Ghost Love

Ghost Love
Bab 14.Curahan hati.


__ADS_3

"Iya, ada orang yang sengaja membuat Aiden mabuk dan kemudian membunuhnya dengan cara seolah-olah dia bunuh diri. "


Marta terdiam cukup lama, entah apa yang ia pikirkan saat ini.


"Apa yang ingin lo tau tentang Aiden? "Tanya marta.


Vana tersenyum akirnya ada juga orang yang percaya dengannya. Begitupun dengan Aiden ia sangat senang karna marta bisa mempercayainya.


" Gue ingin tau apa setelah kematian aiden ada orang yang terlihat mencurigakan?" Vana memulai topik yang sangat ingin ia ketahui.


"Setelah kematian Aiden semua anak-anak sekolah berduka termasuk guru-guru semua menyayangkan kematian aiden yang terlihat sangat mengenaskan. Orang tua Aiden bahkan sempat Koma karna saking syok dengan kematian Aiden. Begitupun dengan gue dan Rendi gue sangat kehilangan dia. Gue bahkan menyalahkan diri gue karna gue ngga bisa ngelindungin dia. Dan Rendi ia pindah sekolah untuk bisa melupakan Aiden dia ngga sanggup untuk tetap sekolah di SMA Lentera bangsa. "Marta terdiam sebentar.


" Persahabatan kita hancur, gue dan Rendi bahkan ngga pernah komunikasi lagi sampai sekarang. Gue ngga tau di mana dia. Kematian Aiden merenggut semua kebahagin orang-oarang yang dekat dengan dia. "jelas Marta.


" Bagaimana dengan Reno dan gengnya, apa ada gelagat mencurigakan dari mereka?"


" ngga ada yang mencurigakan dari dia. Setelah Aiden meninggal Reno di angkat jadi Ketua tim basket itupun cuma sebentar hanya untuk menggantikan Aiden untuk ikut lomba ke bali setelah itu semua anak-anak tim basket di perbarui."jelas marta.


" Apa lo curiga sama reno?" tanya marta.


" Iya, karna dia satu-satunya musuh Aiden. "jawab Vana.


'' Iya sih, tapi kalo untuk bunuh Aiden gue ngga yakin itu. Terlebih dengan strategi serinci itu."


" Kalo di pikir-pikir marta bener juga sih, Seorang reno yang goblok dan gede bacot ngelakuin pembunuhan tanpa ada jejak sedikitpun kayak gini, itu mustahil. " saut Aiden membenarkan ucapan marta.


"Tapi bisa ajakan kak, ada orang yang bantuin Reno. "sangkal Vana.


" Mungkin" ucap marta mengangguk- ngangguk. "Gue bakal selidikin dia.Nanti gue bakal kabarin lo kalo ada yang mencurigakan dari dia. " lanjut marta.


"Lo emang teman ter debestt gue "ucap Aiden mengacungkan dua jempolnya pada marta.


" Makasi kak.Yaudah kalo gitu gue pamit dulu. " pamit Vana sembari berdiri.


" Gue juga kak." saut Vero yang ikut berdiri.


"Iya, sama-sama. Lagiankan aidenkan sahabat gue emang semestinya gue harus bantuin." jawab Marta.


Vana dan Vero juga Aidenpun keluar dan pamit pada marta. Vana mengantarkan Vero pulang dan setelah itu ia pun langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya.


...#######...

__ADS_1


" Dari dulu gue emang selalu ngandelin Marta, dia orang yang paling ngertiin gue, yaa walaupun kita sering beda pendapat. "Aiden menatap langit - langit kamar Vana sedangkan Vana duduk di kursi belajarnya sambil menyiapkan buku untuk ia bawa ke sekolah besok.


"Dia emang orangnya keras tapi sekeras-kerasnya dia,dia selalu minta maaf ke gue duluan walaupun dia ngga salah. Dia orang yang paling berjasa dalam persabatan gue, dia selalu nenangin gue di saat gue debat sama Rendi dia juga orang pertama yang bujuk gue untuk baikan. "Aiden tertawa kecil mengingat kenangannya bersama marta juga sahabatnya Rendi.


" Seandainya aja gue di kasih untuk hidup satu kali lagi, gue janji bakal hidup lebih baik dari itu. "harap Aiden, yang jelas dia tau jika itu tidak mungkin terjadi.


Kali ini Vana diam dan tidak memarahi Aiden karna berisik di kamarnya. Vana mendengarkan semua cerita Aiden .Vana membiarkan Aiden untuk mengeluarkan semua isi hatinya.


" Semua Arwah yang gentayangan kayak lo pasti berharap gitu." Saut Vana, "Yang terpenting yang harus lo pikirin sekarang adalah gimana caranya supaya arwah lo tenang dan bisa di terima di atas." lanjut Vana.


