Ghost Love

Ghost Love
Bab 27.Suara


__ADS_3

"Vana kamu dari mana aja? "tanya Tania khawatir saat mendapati anak kesayangannya itu tidak ada di dalam kamar.


Tadi saat tania akan mengantarkan buah serta bunga yang di tinggalkan Vero di depan pintu Vana ia malah mendapati Vana tidak ada di dalam kamarnya.


" Vana abis jalan- jalan ma. "jawab Vana, Van melirik buah serta bunga yang ada di tangan mamanya.


" Itu mama yang beli?" tanya Vana penasaran.


" Ini dari Vero, tadi sebelum kamu pergi dia datang ke sini tapi kayaknya dia ngga jadi masuk ke kamar kamu dan ninggalin ini di depan pintu kamar kamu. Truss buah dan bunga ini mama ambil dan mama taruh di dapur, rencananya sih mama mau kasih ke kamu pas mama mau nganterin makan malam tapi pas mama masuk ke kamar, kamunya malah ngga ada. "jelas tania.


Vana mengangguk lalu mengambil bunga serta buah dari tangan mamanya lalu vana naik ke atas menuju kamar di ikuti oleh aiden di belakangnya.


" Kenapa ya tadi Vero ngga masuk? "tanya Vana pada Aiden.


Aiden menaikan kedua bahunya tanda ia tidak tahu.


Vana merogoh ponsel dari dalam sakunya. Vana ingin menelfon Vero ingin bertanya kenapa ia tidak jadi menemuinya tadi.


Vana melihat layar ponselnya," 10 panggilan tidak terjawab dari Vero?" kaget Vana saat melihat layar ponselnya.


Vana menyengitkan keningnya, kenapa banyak sekali panggilan dari Vero? Apa terjadi sesuatu dengannya? Atau ada hal penting yang ingin vero sampaikan?.


Karna penasaran Vanapun menelfon Vero ia ingin tau apa alasan Vero menelfonnya sebanyak itu.


Vana is call...


Vero melirik ponselnya kemudian tertawa, "Gue ngga butuh lo lagi van. Gue udah bahagia wuhuuuuu" Vero berteriak entah apa yang merasuki Vero sampai ia pergi ke bar dan mabuk berat di sana.


Vana melihat ponselnya, tersambung namun tidak di angkat oleh Vero.


Vana menggeleng kemudian meletakkan ponselnya di atas kasur.


"Ada apa? "tanya Aiden melihat wajah Vana yang bingung.


" Kenapa ya tadi Vero ngga nemuin aku?"


" Mungkin dia ada urusan mendadak jadi ngga sempet nemuin kamu." jawab Aiden menenangkan Vana.


" Truss ngapain dia nelfon sampai sebanyak ini?" tanya Vana lagi.


"Mungkin dia mau bilang minta maaf ke kamu.Udahlah jangan di pikirin!!! "ujar Aiden yang di angguki Vana. Mungkin yang Aiden bilang ada benarnya.


Tok tok tok....


Pintu kamar Vana di ketuk kemudian masuk Tania juga Wiliam dengan pakaian yang rapi dan elegan.


" Mama mau kemana?." Tanya Vana heran. Tidak biasanya mama atau papanya itu berpakaian rapi seperti itu terlebih hari sudah malam.

__ADS_1


"Mama sama Papa mau ke acara makan malam sahabat papa kamu. Kamu mau ikut? "tawar Tania pada Vana.


" Kamu ikut ya sayang!" bujuk wiliam.


Vana menggeleng," Papa sama Mama pergi aja Vana mau istirahat. "tolak Vana.


" Bener, ngga papa?" tanya Tania ragu.


Vana mengangguk," Vana ngga papa."


" Yaudah kalo gitu Papa sama mama pergi dulu. Kamu baik- baik di rumah. Kalo ada apa-apa langsung kabarin papa!" ucap Wliam yang di angguki Vana.


"Tenang aja Om, saya pastiin anak Om dan Tante akan baik- baik aja. "jawab Aiden dengan sombongnya.


...#####...


Vana melirik jam dinding kamarnya, pukul sudah menunjukkan jam 11 malam namun mata Vana belum juga merasa ngantuk. Vana melihat ke arah Aiden yang tidur di atas sofa kamarnya, Vana tidak tega jika harus membangunkan Aiden hanya untuk menemaninya.


Vana berjalan menuju meja belajarnya, membuka laci meja itu. Vana melihat beberapa alat untuk menampung hasil penyadapan yang ia letakkan di rumah reno.


"Oh iya hasil sadapnya." ucap Vana yang kemudian menaikkan benda - benda itu ke atas mejanya.


Vana mendengarkan satu persatu isi pembicaraan Reno, keluarga dan juga teman - temannya.


