
Debby kini terus saja menggerutu karena Eric yang malah menggodanya. Ia begitu kesal pada laki-laki itu. Kini ia lebih memilih untuk mengambil minuman. Hingga seorang laki-laki kini menghampirinya dengan senyuman yang begitu cerah.
“Debby, kau datang nak?” pertanyaan itu terlontar dari laki-laki yang tak lain adalah ayahnya itu saat melihat Debby yang kini berada dalam acara tersebut. Debby melihat sekolah ke arah ayahnya lalu mengalihkan fokus nya pada makanan di depannya.
“Kau masih marah pada Papa?” tanya Pater menatap anaknya itu yang kini malah mengabaikannya.
“Sayang,” panggil Eric yang kini sudah berada di samping Debby dan menarik gadisnya itu dalam pelukannya.
“Tuan Eric, kau juga datang?” tanya Pater menyambut Eric dengan senyumannya yang dijawab dengan anggukan oleh Eric.
“Tentu saja, bagaimana mungkin aku akan meninggalkan Debby pergi sendiri ke tempat ini?” tanya Eric dengan senyuman sinisnya yang seolah begitu menampar bagi Pater.
“Kalau begitu kalian nikmati lah pesta nya,” ucap Pater yang memilih untuk segera pergi dari sana.
Debby yang melihat itu hanya berdecih sedangkan Eric menggelengkan kepalanya melihat reaksi Debby. Sepertinya kekecewaan yang gadis itu tanggung sudah begitu besar hingga ia terlihat begitu enggan dengan ayahnya sendiri.
“Aku merasa ingin segera pulang saja,” ucap Debby dengan kekesalannya. Eric yang mendengarnya malah langsung menarik pinggang Debby untuk lebih dekat dengannya lalu membisikkan sesuatu yang membuat Debby memelototkan matanya mendengarnya.
“Mengapa? Apa kau ingin bersenang-senang di rumah saja?” tanya Eric dengan seringainya yang kini langsung membuat Debby mencubit pinggang Eric, Bukannya kesal Eric kini malah terkekeh melihatnya.
Tanpa mereka tahu jika kini ada laki-laki yang terlihat kesal melihat pemandangan di depannya itu. Meskipun ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya namun melihat Debby bersama dengan laki-laki lain membuat hatinya begitu sakit.
“Apa yang terjadi pada ku?” tanya laki-laki tersebut yang tak lain adalah Luis sambil memegangi dadanya yang terasa begitu sesak melihat adegan di depannya.
__ADS_1
“Luis, kau mengapa?” tanya Laura sambil memegangi tangan Luis. Luis segera menegakkan tubuhnya sambil menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari wanita yang kini resmi menjadi istrinya itu.
Luis menoleh ke arah Laura sambil menggelengkan kepalanya. Mengatakan jika dia baik-baik saja. Namun tatapannya kini tak pernah lepas dari gadis di depannya itu.
Debby dan Eric kini terlihat begitu asyik bercanda sambil menikmati makanan yang sudah di sajikan di sana dengan berbagai warna juga rasa.
"Mana pertunjukan yang kau maksud?" Tanya Debby menangis ucapan Eric yang mengatakan jika ia akan memberikan semua pertunjukan untuk Debby. Eric yang mendengar pertanyaan dari Debby kini malah menyeringai.
"Hentikan, kau membuat ku takut melihat nya," ucap Debby sambil membekap mulut Eric karena ia tak senang melihat Eric yang kini malah menampilkan serungainya yang menurut Debby bukannya menyeramkan namun begitu membuat Eric semakin mempesona.
"Baiklah, aku tak akan melakukannya lagi. Untuk pertunjukan itu kau akan segera melihatnya. Tapi bukankah lebih baik kita memberi selamat dulu pada mereka," ucap Eric dengan senyumannya yang membuat Debby menarik nafasnya dalam.
Sedari ia berusaha agar tak melihat Luis, namun kini Eric malah mengajaknya untuk datang ke atas mempelai dan memberikan ucapan selamat pada mereka. Sial, bisakah Debby melakukannya? Apakah hatinya sudah siap untuk itu?
