anggukan.
“Saya akan membuat nya melupakan semua kejadian di dunia ini Tuan,” ucap Arthur yang Eric balas dengan anggukan.
Hingga dapat ia lihat adiknya itu kini tengah mencari kupu-kupu di taman kerajaan. Eric yang melihat hal itu menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu.
“Anna,” panggil Eric yang sontak membuat adiknya itu menoleh ke arah kakak pertamanya itu yang kini tengah berada di paviliun. Melihat hal itu Anna segera menghampiri kakaknya itu dan duduk di hadapan kakaknya.
“Bersiaplah, kakak akan membawamu ke dunia manusia. Kau bisa kuliah disana,” ucap Eric ynag kini membuat Anna mamelototkan matanya tak percaya.
“Benarkah?” tanya Anna uang di jawab dengan anggukan oleh Eric.
__ADS_1
“Akh akhirnya aku akan pergi juga,” ucap Anna dengan begitu bahagianya. Eric yang melihat nya hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya
Ia tahu adiknya itu sudah sedari dulu ingin pergi ke dunia manusia namun Eric selalu melarangnya namun kali ini akhirnya ia bisa pergi ke dunia manusia.
“Aku mencintai mu kak,” ucap Anna yang setelahnya segera pergi dari sana untuk menuju ke arah kamarnya. Bahkan ia tak tahu kapan ia harus pergi. Namun karena terlalu bersemangat akhirnya ia memilih untuk langsung membereskan pakaiannya saja.
“Apa kita juga akan pergi ke dunia ku?” pertanyaan itu membuat Eric terkejut. Debby yang entah datang dari mana kini malah tiba-tiba saja muncul dari belakang Eric. Eric memejamkan matanya karena tak menyadari pergerakan Debby dan membuat nya terkejut karena itu.
“Bisakah kau datang tanpa mengejutkan ku?” tanya Eric dengan helaan nafas kasarnya yang membuat Debby kini malah menyengir mendengar ucapan Eric.
“Kau datang dari mana?” tanya Eric sambil mengerutkan keningnya.
“Aku tadi ikut Anna mencari kupu-kupu. Kau tak melihat ku? Aku berada di sana,” ucap Debby sambil menunjuk pada rerumputan yang berada di belakang Eric, yang memang dipenuhi dengan bunga. Pantas saja jika Eric tak melihat keberadaan gadis itu.
“Tunggu, jangan mengalihkan pembicaraan. Apa kita juga akan kembali ke dunia ku?” tanya Debby yang kini mengingat tujuan awalnya menghampiri Eric. Eric yang mendengar pertanyaan itu menganggukkan kepalanya.
“Setidak nya sampai kau lulus,” ucap Eric yang sontak membuat Debby memekik senang. Ia begitu senang karena akhirnya Eric mau untuk menuruti keinginannya.
“Bagaimana dengan Michele?” tanya Debby yang masih memikirkan Michele. Ia jelas tak mungkin meninggalkan Michele di tempat ini.
“Aku sudah menyelidikinya, tak ada yang mencurigakan jadi dia akan dikembalikan menuju dunianya. Hanya saja ia akan melupakan semua yang ada di sini” jelas Eric yang membuat Debby terkejut mendengarnya.
“Termasuk aku?” tanya Debby yang Eric balas dengan anggukan.
__ADS_1
Debby menghembuskan nafasnya merasa tak rela. Namun ia tahu Eric melakukan itu semua demi menjaga rahasia kaum nya. Jadi akhirnya ia hanya bisa menurutinya.
***