
"Vero!. "Vana terkejut, jadi pria yang di maksud mamanya tadi adalah Vero.
" Lo ngapain ke sini?" tanya Vana.
Sebenarnya tadi Vero akan menemui Vana besok di sekolah tapi ia tidak sanggup menahan semua pikirannya - pikiran tentang Vana.
" Lo tau alamat gue dari siapa? "
"gue pernah ngikutin lo, makannya gue tau alamat lo."jawab Vero.
"Van, lo ngga bisa mutusin hubungan perteman kita gitu aja. Gue harus tau apa alasan lo mutusin gitu aja?! "lanjut Vero.
Vana menghembuskan nafasnya kasar." Mending sekarang juga lo pergi Ver. Kalo lo terus dekat sama gue, lo cuma akan nambah beban dan masalah hidup gue. "usir Vana.
" Nambah beban dan masalah lo? Emang apa yang gue lakuin?" Vero tidak mengerti dengan maksud Vana yang seolah-olah memberi teka - teki padanya.
" Ini pasti masalah dua cewek songong and banyak bacot itu lagi ya." Tebak Aiden yang entah sejak kapan ia duduk di kursi.
Vana langsung melihat ke arah kursi tempat Aiden duduk. "Lo tenang aja ,gue pasti bakal lindungin lo. Terlebih dengan kemampuan gue sekarang ini. " ucap Aiden dengan sombongnya.
"Udah lo temenan aja sama ni bocah, lumayan buat bantu- bantu kasus gue! "Ucap Aiden menyuruh Vana untuk menerima kembali Vero sebagai temannya.
" Tiara sama bianca bully lo lagi?" Mata Vana terbelalak saat Vero tiba-tiba saja menanyai itu padanya.
" Van, bener?!" tanya Vero menuntut jawab dari Vana.
" Udah lo jawab aja iya, biar tu nenek lampir bisa main-main lagi ke ruang Bk. Verokan ketua Osis jadi gampang buat dia masukin mereka ke ruang Bk!! "Aiden terus saja memaksa Vana untuk mengatakan apa yang terjadi padanya kepada Vero.
'' Mereka ngga bully gue emang gue yang ingin jauh dari lo." tegas Vana.
"Tapi kenapa? "Heran Vero.
" Karna gue ngerasa ngga pantas jadi teman lo."
Vero menggeleng, kemudian mendekat dan memeluk Vana." Lo salah Van, gue nyaman temenan sama lo. Kita sama Van jadi ngga usah merasa berbeda!. "
" Woi itu pacar gue!"Teriak Aiden yang cemburu melihat Vana di peluk oleh Vero.
" Main peluk - peluk aja lo kutu air." kesal Aiden diikuti dengan kata-kata absurdnya.
Vana mendorong tubuh Vero melepaskan pelukan Vero." Mending lo pulang, gue mau tidur!" ucap Vana yang kemudian berjalan menuju tangga.
"Vana! "Vero mencekal tangan Vana menahan Vana agar tidak pergi tapi Vana dengan cepat melepas cekalan Vero dengan sekali hentekan kasar.
" Jelas -jelas baby gue ngga mau masih aja lo paksa!"
Aiden mengangkat kursi yang berada di dekat kaki Vero, kemudian menjatuhkannny tepat di jari kelingking Vero.
"Aaaakh! "Pekik Vero kesakitan.
__ADS_1
" Rasain, lagian berani- beraninya meluk-meluk pacar gue." uacp Aiden.
Di sisi lain Vana yang baru sampai di kamarnya terus terpikir dengan ucapan Vero tadi." Kita sama? Maksudnya apa? "pikir Vana.
" Sama dari mana?"
...######...
Setelah pulang sekolah Vana langsung pergi ke rumah Rendi untuk mendalami kasus kematian Aiden. Mungkin saja Rendi tau sesuatu tentang kematian Aiden atau bisa membantu Vana dalam memecahkan kasus ini seperti yang di lakukan Marta.
" Ini rumahnya?" Tanya Vana pada Aiden.
"Mungkin." jawab Aiden ragu, bukan karna aiden tidak tau tapi karna sebagian ingatannya hilang karna ia yang telah menjadi hantu saat ini.
Vana kelur dari mobilnya dan berjalan menuju rumah yang menurut alamat yang ia dapat itu adalah rumah rendi.
"Permisi." teriak Vana sambil mengetuk pintu rumah Rendi.
"Ngga usah teriak-teriak biar aku masuk aja!" ucap Aiden menembus dinding rumah Rendi memeriksa apakah ada orang di dalam atau tidak.
