
Tatapan Debby kini begitu sendu menatap ke arah gadis di depannya yang kini tengah memasukkan koper nya ke arah mobil. Kini ia tengah berada di dunia mortar untuk mengantar Mylin untuk menuju kediamannya sendiri yang sudah di belikan oleh Eric untuk nya.
“Kau harus menjaga dirimu dengan baik. Datang lah ke mansion ini atau ke istana sesekali,” ucap Debby memperingati Mylin yang membuat Mylin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Debby.
“Kau tenang saja Debby, aku akan sering datang,” ucap Mylin dengan senyumnya pada Debby yang kini ikut tersenyum lalu mereka saling berpelukan.
Kini semua sudah menyetujui perceraian Eric dengan Mylin. Meskipun sebelumnya mereka begitu banyak mendapatkan pertentangan dari keluarga mereka. Pada akhirnya kini resmi untuk bercerai. Dan Mylin yang akan memulai karirnya dengan menjadi model. Eric yang memiliki perusahaan entertainment akhirnya ia merekrut Mylin di perusahaan nya.
“Kau harus menjaga dirimu dengan baik, juga harus sering berlatih,” pesan Mylin pada Debby setelah melepaskan pelukan mereka. Debby tersenyum sambil menjawabnya dengan anggukan.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Kalian jaga diri baik-baik,” ucap Mylin lagi yang dijawab dengan anggukan oleh Debby dan Eric yang kini merangkul pinggang Debby dengan begitu mesra nya.
Setelah nya Mylin segera masuk ke dalam mobilnya. Hingga mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang keluar dari mansion.
“Ayo, lebih baik kita sekarang kembali ke istana,” ajak Eric pada istrinya itu yang kini malah cemberut sambil menggelengkan kepalanya.
“Eric, malam ini kita di sini saja. Aku begitu lelah,” ucap Debby dengan tatapan memohonnya pada Eric. Eric menghembuskan nafasnya tampak berpikir sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, tapi besok kita sudah harus kembali ke istana,” ucap Eric dengan tatapan seharusnya pada Debby yang kini membalas nya dengan anggukan.
Setelah ya mereka segera masuk ke dalam mansion untuk beristirahat karena ini adalah jam istirahat siang untuk Debby. Dan hari ini Eric juga tidak ke kantor untuk menemani Debby.
***
Hari demi hari mulai berganti. Bulan demi bulan telah ganti. Kini usia kehamilan Debby sudah memasuki usia delapan bulan. Hanya tinggal menunggu hari lagi maka Eric dan Debby sudah bisa melihat anak mereka. Namun mereka jelas sudah tak sabar untuk itu.
__ADS_1
Debby kini tengah berjalan-jalan di taman bersama dengan Eric yang kini menemani nya. Tangan Eric tak pernah melepaskan tangan Debby yang saat ini ia tuntun untuk berjalan karena Debby yang tanpa kesusahan berjalan.
“Duduklah dulu, kau pasti lelah,” ucap Eric sambil membantu wanita nya itu untuk duduk di paviliun yang berada di tengah danau.
“Aku begitu tak sabar menunggu nya untuk keluar dari perut ku ini,” ucap Debby dengan kekehannya sambil mengelus perut nya. Eric yang melihat nya juga ikut tersenyum sambil mengelus perut istri nya itu.
“Aku juga tak sabar menunggu kehadiran nya,” ucap Eric dengan senyumannya. Saat tangan Eric mengelus perut nya, Debby dapat merasakan sebuah ketenangan dalam elusan tersebut. Hingga sebuah tendangan yang begitu keras terasa ada tangan Eric. Membuat Debby meringis karena nya, sedangkan Eric kini malah terkekeh karena tendangan anaknya itu.
“Hey, kau menendang Daddy lagi? Kau tahu aku ini putra Mahkota. Berani nya kau menendangku,” sungut Eric dengan kekehannya yang kini membuat Debby menggeleng mendengar ucapan suami nya itu.
