Ghost Love

Ghost Love
Bab 45.Percaya ngga percaya


__ADS_3

Vana dan tania sudah bersiap untuk pergi ke mall pagi ini, mama Vana sangat bersemngat untuk mengajak Vana ke mall sampai - sampai membangunkan Vana lebih awal dari biasanya.


Vana agak risih dengan pakaian yang ia kenakan saat ini. Tadi pagi Tania mengantarkan sebuah baju dan rok pendek ke kamar Vana untuk ia kenakan ke mall. Vana ingin menolak tapi melihat mamanya yang sangat bahagia membuat Vana jadi tidak tega menolaknya.


Di tambah dengan dandanan yang di poles oleh mamanya di wajahnya saat ini membuat vana jadi tidak PD untuk keluar.



"Vana keliatan aneh ngga sih ma? "tanya Vana yang menurun-nurunkan rok yang ia kenakan.


" Engga sayang kamu cantik. "Tania mengacungkan dua jempol ke arah Vana, memuji kecantikan anaknya setelah ia make over.


" Vana pake baju yang kayak biasa aja ya ma!" ucap Vana memohon ingin mengganti pakaiannya.


" E.. ee.. eeh, ngga boleh. katanya kamu mau ngerubah penampilan kamu. "Tania menahan Vana untuk tidak merubah penampilan yang sudah susah payah ia padukan.


Di saat Vana sedang adu debat soal penampilannya, tiba-tiba saja ada yang menekan bel rumah Vana berulang kali membuat Vana dan mamanya berhenti berdebat dan refleks melihat ke arah pintu rumah.


"Siapa sih pagi-pagi. Aduuuuh "ucap Tania mengumpat dengan kedatangan tamu yang datang ke rumahnya pagi-pagi.


Vana yang penasaran dengan tamu yang datang pagi-pagipun mengikuti mamanya untuk membukakan pintu.


Tania tercengang saat melihat dua orang pria tampan dengan badan atletis berdiri di depan pintu rumahnya.


"Kalian siapa ya? "tanya Tania heran.tidak mungkin jika teman SMA vana karna tampang mereka yang kelihatan lebih tua dari Vana.


" Kenalin tante saya Marta dan ini temen saya Rendi. Kami ke sini mau ketemu Vana." Marta memperkenalkan dirinya pada Tania. Sedangkan Rendi mengangguk sopan saat Marta memperkenalkan dirinya pada Mama Vana.


"Vananya ada tante?" tanya Marta.


Merasa namanya di sebut-sebut Vanapun keluar.


"Siapa ma? "tanya Vana belum melihat ke arah tamu yang datang.


Marta dan Rendi yang melihat penampilan Vana yang sangat jauh berbeda dari biasanyapun langsung terperangah dan terpesona melihat kecantikan Vana.


Vana melihat ke arah Rendi dan Marta yang sedang membisu dengan wajah tercengah melihat ke arahnya.


"Kak Marta, kak Rendi? "Heran Vana melihat kehadiran dua sahabat Aiden datang ke rumahnya.


" Va.. Vana?" tanya Marta dan Rendi kompak melihat ke arah Vana.


Vana melihat penampilannya, membuatnya sadar dengan raut wajah Marta dan Rendi yang aneh melihatnya.


Tania tersenyum simpul kemudian menyuruh dua pria tersebut masuk.


...######...


Marta, Rendi dan Vana duduk di ruang tamu rumah Vana. Mereka berdua masih melihat aneh ke arah Vana.


"Aku aneh ya kak? "tanya Vana yang risih di perhatikan seperi itu oleh Rendi dan Marta.


" Oooh ngga ngga" kompak mereka berdua.


"Lo cantik kok. "puji Rendi.


" Kak Rendi sama Kak Marta ngapain ke sini?"


" Kita kesini mau tanya tentang Aiden ke lo?"

__ADS_1


" Aiden?" kedua pria itu mengangguk melihat ke arah Vana.


Rendi dan marta mengeluarkan surat yang di terimanya kemarin, memperlihatkannya ke Vana.


" Di surat ini Aiden nulis seolah-olah di liat apa yang kita kerjain."ucap Marta.


