
Rendi diam membeku begitu mendengar penjelasan dokter bahwa Karissa sudah tiada. Rendi berdiri di persimpangan koridor ruang operasi dengan tatapan kosong.
Disisi lain para dokter langsung memeriksa keadaanya lidia dan melakukan tindakan. Namun serangan jantung yang mendadak yang menyebabkan komplikasi membuat nyawanya tidak dapat tertolong. Herman langsung histeris memeluk jasad istrinya.
"SAYANG"teriak Herman menangis histeris.
Mereka semua yang melihat turut prihatin dengan musibah yang menimpa keluarga Herman.
Marta memukul dinding yang ada di belakangnya, ia sudah gagal menyelamatkan Karissa, ia tidak bisa menepati janjinya pada Rendi. Apa yang akan Marta bilang pada Rendi nantinya?. Marta mengacak - ngacak rambutnya frustasi dengan apa yang telah di alami sahabat juga keluarga sahabatnya, lagi dan lagi ia kehilangan sahabatnya. Marta terbelalak saat matanya tidak sengaja melihat ke arah koridor dan menemukan keberadaan Rendi yang berdiri membeku di sana.
"Rendi"Marta dan Rendi beradu tatap, terlihat jelas tatapan kecewa dari Rendi ke arah Marta.
Marta langsung berlari ke arah Rendi," Ren gue____"Rendi memeluk Marta dengan erat melimpahkan semua kesedihan juga penyesalnnya.
"Kita gagal,... gue gagal, gue gagal jaga Karissa ta lagi dan lagi kita kehilangan sahabat kita kesedihan kehilangan Aiden kini terulang lagi dengan Karissa." Rendi menangis dalam pelukan Marta.
"Kenapa harus Karissa yang pergi ta? Kenapa? Harusnya gue yang mati, gue yang bodoh. Harusnya dari dulu gue selidikin ini semua." Rendi melepas pelukannya dari marta.
"Gue yang goblok, bodoh yang percaya gitu aja dengan kematian Aiden. " Rendi memukul - mukul kepalanya menyesali kebodohannya selama ini.
Marta menahan tangan Rendi agar tidak memukuli kepalanya lagi. "Stop ren, stop. Semuanya udah kejadian ini takdir mereka, kita ngga bisa nyalin diri sendiri ataupun orang lain. Kita harus bisa terima kepergian mereka biar mereka tenang di sana.!!!"tegas Marta, Rendi menurut karna apapun yang ia lakukan sekarang tidak akan mengubah apapun ataupun mengembalikan Karissa.
...######...
Berita tentang Vero yang menjadi tersangka pembunuhan tersebar ke seluruh sekolah. Beritanya beredar di mana- mana semua keluarga korban menuntut Vero atas meninggalnya anak- anak mereka.
"Gila, ini bener- bener gila Ra. Gue ngga nyangka Most Wanten sekolah kita seorang pisikopat. "Bianca berbicara dengan hebohnya ke arah Tiara.
" Untung aja lo ngga jadi pacaran sama dia. Gue ngga kebayang kalo lo jadi pacaran sama pisikopat kayak dia." Tiara tidak menanggapi apapun ucapan Bianca, wajahnya malah gelisah seperti ada yang sedang ia pikirkan.
__ADS_1
Bianca berdecak. "Ra lo dengerin gue ngga sih? . Capek ni gue ngomong, lo malah diem." kesal Bianca.
"Lo kenapa sih? "
Tiara berdecak kearah Bianca, "Harusnya gue lebih perhatian sama dia, gue yakin Vero kayak gini pasti karna kurang perhatian." sesal Tiara.
Bianca melihat heran ke arah Tiara, "Otak lo kayaknya perlu di renovasi deh, pisikopat kayak gitu masih lo kasihanin?"
"Ra bunuh orang sebanyak itu aja dia ngga kasihan. Dan lo ngasihanin dia?"
"Tapi gue cinta sama dia. "tiara memanyunkan bibirnya ke arah bianca.
" Cinta sih cinta tapi jangan sampe gila kayak gini juga!" ketus Bianca yang kemudian pergi meninggalkan Tiara.
" Bii!" panggil tiara.