"Aku? "Van menyengitkan keningnya." kesambet apaan si setan bisa lembut gitu bacotannya. "gumam Vana.
Vana mengelilingi rumah Rendi, sambil menunggu Aiden keluar dari dalam rumah. Siapa tau pemilik rumah sedang di luar atau di belakang rumah.
" Kak Rendi udah pindah dari rumah itu 2 tahun yang lalu." ucap Vero saat Vana mengelilingi rumah rendi, Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Vero ada di belakang Vana. Terkadang Vana sulit membedakan Vero dan Aiden karna mereka sama-sama datang secara tiba- tiba.
" Lo tau dari mana semua itu?" Tanya Vana.
" Gue tanya sama pak samsul penjaga rumah ini. "jawab Vero.
" Kenapa?kenapa lo bantuin gue?" Vana tidak mengerti kenapa Vero membantunya padahal jelas-jelas ia sudah menolak vero untuk menjadi temannya.
"Karna kita teman, teman akan selalu ada di saat susah ataupun senang dan akan membatu jika temannya itu membutuhkan bantuan."
Vana berjalan mendekat ke arah Vero"Tapi gue ngga pernah nganggep lo teman." ujar Vana yang kemudian berlalu di depan vero.
" TAPI GUE BAKAL TERUS ANGGEP LO TEMEN!!! "
Vana mengabaikan teriakan Vero dan kembali berjalan menuju pintu utama.
"Van tadi aku udah cek_____"
" Orangnya ngga ada udah pindah dari 2 tahun yang lalu." ucap Vana memotong ucapan Aiden.
Vana berjalan kedalam mobilnya dan kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Rendi.
...######...
"Kamu kenapa sih? "tanya Aiden yang sudah duduk di sebelah Vana.
__ADS_1
" Ngga papa." jawab Vana.
" kamu selalu aja jawab gitu kalo aku tanya. "kesal Aiden.
Vana melihat ke arah Aiden dengan tatapan yang sulit untuk di artikan oleh Aiden.
" Barusan lo bicara aku kamu ke gue?" tanya Vana yang agak risih mendengar ucapan Aiden. Vana kira ia tadi hanya salah dengar atau aiden kesambet sampai ia biacara seperti itu.
" udah dari tadi. "jawab Aiden.
" Gini ya, kitakan udah pacaran jadi menurut yang gue baca di google kemaren saat dua orang insan yang berpacaran berbicara maka mereka tidak akan melontarkan kata-kata kasar di antara mereka. Mereka berdua akan berbicara dan bersikap lembut kepada pasangannya! "jelas Aiden.
" Kamu ngertikan sayang?" ucap Aiden lembut sambil mengeluarkan senyuman indahnya.
" Iiiiih..." Vana bergidik ngeri tapi juga merasa jijik melihat prilaku juga cara bicara Aiden kepadanya.
Aiden tertawa kecil melihat ekspresi Vana yang menurutnya itu sangat lucu terlebih saat Vana meresa geli dengan ucapannya tadi. Sebenarnya Aiden juga merasa geli dengan penjelasan dan juga sikapnya tadi tapi dia harus melakukan itu agar ia bisa menikmati bagaimana indahnya jatuh cinta. Karna waktunya di dunia ini tidak akan lama lagi. Setelah semuanya ini terungkap dia mungkin tidak akan bisa bertemu bahkan melihat Vana lagi.
Treeedt... treddt...
Vana merogoh kantongnya untuk mengambil ponsel dari dalam saku roknya. Vana melihat siapa yang menelfon.
Kak Marta is call....
"Halo kak. "ucap Vana menjawab telfon Marta .
" Gue udah dapet info tentang Reno dan gengnya."
" Info apa kak?" tanya Vana penasaran.
" Beberpa hari ini gue juga temen-temen gue cari keberadaan dia dan gue dapet info kalo dia kuliah di Green light University. "
"Green Light University?"
"Iya, kampus swasta terfaforit di jakarta. Dia ngambil jurusan Manajemen di sana."
"Oke, makasi infonya kak. "
"Iya sama-sama,pokoknya lo harus kabarin terus gimana perkembangan kasus Aiden ke gue!!. "
"Iya kak. "ucap Vana setelah itu ia mematikan telfonnya.
" Jadi Marta udah tau di mana keberadaan Reno?" Tanya Aiden yang langsung di angguki Vana.
" Lo liat aja Ren, lo ngga akan lepas gitu aja!"
...Bersambung...
Jangan lupa like, comen, vote dan shere cerita ini gays.
__ADS_1