
Malam ini pernikahan Eric dengan selirnya dilaksanakan. Hanya sebuah ritual yang dihadiri oleh kedua orang tua mereka. Dan setelah nya kini Selir tersebut sudah kembali ke kamar nya. Eric sendiri kini masih bersama dengan Arthur di belakang makam leluhur yang digunakan untuk tempat meminta berkat saat pengangkatan selir ataupun saat akan menikah.
“Tuan, bukankah sekarang harusnya Anda berada di kamar selir?” tanya Arthur pada atasannya itu yang kini malah terlihat begitu asik dengan dunia nya sendiri. Seolah tidak peduli dengan gadis yang baru saja diangkat menjadi selirnya.
“Apa aku harus melakukannya?” tanya Eric dengan tatapan datar nya pada Arthur yang kini menundukkan kepalanya karena terlalu takut untuk melihat Eric yang kini terlihat begitu menyeramkan saat amarah kini menguasainya.
“Maafkan kelancangan hamba, Yang mulia,” ucap Arthur menundukkan kepalanya takut mendengar ucapan Eric yang terdengar begitu menakutkan itu.
Eric menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya ia memang harus menemui wanita itu. Sekedar memberinya peringatan untuk tidak berbuat hal buruk pada Debby. Eric sudah begitu mengetahui bagaimana tabiat kebanyakan selir.
Banyak dari mereka yang berlomba-lomba untuk menjatuhkan ratu mereka ataupun menjadikan anak mereka sebagai putra mahkota. Oleh karena itu Eric tak ingin memiliki anak dari wanita lain selain istrinya, Debby.
“Bagaimana perkembangan informasi tentang Debby?” tanya Eric pada Arthur dengan tatapan penuh tanya nya.
“Saya sudah mencari tahu tentang Pater, ternyata dia adalah seorang Wizard,” ucap Arthur yang kini sonta membuat Eric segera menoleh ke arah laki-laki tersebut dengan tatapan terkejut nya.
Ingatannya kii kembali pada ucapan penjaga stand saat itu yang mengatakan jika Debby adalah Wizard. Jadi benar jika Debby adalah seorang Wizard. Fakta tersebut tentu saja membuat Eric terkejut dan juga senang karena kini ia tahu jika wanita nya bukanlah orang lemah yang bisa lagi di hina di dunianya.
“Saat aku ke pasar bersama dengan Debby. Aku bertemu dengan penjaga stand permainan. Aku mau kau mencari nya. Dai sepertinya juga seorang Wizard. Dan ya, besok aku akan menemui Pater, di pagi hari. Kau memiliki satu dua hari untuk mencari penjaga stand itu,” tegas Eric pada Arthur yang kini menjawabnya dengan anggukan.
__ADS_1
Setelahnya Eric memilih untuk pergi dari sana menuju kamar selir nya berada. Ia ingin membuat peringatan pada wanita tersebut agar tidak mengganggu putri mahkota. Ia juga ingin membuat nya mengerti agar tidak terlalu berharap pada hubungannya itu.
***
Seorang wanita kini tengah duduk di sofa kamar nya. Ia tengah menunggu laki-laki yang kini menjadi suaminya. Di depannya kini sudah terdapat alkohol juga makanan ringan untuk menemai mereka. Merasa gugup gadis tersebut mengambil minuman beralkohol tersebut lalu menegak nya hingga tandas.
Hingga tak lama pintu kamar nya terbuka menampilkan sosok laki-laki yang kini menatap nya dengan begitu tajam. Ia begitu takut dengan tatapan laki-laki tersebut. Jika bisa ia ingin pergi saja dari ruangan tersebut karena terlalu takut dengan laki-laki itu.
“Yang mulai, duduk lah,” ucap wanita tersebut dengan takut pada Eric yang kini masih saja menatapnya dengan tatapan datar nya.