" Iya, Di juga tau kalo gue memutuskan hubungan persahabatan gue. Dan yang lebih anehnya dia ngaku kalo yang masukin alat penyadap ke tas gue waktu itu dia. "


" Ini ngga masuk akal banget."tutur Rendi.


" Awalnya gue juga mikir sama kayak Rendi tapi di saat gue perhatiin lagi tulisan yang ada di surat ini, gue malah jadi bimbang juga bingung karna tulisan ini sama persis seprti tulisan aiden. Di tambah gaya bicaranya itu buat gue jadi antara yakin tapi bingung gitu. "tutur marta sama halnya dengan kebingungan yang di ungkapkan Rendi.


" Dan disurat ini juga Aiden bilang kalau jadi hantu itu ngga enak, maksudnya apa?" Marta menunjukkan barisan surat perkataan Aiden tersebut pada Vana.


Vana menghela nafas panjang menanggapi pertanyaan- pertanyaan Marta dan Rendi kepadanya.


"Jadi.... "Vana bingung bagaimana menjelaskannya pada Rendi dan Marta. Vana takut jika nantinya Rendi dan Marta malah mengira jika Vana gila atau sebagainya.


" Jadi gini____"ucapan vana terhenti begitu melihat mamanya datang membawa cemilan juga minuman untuk Marta dan Rendi.


" Ini di minum ya, biar ngobrolnya lebih santay''ucap Tania sambil meletakkan minuman dan cemilan di atas meja.


"Makasi tante. "ucap Rendi dan Marta bersamaan sembari tersenyum canggung ke arah Tania.


" Iya.. "ucap Tania yang kemudian pergi.


" Lo mau bilang apa tadi?" tanya Marta kembali beralih menatap Vana.


" ini emang ngga masuk akal buat kalian yang ngga bisa liat keberadaan makhluk gaib, seperti setan atau yang lainnya. ''


"Maksud lo? Heran Rendi.


" Aku bisa liat." jawab Vana takut-takut.


" Bukan- bukan gitu, aku bisa liat makluk halus, seperti hantu misalnya." Vana memperjelas ucapannya. Mata Rendi dan Marta membulat begitu mendengar pengakuan Vana.


" Aku bisa liat Aiden, dan itu alasannya aku bantuin dia untuk cari siapa pelaku di balik kematiannya."


Marta dan Rendi menautkan alisnya," bukannya waktu itu lo ngaku kalo lo itu pacarnya Aiden dan itu sebabnya lo cari tau kematiannya dia." tutur Marta masih ingat dengan pengakuan Vana waktu ia datang ke rumahnya.


'' Dan lo juga bilang gitu sama gue waktu lo nemuin gue di kampus. "saut Rendi membenarkan ucapan Marta.


" Itu bohong, Aiden yang nyuruh aku untuk ngaku-ngaku jadi pacar dia supaya kalian percaya dan mau bantuin aku."


" Jadi lo bukan pacarnya Aiden?" ucap Marta.


" Aku emang bukan pacarnya Aiden di saat dia masih hidup tapi aku pacarnya Aiden di saat dia jadi hantu. "penuturan Vana memunculkan ekspresi keterkejutan luar biasa pada Marta dan Rendi.


" Lo gila, ini ngga mungkin banget."


" Ini ngga masuk akal."


Ucap Marta dan Rendi bergantian.


" Percaya atau ngga percayanya kalian itu tergantung sama kalian berdua. Aku cuma mau ngungkapin hal yang sebenarnya. "


Marta menggaruk tengkuknya yang tak gatal." Tapi Vana ini tuh ngga masuk akal banget, gimana caranya manusia bisa pacaran sama hantu?"


" Kan aku udah bilang aku bisa liat dia dan berkomunikasi. Itu sebabnya aku bisa tau semua hal tentang kalian termasuk tempat rahasia itu. "

__ADS_1


"Bisa aja lo tau dari penduduk yang tinggal di dekat situ." ujar Rendi mencoba berpikir secara logika.


"Dan surat itu? "Vana menunjuk ke surat yang di letakkan Marat dan Rendi di atas meja.


" Bisa aja ini tulisan lo." ucap Rendi yang dari tadi menuduh Vana hanya mengada-ngada.


