Ghost Love

Ghost Love
Bab 41.Depresi


__ADS_3

1 bulan kemudian....


Sudah satu bulan semenjak kejadian itu Vana mengurung dirinya di dalam kamar, tidak mau bicara, dan tidak mau membuka diri bahkan kepada mama dan papanya. Orang tua Vana sedih melihat kondisi anaknya yang memprihatinkan. Mereka tidak tau apa penyebab Vana sampai sesedih itu. Kata yang selalu terucap di bibir Vana adalah Aiden, nama yang orang tua Vana sendiri tidak tau siapa itu? . Setiap hari setiap waktu Vana selalu memanggil - manggil nama Aiden, Vana terlihat sangat depresi sehingga dokter menyarankan untuk membawa Vana ke psikiater.


Awalnya tania menolak, anaknya hanya perlu waktu untuk bisa kembali seperti normal. Tania tidak mau anaknya di cap sebagai orang gila . Tapi berkat bujuk Wiliam Taniapun akirnya mau membawa Vana ke psikiater.


Tania berjalan masuk ke dalam kamar Vana, ia melihat Vana yang duduk meringkuk di karpet di bawah tempat tidurnya sambil menangis menyebut nama Aiden.


"Sayang, '' Tania mengelus bahu Vana lembut. Vana melihat ke arah tania dengan mata yang sembab.


" Kamu ikut mama ya!" ucap tania yang langsung di gelengi oleh Vana.


" Kita pergi, cari Aiden." dusta Tania yang terpaksa harus berbohong agar Vana bisa ikut bersamanya.


Mata Vana berbinar, "Mama udah temuin Aiden?" tanya Vana yang dangat antusias.


Tania mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. "Kita pergi sekarang ya sayang!" ucap Tania membantu Vana untuk bangkit.


Vana menarik tangan mamanya, "Buruan ma, nanti Aiden keburu pergi!" desak Vana.


"Iya sayang"jawab Tania berderai air mata.


...#######...


Om Herman is Call....


Eric menyengitkan keningnya karna tiba-tiba saja ia mendapatlan telfon dari papa Vero. Sekian lama Eric tidak berhubungan lagi dengan Vero bahkan menjenguk Vero saja ia tidak pernah, eric benar-benar memutus habis tali persahabatannya dengan Vero.


"Halo om. "jawab Eric malas.


" Halo Eric,"


'' Ada apa ya om?'' tanya Eric to the poin tidak ingin berlama-lama.


" Om mau minta tolong sama kamu, ini tentang Vero. "


" Maaf om saya bukan temennya Vero lagi, jadi lebih baik om minta tolong ke orang lain aja!" tolak Eric, ia malas jika harus berhubungan dengan seorang pisikopat seperti Vero lagi.


"Tapi Eric, om berharap banyak sama kamu."


"Saat Vero sadar dari koma sampai sekarang dia ngga mau bicara. Mulutnya bungkam, tatapannya kosong. Mungkin kalau dengan kamu dia bisa bicara agar kondisinya bisa membaik! "


Herman memohon pada Eric agar bisa membantu kesembuhan Vero.


"Polisi sulit untuk mengintrogasi Vero, dokterpun juga sulit memeriksa keadaan Vero."


Eric prihatin mendengar keadaan sahabatnya.


"Tolong temuin Vero, mungkin kalau dengan kamu dia mau bicara! ''

__ADS_1


Herman terus memohon pada Eric agar ia mau menemuin Vero.


" Saya ngga janji bisa atau ngganya om!" tutur Eric yang kemudian mematikan telfonnya secara sepihak.


...######...


" Kita kenapa ke sini ma? ''


" Emang Aiden ada di sini pa?"


" Mama ketemu aiden di mana? "


" Papa nemuin Aiden di sini?"


Tanya Vana berulang kali dari awal masuk ke dalam rumah sakit tadi.


Tania dan Wiliam diam tak menanggapi pertanyaan Vana.


Mereka bertiga berhenti di sebuah ruangan yang di pintunya tertulis Psikiater.


" Kenapa kita ke sini ma, pa?" Wiliam melihat anaknya yang suranya serak seperti menahan tangis. Tangan wiliam berhenti saat ia hendak membuka pintu ruangan tersebut.


"Mama bawa aku ke sini bukan untuk ketemu Aidenkan? Iyakan pa?" Air mata Vana berjatuhan menahan emosinya.


"Sayang. "Tania menatap anaknya," Maksud mama bukan gitu? "ucap tania mencoba menenangkan anaknya.


" Ngga sayang." sangkal wiliam, wiliam memegang tangan Vana namun dengan cepat Vana menepisnya.


