Ghost Husband

Ghost Husband
είκοσιεφτά


__ADS_3

Eric kini berdiri di depan sebuah mobil di parkiran rumah sakit dengan tatapan yang menatap lurus ke arah depan. Batang rokok di tangan kanan laki-laki tersebut, dengan sebelah tangannya lagi yang masuk ke dalam saku celana nya.


Hembusan asap rokok mengepul di udara. Tatapan tajam itu seolah siap membunuh siapa saja. Hingga banyak yang takut melihat nya. Meskipun sebenarnya banyak yang ingin mengagumi wajah tampan itu. Namun karena terlalu takut dengan tajamnya sorot mata laki-laki itu akhirnya mereka tak berani untuk melihat nya.


Setelah jauh baru lah mereka berani untuk melihat nya. Hingga seorang laki-laki kii berjalan ke arah Eric dengan wajah tegasnya. Melihat hal itu senyuman sinis terlihat jelas di wajah Eric.


“Sudah selesai berbincang dengan tunangan ku Tuan Luis?” tanya Eric dengan menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum evil pada laki-laki yang tak lain adalah Luis.


Mendengar pertanyaan itu Luis tersenyum dengan begitu sinis sambil menganggukkan kepalanya. Tatapannya kini sama sekali tidak takut pada laki-laki di depannya itu meskipun kini Eric sudah menatapnya dengan tatapan menghakimi.


“Hm, sepertinya Anda sudah mengetahuinya tuan Eric,” ucap Luis dengan senyuman sinisnya yang terlihat begitu menantang. Eric kini tersenyum evil sambil menganggukkan kepalanya mendengar pernyataan dari Luis.


“Meminta sebuah pelukan pada wanita orang lain bukankah sesuatu yang tidak pantas untuk kau lakukan Tuan Luis?” tanya Eric dengan menaikkan sebelah alisnya yang kini malah membuat Luis terkekeh mendengar ucapan Eric.


“Hanya sebuah pelukan perpisahan, lagipula bukankah sebuah pelukan adalah hal yang lumrah?” tanya Luis dengan begitu sinisnya pada Eric yang kini terkekeh mendengar nya sambil menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari laki-laki di depannya itu.


“Aku harap itu benar-benar pelukan perpisahan karena aku sudah berbaik hati membiarkan mu memeluk wanita ku. Jika kau berani untuk muncul lagi di kehidupan kami maka aku tak akan sungkan untuk membuat mu menanggung akibat nya,” ucap Eric dengan begitu tegas nya pada Luis yang kini menatap Eric dengan ajah seriusnya.


Luis menghembuskan nafasnya. Mungkin memang sudah saat nya ia untuk mendengarkan apa yang Debby uapkan agfar melepaskannya dan membiarkan wanita itu bahagia dengan pilihannya. Ini memang sudah hukuman yang harus ia tanggung karena telah menyakiti Debby.


“Kau tenang saja Tuan Eric, aku akan melepaskan Debby. Aku berharap kau bisa untuk menjaga nya dengan baik, dan tidak menyakitinya seperti aku yangs duah menyakitinya. Dia adalah gadis yang baik jadi kau harus menjaganya dengan baik. Jika kau menyakitinya maka aku dengan siap akan segera mengambilnya kembali,” ucap Luis sambil menepuk pundak Eric dengan senyumannya tenang nya.

__ADS_1


“Ah dan ya, kau sedang mengurus masalah perusahaan Debby? Aku memiliki tiga puluh persen dari saham itu. Karena dulu mereka pernah bangkrut dan aku yang menolong nya. Aku bisa menjual nya pada mu dua puluh persen namun itu harus kau tulus dengan nama Debby sebagai pemiliknya,” ucap Luis yang kini sudah mengalihkan pembicaraan mereka ke arah bisnis. Mendengar ucapan tersebut Eric menaikkan sebelah alisnya sebelum akhirnya menipiskan bibirnya.


“Baiklah, kau bisa bicara kan itu dengan asisten ku. Datang lah ke kantor ku, aku akan menyampaikan pada asisten ku untuk menyambut mu,” ucap Eric dengan begitu sinisnya. Setelah nya ia segera pergi dari sana meninggalkan Luis yang kini menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Eric.


Eric kini berjalan dengan cepat menuju ruangan ayah Debby dirawat, tadi ia memang sudah sampai namun saat melihat jika Debby berpelukan dengan Luis ia memutuskan untuk menunggu Luis di mobil laki-laki itu karena tak ingin membuat keributan di dalam rumah sakit. Namun siapa yang sangka jika Luis bisa berbicara dengannya tanpa menggunakan emosi begitupun dengannya.


