Ghost Love

Ghost Love
Bab. 48.Jangan pernah kenal lagi


__ADS_3

Vana masuk ke sebuah ruangan yang kata suster itu adalah ruangan tempat Vero di rawat.


Ceklek.


Vana masuk kedalam ruangan dan melihat Vero yang sedang mengamuk, di pegangi oleh dua suster dan papanya.


Vero yang melihat ke hadiran seseorang langsung berhenti memberontak. Dan berlari menghampiri Vana yang diam membeku di depan pintu masuk.


Vana terkejut dengan pelukan erat yang tiba-tiba dari Vero. Vana bahkan bingung harus melakukan apa sekarang.


"Gue Rindu sama lo Van. "Vero mendekap Vana erat sambil menangis.


" Gue seneng lo masih hidup dan peduli____" sebelum Vero menyelesaikan kalimatnya Vana sudah terlebih dahulu mendorong tubuh Vero kasar.


"Gue kesini cuma karna rasa kemanusiaan jadi ngga usah berharap lebih."ucap Vana penuh penekanan.


Herman yang merasa mengganggu pembicaraan mereka pun keluar bersamaan dengan suster. Karna Vero terlihat sudah tenang begitu melihat ke hadiran Vana.


" Om titip Vero sama kamu." ucap Herman menepuk pelan bahu Vana kemudian keluar.


...######...


Vero berbaring di atas kasurnya dan Vana duduk di sofa yang jaraknya cukup jauh dengan ranjang Vero. Jujur saja di tinggalkan bersama Vero di dalam ruangan seperti ini membuat Vana takut.


" Kata Eric lo mau nyampein sesuatu sama gue, lo mau bilang apa? "tanya Vana enggan melihat mata Vero.


Vero menatap Vana dari tadi pandangannya tak luput dari Vana, ia sangat merindukan gadis yang ada di hadapannya itu.


" Maaf." jawab Vero singkat.


" Gue udah maafin lo, tapi kalau untuk berhubungan baik kayak dulu lagi gue ngga bisa."


Vero menatap sendu ke arah dirinya,kemudian tertawa kecil. "Mana mungkin ada yang mau temenan sama gue sama psikopat gila kayak gue." ucap Vero merendahkan dirinya sendiri.


"Lo ke sini pasti juga karna paksaan dari bokap gue dan juga Eric."


"Eric "Vero mengingat sahabat satunya itu," Dia benci sama gue tapi dia tetep bantuin gue. "


" Harusnya lo bisa buka mata, buka pikiran lo, lo itu ngga sendiri lo masih ada sahabat yang peduli sama lo. Yang selalu nemenin lo. Lo yang terlalu picik dan egois sampai mikir kalo itu cuma sendiri di dunia ini."


" Bahkan lo tega ngancuriin kebahagian orang lain agar orang- orang bisa rasain apa yang lo rasain."


"Lo sadar ngga sih perbuatan lo itu juga ngerenggut nyawa mama dan kakak lo. "


Vero terbayang akan kejadian waktu itu, kejadian di mana karissa menyelamatkannya.


"Kita akan mati"ucap Vero memejamkan matanya begitu mobil yang di kendaraiya terjun ke jurang.


Karissa dengan cepat membuka pintu belakang kemudian menjatuhkan Vana keluar dari mobil.


'' Kita akan tetap hidup." ucap Karissa, mengambil pistol yang ada di tangan vero kemudian membuangnya.


" Kita akan mati." kekeh vero tertawa sinis ke arah Karissa. Tanpa Vero sadari karissa membuka sabuk pengaman Vero di iringi dengan pintu mobil yang ia buka.


" Gue sayang sama lo dek. "kata terakir yang terdengar jelas oleh telingga Vero ketika Karissa mendorong tubuh Vero keluar.


" AAAAAAA" teriak Vero

__ADS_1


BBBAAARRRAAKK


DDDDDUUUUUAAAARRR


Mobil itu jatuh kemudian meledak Sebelum karissa keluar dari mobil tersebut.


Air mata Vero menetes, ia menangis terisak - isak membuat Vana yang ada di sofa jadi merasa bersalah di buatnya.


"Kalo aja gue ketemu sama lo lebih awal mungkin semua ini ngga akan terjadi."


"Keirian dan kebencian gue sama kakak gue ngga akan sebesar ini."


"Ini semua salah waktu, waktu yang terlambat nemuin kita."


Vana menggeleng tidak habis fikir dengan jalan Pikiran Vero, bisa - bisanya ia menyalahkan waktu di saat seperti ini. Bukannya menyesal atas semua perbuatannya tapi dia malah mencari alasan untuk melimpahkan kesalahannya.


" Coba aja gue ketemu sama lo sedikit lebih awal, cerita sama orang yang tepat seperti lo dan ngerasain jatuh cinta sedalam ini sama lo."


"Lo itu obat dari segala macam penyakit gue. Lo bisa nenangin gue. Hati lo yang baik buat gue semakin ingin milikin lo. Tapi semuanya pupus begitu gue tau kalo lo pacaran dengan Aiden."


"Salah satu orang yang gue benci dan gue bunuh sampe mati. Keadaan semakin sulit ketika lo bantuin dia untuk cari pelaku pembunuhannya."


