
Vana menyuruh Eric untuk masuk ke rumahnya. Tadi ketika Eric menelfon dan berkata jika ia berada di depan rumahnya membuat Vana menyuruh Mamanya untuk melajukan mobil lebih cepat.
Ekspresi eric begitu melihat Vana sama halnya dengan Marta dan Rendi tadi. Vana tau jika ia pasti terlihat aneh di mata mereka terlebih dengan perubahannya yang tiba-tiba seperti ini.
"Lo kenapa ke sini? "tanya Vana yang tidak tau entah apa urusan Eric sampai- sampai ingin bertemu dengannya.
Eric menghela nafas panjang," Sebenernya gue juga ngga mau ke sini. Terpaksa. "jawab Eric yang terlihat dari wajahnya jika ia memang tidak niat untuk pergi ke rumah Vana.
" Maksud lo?" Vana tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan Eric. Jika ia terpaksa kenapa ia menemuinya. Lagian Vana juga tidak menyuruh Eric untuk bertemu dengannya. Vana dan Eric juga tidak dekat. Dan ini pertama kalinya Vana dan Eric bicara secara langsung seperti ini.
"Ini soal Vero. "Vana terbelalak saat tau tujuan Eric menemuinya karna masalah Vero.
" Maaf gue udah ngga ada urusan lagi sama dia. Dan gue juga ngga mau tau apapun yang bersangkutan tentang dia." Vana lebih memilih untuk tidak pernah menemui Vero bahkan kalo bisa ia ingin bersikap seolah tidak pernah mengenal orang sekejam Vero.
"Ck. Gue maunya juga gitu Van. Lo tau betapa stresnya gue setiap hari di telfonin sama papanya Vero minta tolong ini itu dia mohon - mohon sama gue untuk jengukin kondisinya dia yang udah kayak orang gila." jelas Eric yang frustasi menghadapi masalah Vero yang tak habis- habisnya.
" Dan tadi dia mohon-mohon sama gue untuk nemuin lo, bujuk lo supaya lo mau nemuin Vero. Karna semenjak dia sadar dari koma nama yang terus dia sebut itu nama lo. Dan sekarang dia kayak orang gila ngamuk-ngamuk ngga jelas di rumah sakit sambil teriak - teriak nama lo. "
Vana terdiam, mencerna baik-baik kata-kata Eric barusan. Vana tidak habis Fikir kenapa Vero malah mempersulit keadaannya sendiri, kenapa ia harus berulah untuk bisa bertemu dengannya. Sebenarnya apa mau Vero?.
" Gue ngga maksa lo untuk pergi, tapi gue harap lo bisa nemuin dia karna jujur gue udah capek di telfonin terus sama om herman cuma gara-gara masalah ini. "
"Gue juga sama terpuruknya sama lo van jadi gue harap lo sama-sama ngerti keadaan. "
"Gue permisi, semoga lo bisa pertimbangin perkataan gue tadi. "tutur Eric yang kemudian pergi.
...######...
Vana menatap langit- langit kamarnya, hal yang selalu di lakukan Vana jika ia merasa gelisah dan bingung seperti saat ini.
" Kenapa lo malah mempersulit keadaan Ver?"
" Kenapa lo ngga biarin gue untuk hidup tenang?"
"Padahal gue berusaha untuk bisa ngelupain lo, ngelupain kejadian buruk itu?"
__ADS_1
"Apa lo belum puas buat gue hampir mati?"
"Apa sih yang lo mau Ver dari gye Ver?"
Begitu banyak pertanyaan di dalam benak Vana ia kesal, marah dan juga bingung sekarang ini apa yang harus ia lakukan apa ia harus menemui Vero? Mengikuti mau pria pisikopat tersebut? Tapi walau seperti itu Vero juga sudah sangat baik padanya dulu. Dia orang pertama yang menawari untuk menjadi temannya.
