
Amarah, kesedihan, dan kekecewaan kini terasa begitu nyata melingkupi istana. Semua itu kerana perjodohan dan pemilihan para selir yang tengah dilakukan. Debby sedari tadi hanya merenung menatap ke arah indahnya pemandangan di bawahnya.
Saat ini wanita itu tengah berada di atas awan. Seperti yang pernah Eric katakan. Kini ia dapat menggunakan awan tersebut sesuka nya sebagai kendaraan nya. Suasana hatinya kini tengah kacau. Mendengar Eric tengah melakukan pemilihan selir membuat perasaannya kini begitu tak menentu.
Sebelumnya tak pernah Debby pikirkan jika pada akhirnya ia juga harus memiliki saingan. Berbagai laki-laki yang dicintainya untuk wanita lain bukan lah yang diinginkan oleh semua wanita. Namun kini ia harus melakukannya.
“Harusnya aku memang tak menikahi seorang raja. Menikah dengan bukan manusia saja sudah menjadi pertentangan untukku, dan kini aku malah harus menikahi seorang raja dari Lucifer.” Debby bermonolog pada dirinya sendiri.
Merasakan sakit yang kini begitu membelenggu untuknya. Eric dulu pernah berkata jika ia adalah satu-satunya. Ucapan laki-laki itu begitu manis hingga ia tak menyadari jika pada akhirnya ia hanya akan menjadi salah satunya, bukan satu-satu nya.
“Pada akhirnya aku akan memiliki pesain, berbagi laki-laki yang aku cintai? Aku lebih suka merelakan dari pada harus berbagai,” ucap Debby dengan air matanya yang kini terus saja mengalir di wajah cantiknya itu.
Tatapannya kini terlihat begitu sendu. Di tangannya kini ia bahkan sudah membawa dua botol anggur yang ia dapat dari penyimpanan anggur di kerajaan Eric. Debby menegak minuman beralkohol tersebut hingga menyisakan setengah. Tak peduli jika setelah ini ia akan mabuk. Ia hanya berharap semua kesedihannya akan terlupakan dengan minuman beralkohol tersebut.
“Bahkan setelah pemilihan selir kemarin Eric tidak datang kepada ku, apa sekarang dia sudah melupakan ku?” tanya Debby pada dirinya sendiri. Karena memang setelah pemilihan selir kemarin Eric tak pernah mencarinya. Entah kesibukan apa yang dilakukan oleh laki-laki tersebut hingga ia tak datang pada Debby yang seharian hanya menangis di dalam kamar nya.
“Langit, apa kau tak bisa menurunkan hujan mu? Aku ingin kau menemani ku menangis,” ucap Debby sambil mengarahkan tangannya ke arah langit. Meminta langit yang kini bersinar dengan begitu terang tersebut untuk segera menumpahkan air nya.
__ADS_1
Namun ajaib, langit seolah mendengar kannya karena setelah ucapan Debby tadi. Langit langsung menumpahkan air nya, namun anehnya mentari bahkan masih bersinar dengan begitu indah nya.
“Kau benar-benar menuruti apa yang aku katakan,” ucap Debby yang kini sepertinya sudah sedikit mabuk. Bahkan ucapannya sudah melantur. Debby menghembuskan nafasnya kasar dengan air matanya yang kini terus saja mengalir di wajah nya.
“Hentikan hujan. Kau membuat tangis ku semakin keras, aku tak ingin lagi menangis. Kau juga membuat ku basah,” ucap Debby dengan menggerutu kesal. Setelah lama ia membiarkan hujan membasahi nya kini ia meminta hujan untuk berhenti. Dan lagi-lagi keajaiban terjadi. Ucapan Debby seolah menjadi mantra. Ia bahkan bisa mengendalikan langit dengan mudah nya.
“Lagi? Apa kau ingin menjadi teman ku, hingga kau selalu menuruti ucapanku?” tanya Debby sambil menatap langit di atas nya. Namun jelas ia tak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan.
Debby terus saja menenggak minumannya sambil melihat ke arah pemandangan di bawahnya yang terlihat semakin indah. Ia begitu menyukainya. Terlalu mabuk setelah menghabiskan dua botol minuman beralkohol tersebut Debby malah membawa awan tersebut berkeliling layaknya ia tengah mengendarai mobil.