Eric baru saja akan memasuki lift, saat siara ponsel nya membuat laki-laki itu mengurungkan niat nya untuk menuju ke arah lift. Kini ia memilih untuk menjawab telepon yang tak lain adalah dari Arthur.


“Ada apa Arthur?” Tanya Eric tanpa basa basi pada bawahannya itu.


“Saya sudah membawa kedua wanita itu ke ruang bawah tanah, Tuan,” ucap Arthur di seberang sana yang membuat seringai tercetak jelas di wajah laki-laki tersebut. Eric menganggukkan kepalanya tanpa menjawab ucapan Arthur ia dengan cepat menuju ke arah mobilnya untuk menuju ke arah rumahnya dan menemui tamu nya.


Ya tamu, yang ia dapatkan setelah ia tangkap dengan susah payah. Mobil bugatti berwarna hitam  itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan menuju ke arah mansionnya. Saat ia sampai di mansion besar, penjaga segera membukakan pintu untuknya.


Eric segera turun dari mobilnya lalu berjalan dengan langkah tegas dan seringainya memasuki ruangan dengan tangga yang menurun itu. Saat sampai di ruangan tersenyum seringainya terlihat begitu menyeramkan melihat dua wanita yang kini meringkuk dalam kegelapan itu.


Arthur yang sedari tadi memegang pisau segera memberikan pisau tersebut pada Tuan nya itu.


“Mengapa kau mengikat mulutnya Arthur? Lihat lah, mereka kesusahan berbicara,” ucap Eric pada Arthur yang kini terlihat masih menampakkan wajah datar nya.


Kedua wanita itu yang mendengar ucapan Eric menganggukkan kepalanya, mereka mengira jika Eric akan menyelamatkan mereka. Namun di luar dugaan Eric malah membuka ikatan di mulut mereka dengan memotong kain di mulut mereka dengan pisau yang dipegang nya, hingga kini pisau tersebut berhasil melukai mereka.

__ADS_1


Darah mulai menguar dari pipi kedua wanita itu membuat pekikan rasa sakit yang terasa bagi mereka.


“Apakah terasa sakit?” tanya Eric dengan tatapan seriusnya menatap ke arah kedua wanita tersebut yang kini semakin dibuat ketakutan dengan perlakuan Eric. Mereka tak menyangka jika Eric yang tampan memiliki sisi gelap nya sendiri.


“Lalu bagaimana dengan ini?” tanya Eric lagi sambil menusukkan pisaunya ke arah perut kedua wanita itu. Tak terlalu dalam namun mampu membuat luka yang menganga di perut kedua wanita itu.


“Ini tak sebanding dengan rasa sakit yang kalian berikan pada wanita ku. Kalian harus merasakan yang lebih,” ucap Eric yang kini semakin membabi buta memberikan luka pada tubuh kedua wanita itu. Luka yang tak terlalu dalam namun jelas menimbulkan efek perih yang begitu besar.


“Bagaimana dengan penjualan saham nya? Kalian gunakan untuk apa uang nya? Apa kalian sudah bersenang-senang? Maka kali ini temani aku bersenang-senang,” ucap Eric lagi yang tak membiarkan kedua wanita di depannya itu untuk membuka suara nya untuk menjelaskan. Ia benar-benar tak ingin untuk mendengar sebuah omong kosong.


Terakhir Eric mengambil sebuah gergaji kayu yang disodorkan oleh bawahannya lalu dengan tidak berperasaan laki-laki itu malah memotong kaki Luar juga tangan Linda. Laki-laki itu kini sudah seperti monster.


“Kau bukan manusia,” ucap Laura yang terdengar begitu lemah namun masih bisa Eric dengar dengan begitu jelas.


“Aku memang bukan manusia, lihat ini,” ucap Eric sambil membuka tangannya dan mengeluarkan api dari tangannya itu membuat Laura dan Linda yang melihat nya membelalakkan matanya.


Kini mereka berpikir jika itu hanya lah halusinasi karena mereka akan segera mati namun tak lama api itu malah terasa membakar rambut mereka membuat mereka menjerit sedangkan Eric kini hanya tertawa mendengar nya.


Setelah puas ia membuat semua alat yang dipegangnya, Melihat itu Arthur segera memberikan lap untuk Eric.


“Berikan mereka pada dark beauty family,” ucap Eric tegas dan setelah nya ia segera pergi dari sana sambil mengelap tangan dan wajah nya yang terkena darah kedua wanita itu.

__ADS_1


Dark beauty adalah hewan kesayangan Eric yang tak lain adalah sekumpulan ikan Piranha peliharaannya.


***


__ADS_2