
Debby kini menatap ruangan di depannya dengan tatpan sendunya. Kini ia masih berharap dengan cemas tentang keadaan ayahnya. Dokter yang melakukan operasi untuk ayahnya masih berada di dalam.
“Tenang lah, semua akan baik-baik saja,” ucap Eric sambil mengelus pundak Debby, menenangkan gadisnya itu dan berusaha meyakinkan Debby jika semua akan baik-baik saja.
Hingga lama para dokter yang melakukan operasi pada Pater segera keluar. Melihat itu Debby dengan segera menghampirinya untuk bertanya tentang keadaan ayahnya.
“Bagaimana keadaan Papa saya dokter?” tanay Debby dengan air matanya yang masih saja mengalir membasahi wajah cantik gadis itu.
“Keadaan papa Anda sudah mulai membaik dan operasinya berjalan dengan lancar. Beruntung Papa Anda segera dibawa jika terlambat lima menit lagi mungkin nyawanya sudah tidak tertolong,” ucap dokter tersebut yang kini membuat Debby menghembuskan nafasnya lega mendengar ucapan dokter tersebut.
“Terima kasih dok,” ucap Debby yang di jawab dengan anggukan oleh dokter tersebut.
“Kalau begitu saya permisi dulu. Pasien akan segera dipindahkan ke ruangannya,” ucap dokter tersebut yang Debby balas dengan anggukan. Ia benar-benar lega mendengar jika ayah nya sudah terselamatkan.
***
Debby menggenggam tangan ayahnya begitu erat, kini ia bahkan tertidur dengan menggenggam tangan ayahnya. Ayahnya kini masih belum saja membuka matanya. Bahkan hingga pagi menjelang kini ayahnya itu masih belum saja membuka matanya.
Sebuah elusan di kepala Debby membuat Debby segera menegakkan kepalanya. Ia pikir itu adalah ayahnya namun saat melihat ke arah ayahnya ternyata laki-laki paruh baya itu masih setia memejamkan matanya.
“Udah pagi, ke kamar mandi dulu sana. Aku sudah beli makanan untuk sarapan,” ucap laki-laki yang tadi mengelus puncak kepala Debby yang tak lain adalah Eric.
Debby menghembuskan nafasnya kasar yang dijawab dengan anggukan kasar mendengar ucapan Eric. Namun akhirnya ia segera menganggukkan kepalanya. Lalu ia segera pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah Eric bawakan untuk nya kini Debby berjalan ke arah Eric yang kini terlihat begitu fokus dengan iPad di tangannya.
“Ada apa Eric?” tanya Debby menaikkan sebelah alisnya saat melihat wajah Eric yang mengeras menandakan jika kini laki-laki itu tengah marah.
__ADS_1
“Saham milik ayahmu kini sudah dijual oleh Linda. Dan perusahaan Sky blue kini sudah mengakuisisi perusahaan ayahmu sebagai pemilik sahabat terbesar. Dan mereka juga akan mengganti direktur utama,” ucap Eric sambil menyerahkan iPad nya pada Debby yang kini dengan segera mengambilnya.
Tangan wanita itu kini mengepal dengan begitu erat menunjukkan kemarahannya pada berita yang kini di lihat nya, kedua wanita itu memang iblis. Dan ayahnya begitu bodoh mempercayai mereka. Kini perusahaan yang sudah ayahnya bangun dengan susah payah dari nol malah harus diambil oleh mereka.
“Mereka semua memang benar-benar iblis,” kesal Debby sambil memberikan kembali iPad milik Eric pada sang empunya.
Debby menghembuskan nafasnya kasar. Tatapannya kini menyorot ke arah ayahnya dengan tatapan sedih nya. Ia tak mengerti mengapa ayahnya itu dulu begitu bodoh dengan mempercayai mereka.
“Kau tenang saya, aku akan mengurus nya,” ucap Eric sambil menampilkan senyuman terbaik nya untuk menenangkan Debby yang kini terlihat begitu kacau.
“Kau jaga dirimu dengan baik. Aku akan ke kantor. Habiskan makananmu,” ucap Eric sambil mengelus puncak kepala Debby sayang lalu mengecup kening wanita nya itu. Setelahnya baru ia segera pergi dari sana.