"Ngga usah berharap yang engga - engga, karna itu ngga akan pernah terjadi. "tegas Vana penuh penekanan.


" Hmm, makasi karna lo udah mau bantuin gue."


" Gue ngelakuin ini karna terpaksa jadi ngga usah berterima kasih ke gue!."


Aiden tersenyum miring,sambil menggeleng-gelengkan kepalanya." Gue tau lo tulus nolongin gue. "gumam Aiden pelan.


...######...


" Hei"Sapa bianca pada tiara.


" Lo kenapa? "tanya bianca sambil meletakkan tasnya.


" Gue tuh bete banget tau ngga sih "saut Tiara dengan nada kesal.


" Bete kenapa?" tanya Bianca penasaran.


"Gimana gue ngga bete coba, bukannya gerjaain tugas, tuh si eric malah ngeliatin gue mulu, risih tau ngga. Di tambah lagi sama Vero yang satu kelompok sama Vana yang buat mood gue tambah hancur berantakan."


"Yaudah sih ra, tapi tugasnya selesaikan? "


"Ya selesai, itupun gue yang buat. Emang tuh cowok ngga ada gunanya. "


Bianca tertawa kecil, menertawakan penderitaan sahabatnya itu. "untung aja bukan gue yang sekelompok sama dia, liat mukanya aja gue udah kesel apalagi sama gaya sok coolnya itu, jijik tau ngga."


"Apa lagi gue." saut Tiara.


Di saat mereka membicarakan itu, tiara teringat dengan kelanjutan untuk membully vana agar dendamnya bisa terbayar lunas. Karna menurut tiara jika hanya membeberkan vana sebagai cewek dukun itu belum cukup.


"Tapi bi bullyan kita ke Vana ngga akan abis sampe sini aja kan? "

__ADS_1


" Ya engga lah, ini tuh masih permulaan masih banyak kejutan - kejutan lain untuk dia. "ucap Bianca tersenyum sinis.


...######...


Seperti biasa Vana selalu pergi ke rooftop di saat jam istirahat tiba, menghindari keramaian adalah cara Vana agar ia tidak semakin di bully.


" Van." ucap Aiden membuka pembicaraan.


" Hmm"saut Vana dingin. Mata Vana tidak berpaling dari langit biru yang cerah.


" Ngomong - ngomong soal lo yang ngaku jadi pacar gue ke marta, gimana kalo kita bener- bener pacaran aja? "Tanya Aiden entah setan apa yang merasuki Aiden hingga ia berani- beraninya bertanya seperti itu pada Vana.


Mata Vana membulat dan langsung menatap aiden dengan tatapan tidak percaya.


" Lo sadar ngga sih?" tanya Vana.


" Gue tau reaksi lo bakal kayak gini." ucap Aiden mengalihkan pandangannya.


"Semasa gue hidup gue ngga pernah yang namanya punya pacar bahkan deket sama cewekpun engga. Gue sibuk dengan persahabat, Basket, prestasi dan orang tua gue."


"Jujur baru kali ini gue bicara dan deket sama cewek tanpa ada pertimbangan apapun Van."Aiden menjeda ucapannya sebentar.


" Dulu waktu gue masih hidup gue selalu berfikiran cewek itu cuma akan membuat hidup gue jadi kacau dan berantakan. Setiap cewek yang suka dan nyatain perasaannya ke gue selalu gue tolak dan gue jauhin. Saat itu gue bener-bener jaga zona nyaman gue dengan sebaik-baiknya, gue ngehindari yang namanya jatuh cinta. "


Aiden tertawa kecil," Tapi sekarang nyatanya gue malah bergantung sama lo van, dengan seorang cewek yang gue anggep bakal ngehancurin hidup gue tapi nyatanya malah menjadi penyelamat untuk gue. "


Aiden menatap Vana penuh harapan," Jadi Van tolong biarin gue ngerasain jatuh cinta dan ngerasaain apa yang namanya pacaran ya!!, setidaknya sampai pelaku pembunuhan gue ketemu dan arwah gue tenang. "rayu Aiden pada Vana.


" Jarang- jarang loh gue nawarin diri kayak gini. ''


"Kapan lagi lo di tawarin pacaran sama hantu yang gantengnya pari purna kayak gu. "Aiden mengedip- ngedipkan matanya pada Vana berharap gadis itu menerima tawarannya.


" Lo mau jadiin gue kelinci percobaan lo?"


...Bersambung...


Aiden Ramartha



Jangan lupa like, Vote komen dan shere cerita ini ya gays:).

__ADS_1


__ADS_2