
Vana memberhentikan mobilnya di lapangan bebas, Tidak ada orang satupun di sana. Tepat yang di pilih Aiden benar-benar sepi. Vana melihat sekeliling, tak jauh dari tempatnya berdiri Vana melihat sebuah danau, sepertinya danau itu danau buatan.
"Sekarang lo tutup mata! "Perintah Aiden melayangkan sebuah sapu tangan pada Vana.
" Tutup mata? Ngapain?" tanya Vana yang langsung berfikir negatif.
" Udah lo tutup aja!, lagian gue juga ngga bakal ngapa- ngapain lo kok. Megang lo aja gue ngga bisa." ucap Aiden seolah tau jalan Fikir Vana.
Dengan terpaksa Vana mengikuti perintah Aiden, Biar cepet dan ribet dari pada ni hantu ngebacot ya ken? :)
"Awas ya lo kalo sampe gue jatoh, bener-bener gue tolak lo!" ancam Vana yang mulai berjalan mengikuti arahan dari Aiden.
"Iya, iya. "jawab Aiden padahal biasanya yang banyak bacot itu dia, tapi kenapa sekarang Vana jadi ketularan.
" Lo lurus aja!"
" Awas hati-hati tu di depan lo ada batu."
Vana terus berjalan mengikuti arahan dari Aiden.
" Sekarang lo langkahin kaki ko, hati-hati kesandung! "
"Lurus terus sampe gue bilang stop!"
Vana berjalan lurus ia merasa sedang berada di atas jembatan kayu, sepoy - sepoy angin juga menerpa rambut Vana.
"Oke, stop! "ucap Aiden begitu sampai di tempat yang sudah ia persiapkan.
Vana membuka sapu tangan yang terikat di matanya. Pelan-pelan Vana membuka matanya.
Vana melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya. Hamparan danau buatan yang airnya sangat jernih dengan pepohonan yang hijau mengelilingi danau itu. Dan yang paling menakjubkan adalah hamparan bunga berwarna- warni yang ada di tepi danau juga jembatan kayu yang mengapung di tepi danau membuat danau itu begitu indah. Vana cukup terpana dengan tempat yang di tunjukkan Aiden padanya ini.
"Indah. "ucap Vana, kata yang singkat namun mengandung makna yang besar terucap jelas di bibir vana.
Aiden tersenyum lebar sangat lebar, satu kata itu jelas menggambarkan kalau Vana sangat terkesan.
Aiden berlutut di depan Vana, "Will you be my girlfriend, Vana?" ucap Aiden menatap Vana penuh ketulusan juga harapan.
Vana menatap sekilas ke arah Aiden yang sedang berlutut di depannya,"Okey gue mau, itu karna lo udah ngasih gue pemandangan yang sebagus dan setenang ini. Bukan karna gue bener-bener suka sama lo." jawab Vana santay. Bukannya membalas tatapan aiden dan melihat ketulusan Aiden vana malah pergi berjalan dan duduk di tepi jembatan sambil memainkan air.
"Gila, reaksi lo ngga sesuai yang gue harapin." ucap Aiden kecewa.
Vana mengerutkan keningnya, " Emangnya apa yang lo harapin?"
"Eh kalo cewek di tembak sama cowok itu biasanya dia tuh seneng, jawabnyapun penuh kebahagian. Kalo lo jawab santay banget keliatan kalau lo itu terpaksa." cerocos Aiden memasang raut wajah cemberutnya.
"Kan emang terpaksa. "jawab Vana.
__ADS_1
" Ck.ngga pengertian banget lo." ucap Aiden yang ikut duduk di samping Vana.
"Udah untung gue terima, daripada gue tolak emang lo mau." ancam Vana.
Aiden tidak menjawab ia hanya memutar matanya malas.
"Makasi karna lo udah bawa gue kesini, gue jadi bisa ngelupain sakit yang gue rasain tadi." ucap Vana sambil menikmati nyanyian-nyayian burung yang berada di sekitar danau.
"Sakit?, Lo sakit?"
Vana terbelalak, ah kenapa mulutnya jadi keceplosan seperti ini sih. "iya kepala gue pusing tadi." Alasan Vana.
"Terus sekarang gimana? "tanya Aiden khawatir.