“Kau sepertinya begitu bangga dengan kedudukanmu itu Yang Mulai Putra Mahkota,” ucap Debby dengan senyuman mengejek nya pada Eric. Eric tersenyum dengan begitu bangga ke arah Debby.
“Tentu saja,” bangga nya yang kini semakin membuat Debby terkekeh mendengar nya.
Eric mengulurkan tangannya agar Debby menyambut uluran tangan itu lalu mereka segera berjalan ke arah kamar mereka untuk membersihkan tubuh dan bersiap untuk makan malam bersama.
***
Debby merebahkan tubuhnya di pangkuan Eric dengan tangan laki-laki itu yang kini terus mengelus puncak kepalanya dengan begitu lembut. Berada di posisi seperti ini dengan Eric memang begitu menenangkan untuk Debby.
“Kau sudah mempersiapkan nama untuk anak kita?” tanya Debby pada Eric sambil menatap suaminya itu dengan tatapan lembut nya. Eric kini tampak berpikir sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
“Sejak kapan?” tanya Debby penasaran pasalnya mereka belum membicarakan hal ini sebelumnya.
“Sejak tadi saat kau bertanya,” ucap Eric dengan begitu santainya yang kini malah membuat Debby melongo mendengarnya. Padahal tadi ia hanya terdiam sangat sebentar dan kini laki-laki itu sudah mendapatkan nama untuk anak mereka?
__ADS_1
“Siapa?” tanya Debby dengan tatapan penuh tanya nya, namun bukannya menjawab pertanyaan dari istrinya itu Eric kini malah tersenyum dengan begitu lebar nya.
“Rahasia,” jawab Eric yang membuat Debby kini hanya berdecak mendengarnya.
“Ish awas saja jika kau memberi anakku nama yang jelek dan asal-asalan,” kesal Debby pada Eric yang kini malah hanya terkekeh mendengar gerutuan dari istri nya itu.
“Sudah lah, ayo tidur. Saat anak kita terlahir pun kau akan tahu,” ucap Eric sambil mengecup puncak kepala Debby. Debby hanya berdecih lalu setelahnya ia segera mengubah posisi nya. Eric kini juga ikut berbaring di samping Debby sambil mengelus perut istrinya itu dengan begitu lembut nya.
“Eric, kau tahu bukan jika melahirkan nyawa menjadi taruhannya?” tanya Debby tiba-tiba. Eric yang kini memeluk Debby dari belakang sambil mengelus perut Debby. Menghentikan aksinya lalu. Sorot matanya kini menatap tajam ke arah Debby yang sudah membalikkan tubuhnya untuk menatap Eric.
“Apa yang kau katakan?” tanya Eric dengan tatapan tak suka nya pada Debby. Namun wanita itu malah tersenyum dengan begitu lebar nya.
“Aku hanya bertanya,” ucap Debby menenangkan namun Eric kini malah terus menatap nya begitu tajam.
“Namun aku tak menyukai nya,” jawab Eric tegas.
“Eric kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi. Jika kau diminta untuk menyelamatkan salah satu dari kami, maka pilih lah anak kita. Dia ingin melihat dunia, sedangkan aku. Aku sudah melihat indah nya dunia dan ada kau di dalam nya,” ucap Debby dengan senyuman lembut nya sambil mengelus pipi Eric.
“Aku tak suka dengan ucapan mu. Kau harus tetap berada di sisi ku dan menemani anak kita. Menjaga nya hingga besar bersama ku,” tegas Eric. Ia begitu tak ingin mendengar ucapan Debby. Ketakutan terbesar nya adalah kehilangan Debby jadi ia tak akan bisa jika ia sampai harus kehilangan Debby.
“Baiklah, aku tak akan mengatakannya lagi,” ucap Debby lalu ia memilih untuk memeluk suaminya itu yang juga dibalas dengan pelukan oleh Eric.
***
__ADS_1