" Aku ngga gila pa, ma. Aku cuma mau ketemu sama Aiden. Aku mau dia kembali sama aku dan ada di deket aku!"


Tania kembali meraih tangan anaknya"Sayang, dengerin mama. Kita bawa kamu kesini supaya kamu sembuh dan bisa cari Aiden bukan berarti mama dan papa nganggep kamu gila." ucap Tania menatap anaknya penuh kelembutan.


"Kalo kamu seperti ini terus kamu ngga akan bisa ketemu dengan Aiden." sambung Wiliam.


"Mama sama papa ngga pernah ngangep kamu gila. "ucap tania sambil memeluk Vana.


" Kita kesini untuk buat kamu sembuh biar kamu ngga sedih lagi dan bisa ketemu sama Aiden."bujuk Tania sambil melepaskan pelukannya.


" Kamu mau ya masuk!!, kamu harus ceritaain semuanya sama dokter biar kamu lega dan cepat ketemu dengan Aiden!" tutur Tania yang di angguki oleh Vana.


...#######...


Tok tok tok tokkk.....


Herman membuka pintu ruang rawat Vero dan terkejut dengan kehadiran pria yang berdiri di depan pintu ruang rawat Vero.


" Eric."


Eric menarik nafas dalam dan membuangnya kasar," saya ke sini bukan sebagai teman Vero om, saya kesini cuma karna rasa kemanusiaan." tutur Eric tak ingin Herman bebesar hati kepadanya.

__ADS_1


"Makasi kamu udah dateng. "Eric mengangguk kemudian masuk kedalam ruangan di ikuti oleh Herman.


" Om" langkah Herman ikut berhenti saat Eric menghentikan langkahnya dan memanggilnya.


"Iya, "jawab herman.


" Saya mau bicara dengan Vero empat mata, jadi om bisa keluar sebentarkan?" tanya Eric sopan.


" OOH Iya" jawab Herman yang kemudian keluar dari ruangan.


Eric melihat ke arah Vero yang menatap lurus ke arah tembok yang ada di depannya dengan tatapan kosong, bekas luka di wajah dan tangannya masih terlihat jelas.


Kondisi Vero sangatlah memprihatinkan sama persis seperti yang di sebutkan oleh Om herman kepadanya. Di tambah lagi dengan borgol yang terkunci di tangan Vero membuatnya semakin terlihat mengenaskan.


Eric berjalan mendekat ke arah Vero, "Kenapa lo kayak gini sekarang?" Vero tidak menjawab pertanyaan Eric tidak ada Respon sedikitpun dari Vero, Matanya masih tetap menatap ke arah depan.


Eric mencengkram bahu Vero, "Harusnya sekarang ini lo minta maaf sama gue, jelasin apa yang udah terjadi sama lo sampai lo bunuh orang kayak gitu dan ngga cerita sama gue!! . '' ucap Eric penuh penekanan.


Eric melepas cengkraman bahu Vero dengan kasar." Lo anggep gue apa? "


Eric mengacak-ngacak rambutnya frustasi, tidak ada respon apapun dari Vero percuma ia berbicara panjang lebar dari tadi.


"Harusnya gue ngga ke sini tadi, percuma. Gue cuma makin sakit hati dan marah sama lo."


"Gue yang goblok udah nganggep lo sebagai sahabat gue. "


Eric berjalan keluar ruangan meninggalkan Vero yang masih diam membisu di kasurnya.


"Vana"gumam Vero membuat Eric menghentikan langkahnya.


" Gue mau ketemu Vana." ucap Vero pelan namun masih bisa terdengar oleh Eric.


Vero berbicara tanpa mengubah arah pandangnya, tatapannya masih kosong ke depan.


" Bahkan di saat gue benci dan marah sama lo, lo bisa - bisanya minta tolong sama gue. "


"Dan bodohnya gue, gue malah kasihan sama lo. "ujar Eric yang kemudian keluar dari ruangan Vero.


" Gimana eric?" tanya Herman begitu melihat Eric keluar dari ruangan Vero.


" Vero mau ketemu dengan Vana.Cuma itu yang dia bilang ke saya" jawab Eric.


"Vana anaknya pak wiliam? "tanya herman memastikan.


Eric mengangguk," kalao begitu saya pamit dulu om, saya harap ini terakir kalinya saya dan vero berhubungan. Saya ngga mau ketemu atau ngurusun masalah apapun yang bersangkutan dengan Vero. Saya harap om bisa ngerti. "ujar Eric .


" Iya, terima kasih." ucap herman yang diangguki oleh Eric dan kemudian pergi.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2