Dari pembicaraan di ruang tamu terdengar biasa - biasa saja tidak ada yang mencurigakan, begitu juga dengan ruang keluarga hanya seputar pembicaraan kampus juga masalah - masalah keluarga.


"Gomongin soal kampus, gue jadi penasaran soal kejadian waktu itu, kenapa bisa lo di pukulin tanpa ada yang mukulin lo? "ucap bastian yang merasa aneh dengan kejadian waktu itu.


" Gue juga ngga tau, tapi sebelum gue pingsa waktu itu gue denger cewek SMA itu nyemut nama Aiden. Setelah itu gue ngga sadarkan diri." jelas Reno.


" Jadi maksud lo yang mukulin lo itu Aiden?" tanya Tristan yang kemudian tertawa.


"Gue juga ngga tau, tapi di lihat dari cctv emang ngga ada orang yang gebukin gue kan? "


"Iya juga sih. "ucap mereka berdua bersamaan.


Aiden yang mendengar suara Reno dan teman - temannyapun langsung terbangun dan kemudian berjalan mendekat ke arah Vana.


" Tapi kalo emang dia pelakunya berarti sekarang ini dia masih gentayangan dan menyangka kalo lo emang pelaku di balik kasus dia bunuh diri." tutur Bastian.


"Dan untuk buktiin itu Aiden minta bantuan sama dua anak SMA itu buat nyelidikin gue. "sambung Reno


" Berarti mereka berdua bisa liat Aiden?" tanya Tristan.


Reno dan bastian terdiam mereka juga berfikiran yang sama dengan Tristan.


" Tapi Ren lo bener-bener ngga ada sangkut pautkan dengan kasus bunuh diri Aiden?" tanya Bastian.

__ADS_1


'' Ya ngga mungkin lah. Kalian berdua taukan gue orangnya gimana. Sebenci - bencinya gue sama tuh orang ngga mungkin gue buat dia sampai bunuh diri. " ujar Reno tak mau di sangkut pautkan dengan masalah Aiden.


"Tapikan sehari sebelum Aiden di temuin gantung diri, malemnya lo sempet ke sekolahkan." ucap Tristan.


"Kan gue udah bilang gue ke sekolah itu ngambil mobil gue. " jawab Reno yang kesal karena temannya terus mencurigainya.


"Tapi kenapa waktu di introgasi sama polisi lo ngga bilang kalo malam itu lo pergi ke sekolah? " tanya Bastian.


"Lo tau kalo waktu itu yang bermasalah sama Aiden itu cuma gue, kalo gue bilang gue ke sekolah malam itu pasti mereka nyangka kalo gue yang bunuh dia." jelas Reno.


"Tapi waktu gue ke sekolah gue kayak ngeliat rendi pergi ke belakang sekolah. " sambung Reno .


" Rendi? Ngapin dia ke sekolah malem - malem?" heran Bastian juga tristan.


" Gue juga ngga tau." ucap Reno yang kemudian mereka mengalihkan pembicaraan mereka.


" Rendi, itukan sahabat Aiden." gumam Vana.


" Ngga mungkin Rendi yang ngelakuin." Saut Aiden yang tengah berdiri di belakang Vana.


Vana menoleh ke arah Aiden sangking fokusnya Vana pada pembicaraan Reno ia sampai tidak menyadari kehadiran Aiden di dekatnya.


" Aku akan tetap nyelidikin Rendi. "ucap Vana.


" Van ngga mungkin Rendi setega itu sama aku, aku tau betul gimana Rendi."


" Kamu jangan terhasut hanya karna omongan Reno. Dia cuma ngga mau di salahin." tutur Aiden tak mau sahabatnya itu di curigai oleh Vana.


" Maaf, aku ngga bisa ngecualiin orang, hanya karna orang itu sahabat kamu. Karna semua orang akan mungkin menjdi tersangka dalam kasus ini. "Ujar Vana.


" Tapi Van ______"


Tingnung... tingnung... tingnung...


Omongan Aiden terpotong karna bunyi bel rumah Vana yang berbunyi cukup keras dan berulang kali.


Vana menyengitkan keningnya, "Siapa yang bertamu tengah malam seperti ini? Apa itu Mama Papanya?" pikir Vana yang langsung keluar dari kamar menuju pintu rumah.


Vana membuka pintu rumah dan bertapa terkejutnya ia ketika melihat orang yang datang kerumahnya itu adalah.......


...**Bersambung...


Hayo siapa nih yang dateng ke rumah Vana malem-malem? Apa bener itu mamanya? Atau........


Tungguin terus ya bab selanjutnya, baca terus dan jangan sampe bosen. Tingalin juga jejak kalian dengan memberikan like, vote, hadiah atau membagikan cerita ini biar autor makin semangat untuk berkaria**.


Sampai jumpa di bab berikutnya gays:)

__ADS_1


__ADS_2