Ghost Husband

Ghost Husband
εικοσι εξι


__ADS_3

“Sudah puas berbicara nya? Bukankah kau harus melakukan bimbingan? Dan apa kau bisa melihat jika berjalan seperti itu?” tanya seseorang di belakang Debby yang kini sontak membuat Debby membalikkan tubuhnya. Mata nya langsung membola saat melihat laki-laki di belakang nya itu., Tak hanya Debby. Alice bahkan kini juga dibuat terkejut melihat nya.


“Eric, mengapa kau ada di sini?” tanya Debby dengan tatapan terkejut nya melihat Eric yang kini berada di depannya. Alice kini masih mengerjapkan matanya tak percaya melihat apa yang tersaji di depannya ini. Ia pikir sahabatnya itu hanya bercanda namun setelah melihat nya secara langsung kini Elece percaya dengan apa yang Debby katakan.


Ia benar-benar tak menyangka jika setelah dibuang bak sampah oleh Luis kini Debby malah di pungut seperti berlian oleh laki-laki yang jelas jauh lebih baik dalam segala hal dari Luis. Apa ini memang hukum alam? Yang dibuang akan selalu mendapatkan yang lebih baik. Sedangkan yang membuat akan mendapatkan yang lebih buruk dari yang ia uang.


Takdir memang bekerja dengan begitu baik dalam memainkan karma. Dan Laura, Alice percaya suatu hari nanti wanita itu akan mendapatkan balasannya karena merebut milik wanita lain. Hari pembalasan itu memang nyata adanya.


“Aku sekarang menjadi dosen di sini. Dan aku adalah dosen pembimbing mu yang baru,” ucap Eric menjelaskan yang membuat Debby kini tercengang mendengar ucapan Eric.


Ia pikir, ia sudah terbebas dan bisa menghirup udara segar karena terbebas dari Eric namun kini laki-laki itu malah menjadi dosen pembimbing nya.


“Kau tidak bekerja?” tanya Debby dengan tatapan tak percaya nya pada Eric.


“Aku sudah meminta Arthur untuk melakukannya. Lagi pula aku khusus dosen pembimbing mu saja. Jadi aku masih bisa ke kantor nanti,” ucap Eric dengan begitu santainya yang kini malah membuat kedua gadis di depannya itu menggelengkan kepalanya tak percaya dengan ucapan Eric.


“Kau sangat posesif Eric,” kesal Debby yang tak habis pikir dengan laki-laki di depannya itu. Namun lagu-lagi kini ia hanya bisa untuk menurutinya saja karena Eric memang tidak bisa di bantah.


“Yah, itu lah aku,” ucap Eric acuh.


Elice kini menatap prihatin pada sahabatnya itu. Ia memang mendapatkan yang jauh lebih baik dan yang jauh lebih mencintainya. Serta jauh lebih takut kehilangan Debby, hingga sikap posesif lah yang kini malah  harus Debby tangani.


“Ah sudah lah, kau memang selalu melakukan apa yang kau mau,” ucap Debby dengan pada laki-laki tersebut yang kini hanya menatap datar pada Debby.

__ADS_1


“Ah ya, perkenalkan ini Alice, sahabat ku. Dan Alice ini Eric, kau sudah mengetahui  nya bukan?” tanya Debby yang kini memperkenalkan kedua orang yang berada di sekitar nya itu.


“Dan aku adalah tunanganmu,” ucap Eric menambahkan yang membuat Debby kini memutar bola matanya malas mendengar ucapan tersebut.


“Aku akan mengundangmu nanti di acara pernikahan ku,” ucap Debby dengan senyuman mengejeknya pada sahabatnya itu yang kini hanya berdecih mendengar ucapan sahabatnya itu. Namun jelas ia ikut senang mendengarnya. Ia hanya bisa mengharapkan yang terbaik untuk sahabatnya itu.