"Gue kira dengan gue bantuin lo gue bisa memanipulasi kejadian itu tapi lo terlalu pintar untuk gue mainin. Lo bisa cari pelaku dengan alat yang gue kasih ke lo."


"Gue nyesel udah ngasih ide itu ke lo. "


Vana menatap Vero tidak percaya, "Bahkan setelah semua kejadian ini, ngga ada penyesalan sedikitpun dari wajah lo.''


" Kayaknya lo bukan hampir gila lagi tapi emang udah gila."


" Asal lo tau Ver kalo gue bisa muter waktu gue berharap gue ngga pernah ketemu dan kenal sama lo. "


Vana berdiri dari duduknya ia salah besar telah menemui Vero.


Dengan cepta Vero bangkit dan mengejar Vana. Vero menarik tangan Vana dan....


Cup.


Vero mencium kening Vana dan mengunci tubuh Vana dengan kedua tangannya.


" Gue sayang sama lo Vana, tolong bales cinta gue dan buat gue ngerasain kebahagian." ucap Vero begitu ia selesai mencium Vana.


"Tolong tunjukin bukti nyata dalam hidup gue kalo bahagia itu emang ada di dalam hidup gue. "tangan Vana mengepal ia sangat marah, vana memberontak ingin lepas dari pelukan Vero. Tapi Vero jauh lebih kuat darinya.


Lo apa-apan sih Ver. Lepasin gue!!


Gue ngga akan lepasin lo lagi van.


Lo itu milik gue sekarang , lo ngga boleh ke mana-mana. Lo harus tetep di sisi gue, sama gue.


Vana memukul dada Vero memberontak untuk bisa lepas.


Lepasin gue ver!"


" Ngga akan Van." Pelukan Vero semakin erat tidak mau melepas Vana.


Tolong

__ADS_1


Tolong


tolong


Teriak Vana, Vero memang gila tidak seharusnya ia ada di sini sekarang. Harusnya Vana pergi berlibur saat ini bersama mama dan papanya tanpa memusingkan keadaan Vero.


Tolong


Teriak Vana keras membuat Herman dan beberapa suster datang.


"VERO! "bentak Herman melihat anaknya yang memeluk Vana erat membuat gadis itu kesulitan bernafas.


" Lepasin dia vero! Dia udah berbaik hati untuk datang dan jengukin kamu." bentak herman lagi.


" Ngga pa dia punya Vero. Papa ngga bisa larang Vero lagi!"


" Tolong hentiin semua ini Vero, papa pusi g liat kelakuan kamu. Tolong hentiin ini semua.''


"Jangan buat papa bertambah sulit. Mama dan kakak kamu sudah meninggal. Apa kamu mau buat papa meninggal juga?" Herman sudah sangat lelah menghadapi kelakuan anaknya ia tau semua yang Vero lakukan saat ini adalah karakter yang selama ini di terapkan olehnya sendiri sehingga membuat anaknya seperti ini.


" Vero ngga peduli, selama ini Vero juga hidup sendiri."


" Apa selama ini papa pernah mikirin perasaan Vero, peduli seperti papa peduli sama anak papa yang udah mati itu."


Parr


Herman menampar wajah Vero karna kata-katanya sangat keterlaluan.


"Dan ini sebabnya Vero berulah supaya papa sadar dan ngerasain apa yang Vero rasain."


"Vero akan terus berulah sampai Vero puas buat papa menderita."


Herman mengeleng, sebenci itu anak sudah ia besarkan selama ini kepadanya.


Di saat Herman dan vero berdebat Para suater mempersiapkan suntikan penenang untuk Vero karna melihat kondisi Vana yang sudah lemas karna di dekap sangat erat oleh Vero.


" Papa udah menderita sekarang,Mama kamu udah meninggal, kakak kamu juga udah meninggal, perusahaan papa hancur dan kamu, kamu masih berulah seperti ini.''


"Sampai kapan kamu mau seperti ini? , apa kamu baru puas kalo papa mati?


"Itu itu semua _____"


Di saat Vero lengah suster yang ada di dekatnya langsung menyuntikkan obat penenang untuk Vero membuat Vero lemas dan jatuh pingsan.


Vana menarik nafas dalam hampir saja ia mati karna dekapan Vero.


"Maafkan anak saya. "ucap Herman meminta maaf pada Vana yang masih mengambil nafas.


Vana tidak menjawab ia memilih untuk pergi menjauh dari tempat tersebut.


" Kejiwaan Vero sangat terganngu kami tidak bisa merawat Vero di rumah sakit ini lagi. Lebih baik bapak memindahkan Vero ke rumah sakit yang bisa memulihkan kejiwaannya!"saran dokter yang baru datang dan memeriksa ke adaan Vero.


" Maaf pak Vero juga akan kami bawa ke pusat penahanan. Vero akan kami bawa ke sebuah rumah penahanan khusus tahanan yang jiwanya terganggu." Tutur polisi yang kebetulan juga baru sampai untuk menjemput Vero.


Herman mengangguk lemah, ia tidak bisa melakukan apapun cepat atau lambat Vero juga akan masuk ke sel tahanan atas perbuatannya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2