“Aku tak datang untuk menikmati malam dengan mu. Aku hanya ingin memberimu sebuah peringatan agar tidak membuat masalah selama kau berada di sini. Dan lagi aku tak pernah ingin untuk mencari selir. Aku sudah cukup dengan Putri mahkota. Jadi aku peringatkan kau agar tidak berharap lebih pada hubungan ini. Karena setelah putri mahkota hamil, maka aku akan menceraikanmu. Dan lagi. Jangan pernah mengganggu Putri mahkota, atau kau akan merasakan akibat nya jika kau berani untuk mengganggu nya,” ucap Eric degan begitu tegas nya membuat peringatan pada gadis tersebut yang kini hanya bisa menunduk mendengar ucapan Eric yang begitu tegas dan begitu menakutkan itu, sarat akan sebuah ancaman dan peringatan yang tak main-main.
“Kau tenang saja Yang Mulia. Aku pun tak menginginkan pernikahan ini. Aku hanya ingin untuk pergi ke dunia manusia dan bisa untuk hidup tanpa beban di dunia immoral, aku ingin menjadi seorang aktris,” ucap wanita tersebut dengan senyumannya yang mengembang begitu sempurna. Ya, itulah cita-cita nya. Ia ingin pergi ke dunia manusia dan menyamarkan identitas nya. Mencari jati dirinya yang lain untuk hidupnya ke depannya.
“Aku dengar kau seorang Fairy. Kau ahli dalam bela diri dan menggunakan sihir. Bagaimana jika aku mengajakmu bekerja sama untuk itu?” tanya Eric yang kini membuat penawaran. Mendengar hal tersebut gadis itu menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan penuh tanya pada Eric. Seolah tertarik dengan kerja sama yang akan dilakukan bersama Lucifer tersebut.
“Apa yang kau inginkan Yang mulia?” tanya gadis tersebut dengan menaikkan sebelah alisnya seolah tertarik dengan apa yang akan dikatakan oleh laki-laki di depannya itu sambil menatap Eric dengan tatapan penuh minat nya.
“Aku hanya ingin melatih Putri mahkota, maka setelah beberapa bulan aku akan melepaskanmu. Aku akan membantumu untuk sukses di dunia manusia,” ucap Eric memberikan penawaran pada gadis di depannya itu dengan menaikkan sebelah alisnya. Gadis tersebut tapak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menyetujui tawaran Eric.
__ADS_1
“Baiklah, saya akan melakukannya. Namun Anda harus menepati ucapan Anda, Yang Mulia,” ucap gadis tersebut yang membuat Eric menganggukkan kepalanya.
Gadis tersebut mengulurkan tangannya pada Eric, membuat Eric menaikkan sebelah alisnya sebelum akhirnya ia juga menjabat tangan tersebut.
“Aku Mylan,” ucap gadis tersebut memperkenalkan dirinya yang membuat Eric menganggukkan kepalanya.
***
Debby kini menatap para [penjaga yang berlalu lalang dari balkon kamar nya bersama Eric. Terasa begitu dingin dan sepi. Air mata nya kini kembali mengalir membasahi pipi mulus nya. Ia begitu membenci keadaan ini. Jika saja bisa ia ingin untuk segera pergi dari tempat ini.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bahkan suami ku sendiri tengah bersama dengan istrinya yang lain,” ucap Debby dengan senyuman sinisnya sambil menatap langit yang kini dipenuhi oleh bintang.
“Haruskah aku membuat hujan disertai petir saja, agar mereka menghentikan aksi mereka?” tanya Debby pada dirinya sendiri sambil menatap langit dengan wajah cemberut nya. Seolah ia tengah membujuk langit untuk melakukan apa yang diinginkan.
“Tidak, jangan petir. Aku tak suka jika sampai mati lampu dengan disertai oleh petir, itu menyeramkan,” monolog Debby dengan helaan nafas kasar nya.
“Persetan dengan itu. Di sini bukanlah dunia manusia. Pasti tak akan ada mati lampu,” ucap Debby dengan kekesalannya.
“Langit, kau adalah temanku bukan? Bisakah kau membuat….” belum selesai Debby melanjutkan ucapannya kini seseorang malah memotong ucapannya.
__ADS_1
“Apa yang ingin kau lakukan sayang?”
***