Ghost Love

Ghost Love
Bab 42.Kenangan.


__ADS_3

"Vana kamu ngga usah takut, kamu ceritaain semua yang membebani hati kamu. Buat hati kamu selega mungkin. Ungkapin apapun yang ingin kamu ungkapin!, jangan di pendam karna itu akan menjadi beban untuk kamu dan akirnya masalah kamu ngga akan pernah selesai! "tutur dokter raya, dokter psikiater Vana.


Vana menatap dokter raya dengan tatapan ragu, Vana takut menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Vana takut dokter raya menuduhnya mengada-ngada dan menganggapnya gila.


" Vana kamu ngga usah ragu, saya di sini untuk membantu kamu. Saya jamin apapun yang kamu ceritain nanti ngga akan bocor ke siapapun termasuk ke orang tua kamu. "ucap dokter Raya meyakinkan Vana.


" Sekarang coba kamu ceritain kenapa kamu bisa sesedih ini?" dokter raya mengelus lembut tangan Vana agar Vana bisa rileks dan bisa menceritakan kegelisahan hatinya dengan tenang.


" Aku... hiks.. Hiks" Vana menangis, ia teringan dengan kenangannya bersama Aiden.


"Aiden... Hik... Hiks"Vana tidak bisa mengontrol emosinya, ia kembali histeris mengingat Aiden yang tidak ada lagi di sisinya.


" Vana tenang!, tenang Vana!!" Dokter raya memegang tangan Vana yang histeris juga memberontak akan pergi.


" Denger dan lakuin kata-kata saya! , tarik nafas lalu buang perlahan!


"Sekali lagi, tarik nafas lalu buang perlahan"


Vana mulai rileks, vana tidak memberontak lagi.


"Kamu udah tenang? "tanya dokter raya yang di angguki Vana.


" Siapa Aiden? Kenapa kamu sangat sedih ketika kamu mengingat nama itu?"


" Aiden..... Hiks... Aiden pacar aku dok. Tapi_____"


"Kenapa? "tanya Dokter raya ketika Vana menggantungkan pembicaraannya.


" Dia pergi ninggalin aku."


"Emang aiden pergi kemana?"


"Pergi ke alamnya, karna urusannya di dunia ini udah selesai. "


Dokter Raya menyengitkan keningnya dokter raya tidak tau maksud cerita Vana.


"Aiden pergi ninggalin aku setelah ngucapin begitu banyak kata terima kasih dan nuntut aku untuk nepatin janji yang aku setujui karna terpaksa"


"aku meminta untuk ikut tapi dia ngga ngizinin aku untuk ikut dia malah nuntun aku untuk aku kembali dan sadar dari koma. "


"Dan setelah itu aku ngga pernah ketemu sama Aiden lagi. "Air mata Vana mengalir ketika fakta pahit yang belum bisa ia terima itu kembali ia rasakan.

__ADS_1


" Aku ngga tau gimana caranya untuk lanjutin hidup ini tanpa dia, cuma dia yang bisa bikin aku merasa ada dan berarti di dunia ini."


" Dia yang buat sifat dingin dan ngga mau bergaul aku hilang dan berubah menjadi sebaliknya."


"Dia yang salalu ada cara untuk bikin aku tersenyum,tertawa dan laluin hidup aku dengan bahagia setiap harinya."


"Tapi sekarang dia udah ngga ada, hidup aku ngga ada artinya lagi. Satu - satunya temen yang aku punya ternyata dia yang udah bunuh aiden."


Dokter tersebut terbelalak mendengar penuturan Vana."Jadi Aiden itu udah meninggal? "


"Iya, "jawab Vana.


" kapan Aiden meninggal? "


" 2 tahun yang lalu." dokter raya semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Vana, jika Aiden sudah meninggal selama itu lalu kenapa baru sekarang Vana merasa kehilangan seperti ini?, padahal orang tua Vana jelas- jelas mengatakan jika Vana depresi seperti ini baru satu bulan belakangan ini setelah ia sadar koma.


Lalu menuntun Vana untuk sadar dari koma, maksud Vana apa?, dokter raya terus memikirkan maksud cerita Vana. Ia binggung dengan cerita Vana.


"Kalau Aiden sudah meninggal 2 tahun yang lalu, lantas kamu berpacaran dengan siapa?" dokter raya tidak bisa lagi menahan semua rasa penasarannya dan kebingungannya dari tadi.


"Arwahnya Aiden. "Dokter raya langsung menutup mulutnya, matanya membulat, terkejut dengan penuturan Vana.


" Aa... Aar... Arwah?"


