Ghost Love

Ghost Love
26.Rumah Pohon


__ADS_3

Vana melihat sekeliling, tidak salah lagi tempat yang di tunjukkan Aiden kali ini lebih bagus dari sebelumnya.Pepohonan yang rimbun dengan satu rumah pohon di atasnya dan lapangan untuk bermain basket yang berada di depan rumah pohon . Tak lupa di sekeliling rumah pohon itu terdapat banyak sekali bunga mawar dalam berbagai jenis. Dan yang paling penting tidak ada orang di sana.


Sebenarnya Vana tadinya tidak ingin keluar dari rumah, Vana masih takut. Takut jika kejadian kemarin terulang kembali kepadanya. Tapi berkat Aiden yang meyakinkan dan menasihatinya Vana menjadi berani untuk keluar dari rumah ia percaya pada Aiden kalau ia akan melindunginya dan tidak akan membiarkannya terluka lagi. Lagian mau sampai kapan ia akan selalu mengurung diri di kamar, Vana tidak mau melihat Tiara dan Bianca semakin senang melihat keterpurukannya.


"Ini tempat rahasia Aku sama Marta dan Rendi. Hanya aku, mama aku dan mereka berdua yang tau. Sebenernya aku ngga mau kasih tau ini tempt ke nyokap tapi karna bunga mawar itu aku jadi ngga tahan kalo aku ngga bawa nyokap ke sini. "jelas Aiden.


" Mama itu suka banget sama yang namanya bunga mawar. Sehancur - hancurnya dia kalo liat bunga mawar pasti moodnya langsung baik. "Aiden tertawa," Jadi rindu nyokap. "gumam Aiden sambil melihat ke arah bunga mawar.


" Itu rumah pohonnya boleh di naikin ngga?" tanya Vana mengalihkan pembicaraan, Vana tidak tega melihat Aiden yang bersedih seperti itu. Padahal tadinya kan Aiden yang mebuat Vana kembali gembira seperti ini.


Aiden tertawa "boleh dong, kita tanding siapa yang paling cepat sampe ke atas." ucap Aiden menantang Vana.


"Oke. "jawab Vana menerima tantangan Aiden.


Vana berlari menuju rumah pohon dan akan menaiki tangga kayu yang tertancap di pohon agar bisa sampai di atas.


" Sayang, kamu lelet banget sih aku capek nunggunya nih." ucap Aiden mengejek Vana yang baru menginjak satu buah tangga.


Vana mendongak ke atas, menatap Aiden kesal. "Kamu curang, Harusnya tu naiknya sama - sama!" kesal Vana memanyunkan mulutnya.


Aiden tertawa melihat ekspresi Vana, baru kali ini Aiden melihat ekspresi semanja itu dari seorang Vana.


"Kan tadi kamu ngga ada nyebutin peraturannya. "balas Aiden semakin mengejek Vana.


" Iiih.." Vana semakin kesal, ia menghentak- hentakkan kakinya sambil terus menaiki tangga. Namun ketika Vana menginjakkan kakinya di tangga yang ke tujuh tiba - tiba saja kayu pijakan tersebut terlepas membuat Vana kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


"VANA! " Aiden dengan sigap menangkap Vana sehingga Vana tidak sampai jatuh ke atas tanah.


Vana menatap wajah cemas Aiden yang sangat menghawatirkannya. Cukup lama mereka saling menatap sampai akirnya Vana tersenyum lebar ke arah Aiden.


"Aku tau kamu pasti akan nangkep aku. "ucap Vana.


" Aku nggak mau kamu kenapa - napa lagi.!"balas Aiden sambil menurunkan Vana dari gendongannya.

__ADS_1


...######...


Vero melempar semua buku yang ada di atas meja belajarnya. Buku - buku baru yang baru saja di beli oleh papanya untuk ia pelajari.


Vero meraih ponselnya mengetik sebuah nama untuk ia telfon.


Vero is call...


Henphone Vana yang berada di dasbord mobil terus berbunyi. Tadi ketika vana turun dari mobil ia lupa untuk membawa ponselnya dan hal hasil saat ini tidak ada yang mengangkat telfon dari Vero.


Disisi lain Vero terus menelfon Vana ia sangat berharap jika Vana mengangkat telfonnya karna Vero tidak tau harus bercerita pada siapa.Karna yang tau kelebihan Vero hanyalah Vana hanya dia dan hanya dia juga yang bisa mengerti dirinya.


