
HAPPY READING!!!!
Sesudah mengantarkan Vero pulang Vanapun pergi menuju gudang belakang Sekolah SMA Lentera Bangsa. Hari sudah sore pasti semua murud sudah pulang saat ini.
Benar saja ketika Vana sampai di sekolah, sekolah dalam keadaan sepi hanya ada satpam yang berjaga di luar.
"Sayang kamu mau ngapain lagi sih kesini?" heran Aiden.
"Aku kesini mau cari bukti." jawab Van berjalan menuju gudang belakang sekolah.
"Bukti apa? "
"Bukti tentang omongan Reno semalem."
"Ayolah baby, Reno itu pembohong jangan percaya gitu aja sama dia!.
" Kalo apa yang di bilang Reno itu bener gimana? "Vana menjeda ucapannya." Ngga selalu ucapan dia itu bohong. "
Aiden mengalah kalau ia lanjutkan perdebatan ini, yang ada dia dan Vana akan bertengkar. Lebih baik sekarang ia mengikuti Vana dan liat bukti apa yang akan di dapatkan Vana nanti.
Vana masuk kedalam gudang, ia menghidupkan lampu senter yang ia bawa tadi. Vana melihat benda - benda di sekeliling khususnya benda - benda yang ada di dekat Aiden gantung diri.
Sedangkan Aiden ia juga ikut mencari tapi entahlah ia tidak tau apa yang akan ia cari, yang terpenting ikut nyari,dari pada Vana marah ya ngga?.
Vana mwngibas - ngibas debu yang ada di lantai ia seperti menemukan sesuatu dari tumpukan debu tersebut. Vana mengangkat sebuah gelang yang bertuliskan RAM.
"RAM? "
Aiden langsung mendekat ketika Vana menyebutkan kata RAM.
Raut wajah Aiden seketika berubah, "Gelang itu?" ucap Aiden memperhatikan gelang yang di pegang oleh Vana.
"Kamu tau ini gelang siapa?" tanya Vana.
Aiden mengambil gelang yang di pegangn oleh Vana, ia melihat secara detail gelang tersebut walaupun lusuh dan sudah mulai berkarat tapi Aiden jelas tau jika gelang itu adalah gelang persahabatnya.
"Ini gelang aku, Rendi juga Marta. RAM artinya Rendi, Aiden Dan Marta. " jelas Aiden.
"Kalo ini punya kamu dan sahabat kamu bisa jadi kalu gelang ini punya salah satu dari kalian. "
"Mungkin aja ini bukti kalau kak rendi emang bener di gudang ini malam itu. "ucap Vana lagi.
" Ngga lah Van, mungkin aja ini punya aku yang jatuh. "sangkal Aiden.
Vana terdiam apa yang di katakan Aiden mungkin saja benar karna bukan hanya rendi yang memiliki gelang itu.
...######...
PLAK...
Herman menampar Vero dengan sangat keras, membuat pipi Vero memerah dan di sudut bibirnya juga keluar sedikit darah.
__ADS_1
"KETERLALUAN KAMU. "ucap Herman lantang.
Vero menarik nafas dalam, ia sudah duga inilah yang akan di lakukan oleh papanya. Vero yakin pasti orang mata-mata papanya sudah mengadu tentang kelakuannya.
" SEMALEMAN NGGA PULANG TERNYATA KAMU MABUK - MABUKKAN DI BAR,DAN HARI INI KAMU NGGA SEKOLAH.MAU JADI KAMU?! "
"DIMANA DISIPLIN KAMU?! " tegas Herman.
"CK. Disiplin ? " Vero tertawa, kemudian menatap tajam ke arah papanya." Yang papa terapin ke aku itu bukan di siplin lagi pa tapi Pemaksaan, pengekangan dan segelintir aturan yang papa buat sendiri untuk membuat hidup aku menderita." ujar Vero, ia tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. sudah cukup selama ini ia diam di perlakukan tidak normal seperi itu oleh papanya.
" Apa semua aturan yang papa terapin ke Vero papa terapin juga ke kakak?"
" Anak papa yang normal dan ngga punya kutukan kayak Vero ini?"
Herman bungkam ia tidak menjawab apapun yang di pertanyakan Vero.Herman mengepal tangannya kuat menatap Vero dengan tatapan penuh amarah.
" Sebenernya Vero ini anak papa atau bukan sih?"
Bugh...
Satu pukulan mendarat di pipi Vero, Pertanyaan Vero membuat Herman tidak dapat menahan amarahnya lagi.
Pukulan Herman yang mendadak membuat Vero terjatuh ke lantai. "Vero rasa pukulan ini ngejawab semua pertanyaan Vero." tutur Vero yang kemudian pergi meninggalkan rumah orang tuanya.
...######...
Vana keluar dari gudang tidak ada apapun yang ia dapatkan di gudang kecuali gelang yang ada di tangannya ini.
"Kamu masih curiga sama Rendi?" tanya Aiden melihat Vana yang terus memandangi gelang yang ia dapatkan di gudang.