***
“Apa lagi yang kau inginkan Eric? Bukankah selir mu sudah dipilih? Dan hari ini kau akan mengangkatnya menjadi selir mu. Dia adalah gadis yang baik dari klan Fairy. Dia adalah putri tertua dari raja Fairy. Kalian pasti akan cocok,” ucap Fred pada anaknya itu yang kini justru terus saja menatapnya dengan tajam. Kemarahan anaknya sebenarnya bukan hal yang Fred inginkan mengingat seberapa bahaya nya anaknya yang satu itu.
“Aku sama sekali tidak menginginkan ini. Kau mungkin tak pernah memikirkan perasaan Ratu saat memilih selir, namun berbeda dengan ku. Aku memikirkan perasaan istri ku saat aku harus memiliki selir.” Eric kini berusaha menahan amarahnya karena ia tak ingin menghancurkan tempat ini karena masih ada orang yang ia sayangi berada di tempat tersebut. Fred menghembuskan nafasnya kasar.
“Kau pikir aku tak memikirkan perasaan ibumu? Aku memikirkannya, namun aku harus mengesampingkan itu semua demi memperkuat kerajaan kita. Aku tidak bisa menggabungkan antara perasaan juga kerajaan, kerajaan ini segala nya bagi ku,” ucap Fred berusaha menegaskan pada anaknya itu yang kini justru hanya tersenyum dengan begitu sinis dan terlihat menghina ke arahnya.
__ADS_1
“Tapi tidak dengan ku, istri ku adalah yang paling penting untuk ku,” ucap Eric tegas.
Fred kini malah terkekeh mendengar ucapan anaknya itu. Ia tahu anaknya itu meskipun terlihat begitu angkuh dan disegani namun ia begitu lemah akan cinta.
“Kau sudah tidak bisa menolak nya lagi Eric. Semua ini demi kerajaan kita. Banyak orang yang menaruh harapan dan menyerahkan diri nya untuk kau jaga. Kau adalah calon raja, jadi kau memiliki tanggung jawab besar terhadap kerajan mu. Dan ingatlah Putra mahkota, kau memiliki janji pada ku, jika kau mengingkarinya aku yakin kau tak akan suka dengan akibat yang akan kau dapat kan. Kau tahu demi menyetujui dan melancarkan pengangkatan putri mahkota, hal ini juga lah yang aku janjikan dengan para tetua. Jadi bekerja sama lah untuk ini Putra mahkota,” ucap Fred dengan panjang lebar berusaha menjelaskan pada anaknya itu. Ia tahu pasti semua ini berat untuk anaknya itu karena ia juga pernah berada di posisi ini namun ia juga tak bisa untuk berbuat banyak untuk ini.
Tanpa mengatakan apapun Eric segera pergi dari sana dengan kekesalannya. Ia tahu kini ia tak bisa untuk menolak semua ini karena ia tak ingin wanita yang begitu dicintainya itu celaka. Baru saja Eric akan pergi dari paviliun yang kini menjadi tempat mereka berbicara tiba-tiba saja hujan turun namun dengan matahari yang menyinarinya begitu terang.
“Hujan? Api!” ucap Eric dengan membelalakkan matanya saat mengingat jika mereka adalah Lucifer dan turunnya hujan bukanlah hal yang baik untuk mereka yang dikelilingi oleh Api. Apalagi jika hujan dengan matahari yang bersinar seperti ini. Api abadi bisa saja terancam.
Dunia mereka tak pernah merasakan hujan karena mereka selalu melindunginya agar dunia mereka tidak bisa hujan namun kita hujan malah turun dengan deras nya.
“Eric dimana Debby?” suara teriakan tersebut membuat Eric yang kini berlari menuju api abadi bersama dengan Fred sontak menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah ibunya.
“Debby?!” ucap Fred dengan membelalakkan matanya kala mengingat perepuan tersebut. Eric yang menyadari sesuatu juga membelalakkan matanya.
“Kau cari lah istri mu, Daddy akan menuju api abadi,” ucap Fred pada anaknya itu yang dibalas dengan anggukan oleh Eric. Kini seluruh kerajaan di buat begitu heboh dengan turun nya hujan tersebut yang memang diakibatkan oleh Debby yang saat ini bisa mengendalikan langit.
__ADS_1
***