Eric mengurung dirinya di dalam kamar setelah pulang dari pemakaman Karissa dan mamanya Vero tadi . Eric tidak menyangka sepupu perempuan yang di akui Vero berada di rumah Vero itu ternyata adalah kakak kandungnya sendiri.Dan yang lebih parahnya lagi kakaknya meninggal akibat perbuatan Vero sendiri.
" Apa yang udah lo lakuin Ver? "Eric memukul-mukul kasurnya melampiaskan kekesalan juga kekecewaannya terhadap Vero, orang yang selama ini sudah di anggap sebagai saudaranya sendiri oleh Eric.
Eic mengambil sebuah foto yang terpajang dekat lemari kecil di sebelah kasurnya. Foto itu adalah foto dirinya bersama vero dengan pose berpelukan seperti teletabis.
" Lo nganggep gue apa selama ini Ver?"
"Kenapa lo tega ngebohongin dan lakuin hal sekeji itu?"
"Kenapa lo ngga pernah cerita masalah apapun sama gue?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"AAAAAKKKKHHH" Eric melempar foto kebersamaan dirinya dengan Vero ke dinding kamar. Sakit hati, kecewa, marah dan juga rasa bersalah di rasakan oleh eric saat ini.Keadaannya sangat kacau tidak ada wajah ceria sifat pecicilan dan bacotan anfaedah lagi dari eric semua hilang, kebahagiannya lenyap begitu tau sahabat yang selama ini ia idolakan ternyata tidak lebih dari seorang penjahat. Gelar pisikopat melekat pada diri Vero bahkan polisi kini juga mencurigai Eric terlibat di dalam kasus Vero.
...########...
Wiliam dan Tania kembali ke rumah sakit setelah selesai dari pemakaman Mama dan Kakaknya Vero.lalu Vero? Vero sama halnya dengan Vana ia masih belum sadar dari komanya.
Tania menatap sendu ke arah ranjang Vana.Tania tidak kuat melihat kondisi anaknya saat ini, wajahnya yang penuh dengan balutan perban dengan infus yang terus mengalir di tangan Vana membuat Tania selalu menangis ketika berada di samping Vana. Ingin rasanya Tania menggantikan posisi Vana saat ini, biar dia yang menanggung semua rasa sakit yang di rasakan Vana agar Vana bisa bangun, membuka matanya dan bisa kembali berkumpul dengan mereka.
Sudah dua hari semenjak kajadian itu Vana terlelap dan masih enggan membuka matanya sedikitpun . Entah mimpi apa yang di lalui oleh Vana sampai ia tidak mau membuka matanya.Tania duduk di kursi samping ranjang Vana, memegangi tangan Vana sambil terus menciuminya dan berdoa agar Vana bisa bangun dari komanya.
Tania mengusap puncak kepala Vana"Vana kamu bangun ya sayang, mama di sini nungguin kamu untuk bangun. Jangan tinggalin mama sayang! "deraian Air mata terus mengalir di pipi Tania, menangis sendu melihat keadaan anaknya.
Wiliam mengusap bahu istrinya, ''Maaaa... Vana pasti bangun. Vana itu anak yang kuat, dia pasti bisa bangun dari komanya." Wiliam berusaha menenangkan istrinya.
"Sudah dua hari mas,.... Hiks.. Hiks.. Sudah dua hari Vana koma tapi dia belum bangun juga. Kita harus nunggu berapa lama lagi supaya Vana bangun?"
"Hiks... Hiks.. Hiks..aku takut Vana pergi ninggalin kita mas. Aku ngga kebayang gimana cara aku hidup tanpa Vana?"
Tania beralih menatap Wiliam"Aku lebih baik mati mas, dari pada harus hidup tanpa Vana.Hiks... Hiks.. Hiks.. "
Wiliam langsung memeluk istrinya kuat, "Kamu ngga boleh ngomong kayak gitu, Vana akan hancur kalau dia denger kamu bicara kayak gitu!"
"Vana pasti bangun, dia ngga akan pergi ninggalin kita."
"kamu harus percaya kalau Vana bisa ngelewatin ini semua. Kita harus terus berdoa, memohon pada tuhan agar Vana bisa bangun dari komanya!" tegas Wiliam pada istrinya.
Tania dan wiliam saling menguatkan mendoakan kesembuhan untuk Vana, putri kesayangannya. Mereka berharap agar Vana bisa segera kembali berkumpul bersama-sama dengan mereka .
...Bersambung ...
__ADS_1