Vana mengambil pulpen dan kertas dari laci meja sebelahnya kemudian menulis sesuatu dan ia tunjukkan pada marta dan Rendi.


"Ini tulisan aku, jauh beda sama tulisan yang ada di surat itu"


"Dan satu lagi tanda tangan yang ada di surat itu. Aku yakin kalian pasti tau persis seperti apa tanda tangan Aiden bukan? ."


"Tanda tangan Aiden itu sulit banget untuk di tiru,bahkan kalian yang sahabatnya udah lama aja ngga bisa nyamain tanda tangannya dia."


'' Terus gimana caranya aku buat surat kayak gini? "geram Vana karna Marta dan Rendi tidak bisa mempercayainya.


Marta dan Rendi larut dalam pikiran mereka masing-masing, ucapan Vana tadi memang ada benanrnya tidak mungkin Vana bisa meniru tanda tangan Aiden sampai sama persis seperti ini.


" Oke, kalo lo emang bisa liat Aiden. Terus sekarang dia ada di mana? "tanya Marta yang mulai percaya pada Vana.


" Dia udah pergi." jawab Van sendu.


" Maksud lo?" heran Rendi,baru saja ia akan percaya pada Vana tapi mendengr penuturan Vana ini membuat Rendi menjadi ragu kembali.


" Arwahnya udah tenang, jadi dia udah kembali ke alam yang seharusnya saat ini. "jelas Vana.


" Aiden ada di dunia ini karna kematian yang tidak wajar makannya arwahnya ngga tenang. Tapi setelah dia tau kebenaran tentang kematiannya dia, dia akan kembali ke alamnya lagi. "


" Jadi saat ini Aiden udah tenang di atas sana?" tanya Rendi yang di angguki Vana.


Rendi dan marta mengack-ngacak rambut mereka Frustasi, mereka masih sulit untuk mempercayai cerita Vana.


" Jujur gue masih ngga percaya sama yang lo ceritain." ucap Rendi melihat ke arah Vana.


Vana mengangguk-ngangguk, "emang sulit untuk percaya apalagi oleh orang normal kayak kalian."


Vana menunjukkan sebuah Vidio pada Rendi dan Marta.


"Itu Aiden yang mukulin. " ucap Vana saat memutar rekaman Vidio saat Reno di pukuli oleh Aiden waktu itu.


"Dia ngata-ngatain Aiden, sampai aiden lepas kontrol dan mukulin dia sampai babak belur. "tutur Vana lagi.


Rendi dan Marta melihat dengan intens vidio tersebut,vidio tersebut terlalu nyata untuk di sebut sebagai editan.


" Jadi Aiden selama ini ada di dekat kita, cuma kitanya aja yang ngga bisa ngerasain keberadaan dia dan liat betapa menderitanya dia selama ini. "tutur Marta yang sepertinya sudah percaya dengan apa yang di ceritakan Vana.


"gue jadi merasa bersalah tentang apa yang udah gue lakuin selama ini ke dia. Nyalah-nyalahin dia, benci bahkan ngga mau tau lagi soal dia."


"Gue emang goblok banget jadi sahabat. "tutur Rendi kembali merasa bersalah.


" Aiden ngga pernah benci sama kamu kok kak, bahkan di saat aku curigain kamu dia malah mati-matian belain kamu." ucap Vana mengingat tentang Aiden yang begitu menyayangi sahabatnya.


Rendi semakin mengutuk dirinya, "Coba aja gue bisa bicara sama Aiden sekarang pasti gue bakal minta maaf sama dia, bahkan gue rela untuk berlutut di hadapan dia."


'Udahlah Ren ngga akan bisa juga Aiden udah tenang di sana. "


" Inget sama isi surat yang di kasih sama aiden. Dia mau kita hidup bahagia dan lanjutin persahabatan kita!! "


Rendi mengangguk kemudian memeluk Marta, "gue pastiin gue bakal jaga persahabatan kita, gue ngga akan ngancurin ini lagi."

__ADS_1


Marta menepuk punggung Rendi "Harus Ren." ucapnya.


...Bersambung...


__ADS_2