Debby kini memilih untuk segera menghabiskan makanannya. Hingga setelah selesai ia segera berjalan ke arah ayahnya itu dan kembali menggenggam tangan ayahnya.
Suara pintu di buka membuat Debby segera mengalihkan tatapan nya ke arah pintu. Hingga kini ia dapat melihat Luis yang berjalan ke arah nya dengan senyumannya yang mengebang dengan begitu sempurna.
“Aku hanya ingin menjenguk Papa mu,” ucap Luis yang membuat Debby menghembuskan nafasnya dan menganggukkan kepalanya. Setelahnya ia segera mengajak Luis untuk segera duduk di sofa yang berada di sana ruangan itu.
“Duduklah,” ucap Debby yang Luis balas dengan anggukan. Luis memberikan buah yang dibawanya untuk Debby.
“Terima kasih Luis,” ucap Debby dengan tulus yang dijawab dengan anggukan oleh Luis.
“Aku berharap ayahmu akan baik-baik saja,” ucap Luis yang Debby balas dengan anggukan.
Luis kini mendekatkan tubuhnya pada Debby lalu menggenggam tangan Debby yang membuat Debby tersekjet melihat nya.
“Luis, apa yang kau lakukan?” tanya Debby dengan begitu terkejutnya.
__ADS_1
“Debby, apa aku benar-benar sudah tak memiliki kesempatan lagi untuk mu?” tanya Luis dengan tatapan sendunya pada Debby. Melihat hal itu Debby segera menarik tangannya. Ia tak ingin Eric tiba-tiba muncul dan terjadi kesalah pahaman.
“Hentikan Luis. Kita sudah pernah membicarakan ini,” ucap Debby dengan tatapan lelah nya pada Luis.
Untuk saat ini ia benar-benar tak ingin untuk mencari masalah dengan Eric, laki-laki itu sudah banyak membantunya. Meskipun dulu Luis yang selalu berada disisi nya namun kini Eric lah yang banyak membantunya.
Dan lagi mengingat bagaimana laki-laki itu saat marah, Debby tak ingin untuk membuat Eric marah. Jadi lebih baik ia menghindari pertengkaran dengan Eric.
“Aku masih begitu mencintai mu Debby,” ucap Luis dengan tatapan sendunya pada Debby. Namun Debby kini berusaha untuk tetap bersikap baik pada Luis meskipun sebenarnya ia ingin Luis untuk segera pergi sebelum Eric datang.
“Tapi aku sudah tidak mencintaimu lagi Luis. Sekarang aku hanya mencintai Eric,” ucap Debby dengan tatapan serius pada Luis berusaha meyakinkan laki-laki di depannya itu untuk tidak lagi mengganggunya.
“Luis, aku tak ingin mencari masalah dengan Eric. Jadi aku mohon, hentikan semua ini Luis,” ucap Debby memohon pada Luis agar bisa untuk mengerti dirinya.
“Perasaan mu pada ku benar-benar sudah tak ada?” tanya Luis lagi berusaha menggoyahkan hati Queena. Queena menghembuskan nafasnya sambil menganggukkan kepalanya.
“Jika kau memang benar-benar mencintaimu. Maka biarkan aku bahagia dengan pilihan ku. Aku akan selalu mendukungmu Luis. Aku akan selalu menjadi sahabat mu,” ucap Debby dengan senyumannya pada Luis yang kini tersenyum begitu sinis sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
“Baiklah jika bahagia mu memang benar-benar Eric. Aku akan mengikhlaskanmu. Bahagia selalu Debora, kau akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati ku,” ucap Luis yang sekarang sudah berdiri dari posisinya.
Melihat Luis yang berdiri. Debby juga segera berdiri dan tersenyum ke arah laki-laki itu.
“Bolehkah kau memelukku untuk terakhir kali nya?” tanya Luis meminta pada Debby. Debby terdiam sejenak sebelum akhirnya ia memeluk laki-laki tersebut untuk pelukan perpisahan.
Namun tanpa mereka tahu jika kini ia yang tengah memperhatikan mereka dengan tangan yang terkepal sempurna.
***
__ADS_1