"Dan kamu nolongin dia? "


Vana menggeleng, "awalnya aku nolak untuk nolongin dia karna aku benci sama yang namanya arwah tapi dia malah ngikuti aku dan selalu mengoceh sampai akirnya dia nolongin aku."


"Nolongin kamu?" Vana mengangguk.


"Aiden nolongin aku untuk terlepas dari preman yang mau ngelecehin aku, dan sebagai balasan dari bantuannya dia minta aku untuk nolongin dia."


"Aku nolongin dia untuk nyelidikin dan cari pelaku yang udah bunuh dia. "


" Sampai dia nembak aku, dia mau aku jadi pacarnya karna semasa hidupnya dia ngga pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta dan pacaran. ''


" Karna aku ngerasa aku dan dia sama akirnya aku nerima dia tapi setelah dia nyelesain tantangan yang aku kasih. "


"Tantangan apa?" tanya dokter raya penasaran.


" Nembak aku dengan tema yang seromantis mungkin."

__ADS_1


"Dia nembak aku di danau yang indah banget, "Vana tertawa, " Dia buat aku bener-bener terkasima dengan pemandangan yang dia tunjukin ke aku, jujur aja dia orang pertama yang bisa buat aku ketawa selepas itu hari itu. "


" Dia buat aku lupa dengan masalah aku, hari itu terasa sangat indah."


"Awalnya memang aku ngga ngerasain apa-apa sama dia, aku nerima dia cuma karna kasihan. Tapi seiring berjalannya waktu aku jadi terbiasa, aku ngerasa nyaman dekat sama dia. Dia selalu buat aku ketawa hari demi hari dia memperlakukan aku dengan sangat manis, sampai aku tiba di fase yang namanya jatuh cinta. "


" aku mulai takut kehilangan dia, takut dia pergi ninggalin aku, aku bahkan sempat berfikir untuk nyusul dia supaya aku dan dia bisa bersatu. Tapi_____"


Dokter raya meraih tangan Vana memegang tangan Vana yang gemetar. "Kenapa?" tanya dokter raya lembut.


"Dia ngelarang aku, dia mau aku hidup. Dan nyuruh aku untuk hidup bahagia. "Air mata Vana jatuh, mengingat perpisahannya dengan Aiden.


" Tapi gimana, gimana caranya aku hidup bahagia tanpa dia. Cuma dia yang bisa ngertiin aku, cuma dia teman sekaligus kekasih yang aku punya."


Dokter Raya sekarang mengerti dengan kesedihan Vana.


"Dokter pasti sekarang mikir kalau aku gilakan? Aku mengada-ngada,dokter pasti ngga percayakan sama cerita aku?" Dokter Raya menggeleng.


"Dokter ngga pernah mikir seperti yang kamu tuduhkan. Karna Dokter juga mengalami apa yang kamu alami." sekarang Vana yang terkejut dengan pengakuan dokter raya.


"Maksud dokter? "


"Saya Indigo, saya bisa melihat. Saya juga pernah jatuh cinta dengan Arwah seperti yang kamu alami. "


" Sakit. Itu yang saya rasakan waktu itu. Ketika kekasih saya meninggal di bunuh oleh orang yang ternyata papa saya sendiri yang melakukannya. "


" Waktu itu saya juga sama seperti kamu tapi bedanya saya memang sudah berpacaran dengan dia sebelum dia meninggal di bunuh."


" Saya juga bantu dia untuk nyelidikin pembunuhnya, sama seperti yang kamu lakuin. "


" Sampi saya nemuin pembunuhnya dan arwah kekasih saya tenang." dokter raya menghela nafas panjang.


" Saya juga depresi waktu itu , saya hampir gila tapi saya teringat dengan janji yang saya sepakati dengan dia yaitu untuk terus melanjutkan hidup dan berbahagia. Dia akan sedih jika orang yang dia tinggali itu sedih dan ngga nerima kepergiannya, dia akan menderita di sana. Dan saya ngga mau buat dia menderita sampai saya mengiklaskan kepergiannya. "


"Berat memang tapi mau gimana lagi itu lah yang namanya hidup. Kita harus tetap menjalaninya karna hidup tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. "


Dokter Raya mengelus bahu Vana lembut, "Kamu harus bisa mengiklaskan Aiden Vana, kamu ngga baleh terus seperti ini. Aiden pasti sangat menderita di sana jika kamu seperti ini."


"Kamu harus menjalani hidup kamu seperti yang Aiden mau!"


"Bahagialah, ikhlaskan dia. Menangislah secukupnya jangan berlebihan, kenang dia di hati kamu. "

__ADS_1


Vana menghela nafas dalam, Dokter raya benar dia tidak boleh seperti ini terus ia harus bisa mengikhlaskan Aiden dan menerima kepergiannya.


...Bersambung ...


__ADS_2