Eric menarik pinggang Debby agar lebih dekat dengannya lalu membisikkan kata-kata pemenang untuk gadisnya itu.
Ucapan Eric memang benar-benar menghipnotis Debby. Menenangkan dan seolah ia memang mencintai Eric. Eric merangkul pinggang Debby dengan posesif membawa gadis nya itu menuju pelaminan untuk memberikan selamat pada Luis juga Laura.
“Debby kau datang?” tanya Laura dengan senyuman palsu nya menyambut Debby yang kini malah membuat Debby menatap datar pada Laura. Ia benar-benar muak dengan wanita di depannya itu.
Luis kini tak pernah melepaskan tatapannya dari Debby, ia seolah merasa begitu terluka melihat gadis itu kini berada di dekat laki-laki lain. Hingga sakit kepala yang begitu sangat langsung menghujam kepalanya. Potongan-potongan kecil sebuah ingatan seolah datang namun terlihat begitu samar.
Eric yang melihat nya tersenyum sinis, karena jelas itu ulah nya yang ingin menyiksa Luis. Laura yang melihat hal itu bahkan terkejut dan langsung memegangi Luis. Sedangkan Debby kii langsung menoleh ke arah Eric dengan tatapan penuh tanya nya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” tanya Laura pada Luis yang kini berusaha menghilangkan sakit kepalanya itu.
“Tidak, hanya sedikit pusing,” ucap Luis yang kini sudah kembali mengontrol dirinya.
Debby kini terus saja menatap Luis dengan tatapan khawatirnya. Namun entah mengapa saat ia kini melihat Luis bersama dengan Laura, tak ada lagi sakit yang ia rasakan. Atau memang semua sudah pudar? Apa perasaannya memang begitu cepat pergi?
Kini hanya ada kekhawatiran pada seorang sahabat saja yang ia rasakan. Eric yang melihat tatapan khawatir Debby pada Luis menjadi kesal sendiri. Ia tak suka jika Debby memberikan tatapan seperti itu pada laki-laki lain.
“Kami hanya ingin mengucapkan selamat pada mu, dan sepertinya suamimu sedang sakit. Kalau begitu kami pergi dulu,” ucap Eric yang setelah nya langsung pergi begitu saja dengan membawa Debby bersama nya. Merangkul wanita nya itu dengan begitu posesif.
Laura membantu Luis untuk duduk. Namun tangannya begitu mengepal saat melihat Debby yang kini jauh terlihat lebih bahagia dengan barang-barang limited yang dikenakannya. Membuat Laura iri saja melihat nya.
“Apa yang kau lakukan pada nya?” tanya Debby saat mereka sudah turun dari pelaminan.
Eric melihat ke arah Debby dengan seringainya yang malah begitu menakutkan bagi Debby. Tak hanya begitu menakutkan namun membuat detak jantungnya menjadi tak karuan melihat hal itu. Ketampanan laki-laki terlihat tak nyata dengan senyum nya itu.
“Hanya membuat nya sedikit mengingat mu juga perasaannya padamu. Kau tahu kan orang yang hilang ingatan hanya lupa pada ingatannya saja bukan perasannya. Dan aku membantu nya mengingat sedikit kenangan nya bersama mu. Bukankah kau ingin dia merasakan sakit yang kau rasakan?” tanya Eric dengan begitu sinisnya yang membuat Debby terkejut mendengar nya.
“Kau tak takut jika akhirnya aku kembali pada nya saat dia meminta ku?” tanya Debby pada Eric dengan tatapan penuh tanya nya.
“Apa yang aku takutkan? Jika aku saja bisa membuat nya mengingat semua itu. Bukan tak mungkin untuk ku membuat melupakannya dan hanya mengingat ku serta mencintai ku,” ucap Eric dengan begitu angkuh.
“Kau memang suka sekali melakukan semua mu,” ucap Debby sambil berdecih. Namun tanpa bisa ditahan senyumannya juga mengembang dengan begitu sempurna.
__ADS_1
“Ya, itu lah aku,” ucap Eric dengan senyumannya lalu mencium Debby karena terlalu gemas dengan gadisnya itu.
***