
“Bagaimana Arthur, kau sudah mendapatkan info tentang keluarga Debby?” tanya Eric pada bawahannya itu saat kini mereka kembali berada di ruangan Fred untuk membicarakan tentang Debby.
“Maaf yang mulia tapi begitu sulit untuk menemukan info tentangnya. Apa lagi seorang Sorcerer saat ini sudah begitu sulit ditemukan. Mereka sudah meninggalkan dunia immortal dan kini mulai berbaur dengan manusia,” ucap Arthur menjelaskan pada orang di sekitar nya itu yang kini tengah menunggu jawabannya. Semua yang mendengar nya menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan tersebut.
“Aku rasa tebakan ku memang benar jika dia adalah Sorcerer, jelas Sorcerer mulai beradaptasi dengan dunia manusia semenjak dua puluh tahun lalu jadi aku pikir salah satu dari kedua orang tuanya adalah seorang Sorcerer,” ucap Shirley yang kini menimpali ucapan Arthur. Tatapan semua orang kini mengarah pada Shirley.
“Ayah Debby masih hidup, kita bisa mengujinya,” ucap Fred pada semua yang berada di sana. Eric menatap ke arah kedua orang tuanya itu sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
“Masalah ini kita tentukan dulu sampai di sini. Ada pekerjaan lain yang harus aku urus,” ucap Fred pada semua yang berada di sana yang kini menganggukkan kepalanya.
“Eric, bisa kau ikut dengan Mom?” tanya Shirley pada anaknya itu yang kini menoleh ke arah ibunya lalu menganggukkan kepalanya.
Mereka akhirnya berjalan bersama keluar dari ruangan Fred. Eric kini tampak bingung karena tak biasanya ibunya itu mengajaknya berbicara seperti ini. Ia merasa ada yang aneh dengan ibunya itu.
“Bagaimana Debby? Apa dia baik-baik saja?” tanya Shirley pada anaknya itu dengan tatapan khawatirnya yang kini justru embuat Eric terkekeh mendengar nya.
“Mom lihat saja,” ucap Eric sambil menunjuk ke arah Debby yang kini terlihat begitu bahagia dengan rambut barunya itu. Ia bahkan kini tengah memamerkannya pada Anna. Shirley yang melihat nya juga ikut tertawa. Ia senang karena Debby merasa bahagia dengan perubahannya itu tanpa memiliki beban nya.
“Mom senang melihat nya,” ucap Shirley dengan senyumannya yang membuat Eric mengangguk mendengarnya. Karena ia pun merasa begitu. Ia senang melihat Debby yang kini semakin dekat dengan istana nya dan semakin terbiasa dengan keadaan istana.
“Tapi mom sekarang harus menutup batin mom saat berhadapan dengannya. Karena ia mulai mendengar baytin kita,” ucap Eric yang kini membuat Shirley terkejut mendengar nya. Shirley segera melihat ke arah anaknya itu dengan tatapan tak percaya nya.
“Dia bisa melakukan itu?” tanya Shirley yang dijawab dengan anggukan oleh Eric.
“Mom rasa dia bukan hanya seorang Sorcerer,” ucap Shirley yang kini tengah memperhatikan menantunya itu. Eric yang mendengar ucapan ibunya itu menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan bingung nya. Apa maksud ibuna itu jika Debby bukan hanya seorang Sorcerer, mendengar sebuah Debby adalah seorang Sorcerer saja sudah membuat nya begitu bingung dan tak percaya kini ibunya itu malah mengatakan sesuatu mengejutkan lainnya.
__ADS_1
“Apa maksudmu Mom?” tanya Eric dengan tatapan tak percaya nya pada ibunya itu yang kini menghembuskan nafasnya.
“Mom rasa perlahan warna mata nya juga berubah. Warna matanya tidak lagi secoklat dulu,” ucap Shirley yang membuat Eric terkejut mendengarnya. Ia yang sudah bersama dengan Debby dalam waktu yang begitu lama saja bahkan tak memperhatikan hal tersebut namun ibunya itu malah mengetahuinya.
“Kita harus segera mencari tahu tentang itu,’ uap Eric yang di jawab dengan anggukan oleh ibunya itu.
“Ah ya, dan alasan mom mengajakmu berbicara ini adalah tentang mu dan Daddy mu,” ucap Shirley yang membuat laki-laki tersebut kini menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan ibuya itu.
“Apa yang terjadi Mom?” tanya Eric dengan menaikkan sebelah alisnya. Ia sudah menduga pasti ada yang tidak beres dengan semua ini.