"Aaaaakh "Vana mengacak- ngacak rambutnya, pikiran ini malah membuat Kepala Vana menjadi pusing. Kenapa di saat ia akan memperbarui hidupnya ia harus di hadapi masalah masa lalu seperti ini? Apa begitu sulit untuk ia bisa hidup bahagia?.
...#######...
Tania mengemas begitu banyak barang- barang Vana ke dalam koper entah-entah apa yang di masukkan Tania ke dalam koper Vana sampai sebanyak itu.
"Maa kita itu cuma liburan loh, bukan pindahan. "
Tania mendengus, "sayang kita itu mau liburan ke pantai jadi kamu hrus baju lebih karna di sana pasti kita akan main air, main pasir seru-seruan jadi harus ekstra dan jangan lupa perawatan kulit, ini penting banget." jelas Tania.
Vana memutar matanya malas, kalo sudah masalah feshion dan perawatan memang mamanya ini jago.
Vana menggeleng kemudian masuk ke kamar mandi untuk bersih- bersih dan bersiap untuk pergi.Biarlah soal barang-barang mamanya yang mengurus lagian juga bukan dia yang bawa nanti. Jadi terserah mau seberapa banyak kek mamanya masukin barang Vana tidak peduli.
'' Pak ujang ini taro di bagasi ya! '' ucap Wiliam menyuruh salah satu supirnya untuk meletakkan barang- barang yang akan ia bawa untuk liburan.
"Baik tuan "ucap pak ujang sembari mengambil satu persatu koper tersebut dan menyusunnya rapi di dalam bagasi.
" Uuuh anak mama cantik bangef." puji tania sembari memeluk Vana.
" Anak papa juga dong. '' ucap wiliam yang juga ikut memeluk Vana.
Saat acara peluk-pelukan itu , tiba- tiba ponsel Vana bergetar begitu banyak sepertinya ada yang mengiriminya chat.
Vana melepas pelukan hangat dari orang tuanya kemudian berjalan agak menjauh untuk melihat notif di ponselnya.
"Eric? "heran Vana krna ada banyak pesan yang di kirim oleh eric padanya.
Vana membuka chat tersebut.
__ADS_1
Eric
Kayaknya lo emang harus ke RS. Deh van. Capek tau ngga gue di teror mulu sama om herman.
Ini om Herman nyuruh gue untuk liatin Vidio ini ke lo. Semoga hati lo bisa luluh terus bisa jenguk tuh orang.
Vana memutar Vidio yang di kirim oleh Eric padanya. Di vidio terswbut terlihat jelas jika Vero mencoba menyakiti dirinya sendiri juga mengamuk-ngamuk tidak jelas sambil menyebut namanya. Wajah Vero terlihat sangat memohon untuk bertemu dengan Vana.
Lo liat sendirikan gimana gilanya tuh orang.
Kayaknya emang cuma lo yang bisa hentiin dia.
Mending lo jengukin dia, liat kondisinya. Setidaknya buat dia tenang dan bisa di introgasi sama polisi. Biar masalah ini cepet kelar Van.
Gue bukan mau mojokin lo tapi emang kayaknya ada sesuatu yang mau di sampein sama dia ke lo.
Soalnya waktu gue jenguk dia dia juga nyebut nama lo dan dia pengen banget ketemu sama lo.
Hati Vana jadi bimbang saat ini, ia kasihan melihat keadaan Vero seperti itu tapi di sisi lain Vana juga takut bertemu dengan Vero. Kejadian waktu itu masih menjadi trauma untuk Vana.
Tapi.....
Vana berlari menuju mobilnya, mengendarainya keluar dari pekarangan rumahnya. Membuat wiliam dan tania berteriak.
"VANA KAMU MAU KEMANA? "Teriak mereka.
Tidak ada jawaban dari Vana ia terus melajukan mobilnya.
" Maa vana pergi sebentar, ada urusan yang harus Vana selesain." ucap Vana mengetik sebuah pesan untuk orang tuanya.
...Bersambung ...
Vero Brance Harison
__ADS_1