" Van, aku kan udah bilang itu pasti punya aku. Pasti gelang itu jatuh pas pelakunya gantung aku."
" Terserah kamu, aku akan tetap curiga sama kak rendi.! "Vana berjalan cepat mendahului Aiden menuju parkiran mobilnya.
Saat di tengah perjalanan Vana tidak sengaja menabrak seorang gadis sampai membuat dia dan gadis itu terjatuh.
" Auw..." rintih Vana juga gadis tersebut.
Mata Vana terbelalak saat melihat ke arah gadis tersebut, "Tiara? "ucap Vana yang tak menyangka akan bertemu dengan orang yang sudah membully mati - matian waktu itu.
Tak lama Bianca pun datang membatu Tiara untuk berdiri. Begitu juga dengan Aiden.
" Lo kenapa Ra?" tanya Bianca belum sempat melihat ke arah Vana.
Tiara melihat ke arah Vana sebagai jawaban dari pertanyaan Bianca.
Bianca melihat ke arah pandang Tiara, "Ooo jadi lo yang udah buat Tiara jatoh?" ucap Bianca hendak mendorong Vana namun tangannya langsung di tepis oleh Aiden.
Aiden memegang dan memelintir tangan Bianca. Tiara yang melihat bianca kesakitan dan tangannya yang di pelintirpun mengira jika bianca hanya bercanda dan mencoba untuk mempranknya.
"Becandaan lo ngga lucu bi. '' ucap Tiara menyuruh Bianca untuk menyudahinya. Karna ini bukan waktunya untuk bercanda.
__ADS_1
" Gue ngga bercanda ra, ini tangan gue kayak ada yang melintir." ucap Bianca mencoba melepaskan tangannya.
" Bukan kayak lagi, emang gue yang melintir. "ejek Aiden sambil tertawa.
Tiara memegang tangan bianca membantu bianca untuk terlepas dari pelintiran yang entah kenapa bisa seperti itu.
Tiara melihat ke arah Vana." Ini pasti karna temen setan lo kan?."Tiara mendekat dan akan menampar Vana.
Vana memejamkan matanya, cukup lama mata Vana terpejam namun tangan tiara tak menyentuh pipi Vana sedikitpun.vana membuka matanya dan melihat Aiden menahan tangan Tiara sambil terus memelintir tangan bianca.
" Sekarang Van, kamu kata- katain mereka seperti mereka ngata - ngatain kamu! "perintah Aiden menyuruh Vana untuk membalas sakit hatinya pada kedua nenek lampir yang sedang ia pegangi itu.
Vana menggeleng, ia tidak akan membalas perbuatan Bianca atau Tiara dengan cara yang sama seperti tiara dan bianca memperlakukannya. Karna dulu nenek Vana mengajarkan Vana untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan karna jika kita membalas dengan hal yang sama berarti kita tidak ada bedanya dengan orang yang sudah menjahati kita.
"Sayang mereka itu udah keterlaluan, kamu harus bales mereka biar mereka ngga semena - mena sama kamu!" ucap Aiden terus menahan pemberontakan dari tiara dan bianca.
"maaf Den aku ngga bisa." gumam Vana pelan.
"Oke kalo kamu ngga mau bales setidaknya kamu ngancem mereka! Nakut - nakutin mereka supaya ngga bully kamu lagi! "perintah Aiden terus memaksa Vana untuk melakukan apa yang ia suruh.
'' Ngancem mereka ngga akan buat kamu sama dengan mereka Van, kamu cuma memperingati bukan mukulin mereka seperti yang mereka lakuin ke kamu!" ujar Aiden lagi seolah tau jalan pikir Vana.
"OKEY, '' ucap vana merasa terdesak.
" Tangan kalian akan kembali kayak normal kalau kalian minta maaf dan janji ngga akan bully gue lagi. '' ucap Vana pada bianca dan Tiara.
"Ngga usah mimpi lo"
"Ngga sudi gue minta maaf sama lo"
"Lo pantes untuk dapetin itu semua"
"Cewek kayak lo emang pantes untuk di bully!"
Ucap Bianca dan Tiara bergantian . Ia bersikeras untuk tidak mau meminta maaf pada Vana ataupun berjanji untuk tidak membullynya lagi.
"Yaudah kalo gitu kalian nikmatin aja tangan kalian kayak gitu selamanya!! "ucap Vana yang kemudian berjalan berlalu di depan Bianca dan Tiara menuju mobilnya yang terpakir di belakang Tiara dan bianca.
...Bersambung...
Kasian banget sama Vero.
Benci banget sama cara didik papanya vero.
Dukung banget sama sikap Vana yang ngga mau bales kejahatan dengan kejahatan.
Cinta banget sama Aiden untuk ngasih pelajaran ama tuh si tukang bully.
Siapa nih yang satu pemikiran sama Autor:)
Kira-kira kapok ngga ya tuh bianca ama Tiara?
__ADS_1
**Jangan lupa like, Comen, dan Vote serta membagika cerita Autor ya biar banyak yang baca dan autornya makin semangat untuk terus berkariya.
Sampai jumpa di bab berikutnya**.