“Tidak, hanya saja mom ingin mengatakan. Apapun yang Daddy mu lakukan untuk mu itu adalah yang terbaik,” ucap Shirley dengan senyumannya sambil mengelus pundak anaknya itu. Setelah nya ia segera pergi dari sana. Meninggalkan anaknya itu dengan perasaan tak menentu dan pikiran nya yang terus tertuju pada ucapan ibunya itu.
Eric menghembuskan nafasnya kasar. Tak ingin lagi untuk memusingkan apa yang dikatakan oleh ibunya itu. Kini Eric lebih memilih untuk segera menemui Debby yang tengah berbincang dengan Anna.
“Apa kalian bersenang-senang nona nona?” tanya Eric saat sampai di depan kedua perempuan tersebut. Debby dan Anna segera menoleh ke arah Eric dengan senyumannya yang membuat Eric kini segera menghampiri Debby dan duduk di samping anita nya itu.
“Bagaimana dengan ku?” tanya Anna yang kini menatap kakaknya itu dengan tatapan memohonnya agar laki-laki tersebut mau membawanya untuk jalan-jalan juga.
“Bukankah kau harus kuliah? Untuk apa kau berada di sini? Sekarang kembali lah kedua manusia, kay harus kuliah,” ucap Eric dengan begitu tegas nya pada adiknya itu yang kini mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ucapan kakaknya itu. Debby yang melihat pertengkaran adik dan kakak itu hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
“Ayo sayang,” ajak Eric pada Debby yang kini menggenggam tangan istrinya itu.
“Anna, kami pergi dulu. Kau berhati-hati lah,” ucap Debby dengan senyumannya.
Setelahnya ia segera pergi bersama dengan Eric. Entah kemana Eric akan membawanya pergi.
__ADS_1
“Kita ingin ke mana Eric?” tanya Debby saat Eric mengajaknya keluar istana.
“Berjalan-jalan di pasar?” tanya Eric dengan menaikkan sebelah alisnya yang membuat Eric menganggukkan kepalanya dengan bersemangat mendengar ucapan Eric.
“Ayo kita pergi,” ajak Debby yang kini membuat Eric terkekeh mendengar ucapan istrinya itu.
Di sepanjang jalan mereka tak ada hentinya bercerita. Kini mereka menggunakan pakaian yang begitu sederhana agar tidak terlalu menarik perhatian. Debby bahkan juga menggunakan tudung kepalanya. Karena di dunia mereka kini hanya Debby yang memiliki rambut berwarna putih seperti itu.
Tak ingin menarik perhatian mereka akhirnya memilih untuk menutupinya.
“Eric lihat lah. Pasar kali ini begitu ramai,” ucap Debby dengan senyumannya sambil melihat ke sekitar pasar yang memang begitu ramai.
Wanita itu menjadi begitu aktif. Menghampiri satu persatu stand makanan hingga kini Eric sudah membawa begitu banyak makanan. Namun Eric sama sekali tidak keberatan asalkan istrinya itu bahagia. Maka ia akan tetap melakukannya untuk Debby.
“Eric ayo pergi ke sana,” ajak Debby yang kini menarik tangan Eric menuju ke arah stand permainan yang kini tampak begitu ramai.
“Nona, kau ingin memainkannya? Jika kau berhasil menempatkan benda di sana dalam lingkaran ini kau bisa mengambil lingkaran itu. Tapi kau di lirang menggunakan sihir mu,” ucap laki-laki penjaga stand tersebut pada Debby yang kini malah membuat Debby terkekeh mendengar nya.
“Aku bahkan tidak bisa menggunakan sihir, Tuan,” ucap Debby dengan tawanya yang membuat laki-laki tersebut menaikkan sebelah alisnya.
“Benarkan? Mata mu bahkan terlihat seperti Wizard, jangan berbohong pada ku Nona. Aku mengetahuinya,” ucap laki-laki tersebut yang kini sontak membuat Debby mengerutkan kening nya.
“Maaf Tuan,” ucap Eric yang setelah nya langsung membawa Debby untuk pergi dari sana karena mereka tadi sudah menjadi pusat perhatian. Debby terus saja menggerutu pada penjaga stand tersebut karena mengatakan jika dia adalah wizard padahal jelas-jelas ia manusia biasa.
Berbeda dengan Debby. Eric kini malah memikirkan ucapan penjaga stand tersebut. Memang sepertinya ada yang tidak beres dengan semua ini. Eric harus segera menemukan nya.
__ADS_1
***