" Udah ngga papa." jawab Vana. "Lo perhatian banget udah kayak pacaran beneran tau ngga." sambung Vana berusaha untuk melawak.
Aiden membuang nafasnya kasar. "Kan emang beneran." jawab Aiden lemas.
Vana tertawa kecil, Vana senang statusnya saat ini bukanlah jomlo lagi, walau Vana berpacaran dengan hantu dan bukan manusia tetap saja Vana bahagia. Setidaknya Vana bisa merasakan apa yang namanya pacaran.
...######...
Sampai malam ini, Vana masih tetap mengganggu pikiran Vero. Vero tidak bisa fokus pikiran vero terus beradu argumentasi tentang Vana.
Vero meraih ponselnya, Vero ingin menghubungi Vana lagi ia berharap kali ini Vana bisa mengangkat telfon ataupun membalas chetnya.
Aiden melihat ponsel Vana yang berdering di atas meja belajarnya, aiden melihat orang yang menelfon Vana.
"Vero? "gumam Aiden.
Vana yang baru selesai mandi memergoki Aiden yang tengah berdiri sambil melihat ponselnya.
" Lo ngapain? '' tanya Vana memandang aiden penuh curiga.
"Gue ngapa - ngapain, Ni nih Henphone lo bunyi, si Vero nelfon. "ucap Aiden memberitahu Vana.
Vana meraih ponselnya, benar 10 panghilan tak terjawab dari Vero juga beberpa notif chet.
" Lo ada masalah apa sama Vero?" tanya Aiden penasaran.
" Ngga papa." jawab Vana.
" gini ni nih cewek selalu bilang ngga papa padahal mah ada apa-apa"cerocos Aiden sok mendrama.
" Gue beneran ngga papa." jawab Vana penuh penekanan.
Di sisi lain Vero menatap layar ponselnya dengan tatapan sendu, lagi-lagi Vana tidak mengangkat telfonnya. Vana benar- benar serius dengan kata- katanya di parkiran tadi.
__ADS_1
Vero menghembuskan nafas kasar." Gue ngga bisa menjauhin lo tanpa ada alsan yang jelas dari lo van."
"Gue bakal terus temuin lo sampe gue dapet penjelasan yang pasti dari lo Van. "
...######...
Vana berbaring di atas kasur sambil membaca sebuah novel romans di tangannya.Dan Aiden entahlah Vana tidak tau dari tadi ia sibuk berceloteh tidak jelas di meja belajar Vana.
" Harusnya reaksinya tuh emang gini ni."
" Masa aku kamu lebay banget sih."
"Antar jemput, udah kayak abang- abang taksi online dong. "
"Panggilan sayang?. "
" Baby, beb, dear. Apaan sih"
Aiden terus berceloteh tidak jelas dari tadi, membuat Vana yang sedang membacapun terganggu di buatnya.
"Lo bisa diem ngga sih?! "ucap Vana yang sudah kesal dari tadi.
" Untuk kali ini gue ngga bisa, soalnya gue juga lagi konsen." Jawab Aiden.
"Emangnya lo lagi ngapain? '' tanya Vana penasaran.
Aiden memutar kursi belajar Vana ke arah kasur Vana.
" Gue lagi baca tutorial pacaran romantis dan langgeng." Aiden memegang ponsel Vana dan memperlihatkan hal yang ia baca.
" Apaan sih ngga guna banget." ucap Vana kembali melihat ke arah buku yang ia baca.
Namun belum sepat vana membaca buku, Vana tersadar akan satu hal yang aneh dari aiden.
" Aiden" panggil Vana. Aiden kembali memutar kursi belajar Vana.
"Lo bisa megang Henphone? "tanya Vana yang kaget dengan kemampuan Aiden. Biasanya Aiden ataupun hantu- hantu yang lain hanya bisa melayangkan benda - beda namun tidak bisa untuk memegangnya.
Aiden yang tersadarpun langsung melihat ke arah tangannya yang memegang ponsel seolah - olah ia adalah manusia. Bahkan sudah dari tadi ia memainkan ponsel Vana baru saat ini ia sadar jika ia bisa memegang ponsel.
"What? "ucap Aiden takjub juga kaget.
" Apa gue udah jadi manusia?"
...Bersambung...
Jangan lupa like, Vote, komen dan shere ya gays! :)
__ADS_1