“Berbahagia lah, aku pergi dulu. Kau memang harus membalaskan dendam pada mereka,” ucap Alice dengan senyumannya yang membuat Debby terkekeh mendengarnya. Alice melambaikan tangan pada sahabatnya itu lalu segera pergi dari sana.


“Jika kau adalah guru pembimbing ku. Untuk apa aku datang ke kampus?” tanya Debby dengan berdecih lalu segera pergi meninggalkan Eric yang kini hanya menggeleng dengan senyuman tipisnya melihat gadisnya yang tengah kesal itu kini perlahan menjauh darinya.


 ***


Malam ini udara malam cukup dingin. Namun semua itu bahkan sama sekali tidak dihiraukan oleh gadis yang kini terlihat fokus dengan tugas kuliah yang tengah dikerjakannya itu sama sekali tidak memperdulikan itu dan tetap saja melanjutkan pekerjaannya di depan laptop.


“Kau tak merasa kedinginan?” tanya Eric pada Debby yang kini menoleh ke arah Eric sambil menganggukkan kepalanya.


“Tapi aku begitu malas mengambil selimut atau mematikan ac dan menyalakan penghangat,” ucap Debby yang membuat Eric kini menggelengkan kepalanya mendengar ucapan gadisnya itu.


Eric segera mengambil selimut untuk Debby lalu memakaikannya pada gadisnya itu. Setelahnya ia memilih untuk mematikan ac juga menyalakan penghangat ruangan. Debby yang melihat hanya bisa tersenyum. Ia begitu senang melihat perhatian Eric terhadap nya.


Selesai selesai laki-laki itu memilih menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah selesai ia segera kembali menuju ke arah Debby dan duduk di samping Debby yang kini duduk di bawah ranjang dengan karpet bulu sebagai alas nya.


“Kau masih belum menyelesaikannya?” tanya Eric melihat apa yang kini tengah Debby kerjakan.

__ADS_1


“Tutup mulutmu. Kau membuat ku mengubah banyak hal, kau memang sangat bawel,” kesal Debby pada Eric yang kini malah terkekeh mendengar ucapan gadisnya itu.


“Undangan untuk pernikahan kakak dan mantan kekasihmu,” ucap Eric sambil menyerahkan sebuah undangan pada Debby.


Debby segera melihatnya lalu mengambilnya. Ia melihat undangan tersebut. Undangan yang sama persis seperti yang pernah ia desain untuk undangan pernikahannya nanti bersama dengan Luis. Namun siapa sangka kini justru desain tersebut menjadi desain undangan Luis dengan Laura.


“Kita tak perlu datang,” ucap Debby sambil menyerahkan undangan itu lagi pada Eric.


“Kita akan datang,” tegas Eric yang kini membuat Debby langsung menoleh ke arah Eric dengan tatapan kesalnya.


“Kalau begitu kau datang lah sendiri. Karena aku tak ingin untuk datang,” ucap Debby acuh dan kini malah mematikan laptopnya. Setelahnya ia segera pergi untuk menaruh laptop nya itu di tempat nya. Setelahnya ia segera berjalan ke arah ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terasa begitu lelah.


Eric yang melihat hal itu hanya hanya menghembuskan nafasnya kasat sambil mengikuti kemana pergi nya Debby. Melihat Debby yang kini sudah menutup sebagai tubuh nya dengan selimut. Eric juga ikut masuk ke dalam selimut sambil memeluk Debby.


Debby awalnya sudah akan protes. Namun ia urungkan karena menurutnya akan percuma sama. Lagi pula Eric memang susah dibantah dan suka melakukan apapun semaunya.


“Kita akan datang, bukankah kau ingin membalas perbuatan mereka?” tanya Eric yang kin membuat Debby mengerutkan keningnya bingung.


Tatapannya kini terarah pada Eric dengan menaikkan sebelah alisnya.b


“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Debby pada Eric dengan tatapan penuh tanya nya.


“Kita lihat saja nanti,” ucap Eric dengan seringainya.

__ADS_1


***


__ADS_2