"Tolong angkat Van, gue butuh lo!!! "gumam Vero.


" Vana!" Vero sangat gusar menunggu telfonnya di angkat.


" Gue butuh lo van!" ucap Vero.


Vero melempar ponselnya ia sangat kesal karna Vana tak kunjung mengangkat telfonnya.


"Gue mau cerita!"


" Tolong telfon gue!"


Vero mengacak - ngacak rambutnya ia sangat frustasi dengan kehidupannya sekarang ini. Tidak ada satu orangpun yang bisa ia ajak bicara.Vana satu - satunya orang yang tahu kelebihannya malah mengacuhkannya saat ini.


...######...


Vana dan Aiden duduk di atas Rumah pohon tersebut menikmati pemandangan alam yang sangat asri. Tenang itulah yang di rasakan vana saat ini pikirannya terbuka kembali setelah melihat pemandangan dan keindahan alam yang ada di depan matanya saat ini. Vana jadi bisa berfikir jika kehidupan di luar tidak selalu seburuk yang ia bayangkan masih banyak tempat - tempat yang bisa menerimanya memberilan Vana kehidupan dan ketenangan.


"Jangan sedih - sedih lagi ya!! "ucap Aiden.


Vana tersenyum," Aku ngga akan sedih selama kamu selalu ada di sisi aku. "jawab Vana.

__ADS_1


Aiden menggeleng," Tolong janji sama aku untuk ngga sedih, ada atau ngga adanya aku nanti. Kehidupan kamu masih panjang sedangkan aku, aku hanya arwah yang perlu keadilan setelah keadilanku tercapai aku akan pergi melanjutkan alam selanjutnya. "jelas aiden.


Air mata Vana berlinang perkataan Aiden tadi membuat Vana tersadar jika pria yang ada di depannya itu bukanlah manusia melainkan Arwah.


Aiden mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Vana," Tolong janji untuk selalu hidup bahagia ada atau ngga adanya aku nanti!!!"


Vana terdiam, Vana masih berfikir apa ia bisa hidup bahagia tanpa Aiden nantinya? Apa ia sanggup menjalankan hidup tanpa Aiden di sisinya padahal Vana sudah terbiasa dengan Aiden yang selalu di sisinya. Pria pertama yang mengajaknya untuk pacaran dan pria pertama yang mampu membuatnya tertawa lepas dan memberikan semua kebahagian yang selama ini tidak pernah ia rasakan.


"Vana. "


"Tolong, tolong janji ke aku kalo kamu akan selalu bahagia!"


Vana mengalihkan pandangannya,Vana tidak bisa melihat wajah Aiden yang memohon seperti itu kepadanya.


"Aku belum bisa untuk janji, aku bahkan ngga tau gimana nasib aku nanti tanpa kamu. "jawab Vana menpis air matanya yang jatuh.


" Kamu akan baik-baik aja Van, aku tau kamu kuat. "


" Tolong setelah kasus ini terbongkar biarin aku pergi dengan tenang."


Aiden memeluk Vana dengan erat " Vana kamu sayang sama aku kan?" ucap Aiden.


Vana diam bahkan sampai saat ini Vana masih belum paham dengan perasaannya sendiri. Yang Vana tau hanya, ia takut kehilangan Aiden, ia ingin selalu melihat Aiden, ia ingin Aiden selalu bersamanya itu saja karna Vana merasa nyaman bila bersama Aiden.


Aiden melepas pelukannya, Aiden kembali mengacungkan jari kelingkingnya pada Vana. "Vana please promise me!!!" ucap Aiden memohon pada Vana.


Vana melihat wajah Aiden yang memohon padanya, sungguh saat ini vana tidak sanggup untuk menolak permintaan Aiden. Pikirannya menyuruh Vana untuk memenuhi keinginan Aiden,tapi di sisi lain hati Vana belum siap untuk itu.


"Vana, please! "mohon Aiden lagi.


Vana mengikat jari kelingking Aiden walau ia sendiri ragu untuk bisa menjalankan janjinya ini.


Aiden tersenyum, Aiden mencium dan memeluk Vana dengan erat," Vana I LOVE YOU. "ucap Aiden namun tidak ada jawaban dari Vana.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2