Guruku Kubawa Pulang

Guruku Kubawa Pulang
1.111.111


__ADS_3

Masih di bangku yang tadi


"Oh iya Nurr, hhhemmm besok kan kita nikah dan maaf ya jadi dadakan seperti ini, maaf aku ga bisa kasih dekorasi yang mewah buat kamu" Ucap Riyan


"Gak apa mas, Nur tidak mementingkan itu" Nur tersenyum


"Nur sangat bersyukur mas ada yang mau menikahi aku secepat ini karena aku gak punya siapa - siapa disini"


"Makasih mas aku sangat bersyukur" Nur meneteskan air mata


"Jangan begitu jodoh ga ada yang tau, siapa tahu ini sudag skenario yang Tuhan tulis yakan?" Riyan mengusap air mata Nur


Nur hanya mengangguk ntah kenapa dia terasa nyaman saat berada di dekat Riyan


"Ohh iya aku hampir lupa, mmm kamu mau mahar apa besok?" Tanya Riyan


"Mahar ya? Apa ya?" Nur tampak berfikir suatu hal yang tidak pernah terfikirkan olehnya selama ini


"Mmm terserah mas Riyan mau kasih apa ke aku, aku pasti terima dengan sepenuh hati, aku gak nuntut mas Riyan buat kasih apapun ke aku, cuman nanti kalau kita sudah sah jangan lupa tanggung jawab mas Riyan terhadap keluarga ya" Ucap Nur diakhiri dengan senyum manisnya


"Gila bener - bener beruntung aku dapet nih cewek, mana ada yang kaya gini lagi di dunia ini" Batin Riyan


"Baiklah, aku bersyukur punya kamu Nur kamu beda sama yang lain" Ucap Riyan sambil mengelus lembut tangan Nur meraihnya lalu mengecup punggung tangannya


"Iya mas ajari aku patuh kepadamu, aku akan membantumu patuh terhadap orang tuamu" Nur mengeratkan genggamannya Riyan hanya mengangguk


"Besok aku kasih kamu segini mau? Tanya Riyan sambil menyodorkan HPnya


Riyan menulis status di wa



"Hah itu apa mas kok angkanya satu satu gitu ga ada nolnya? " Nur bingung


"Ya karena aku mau kamu jadi nomor satu dalam segala hal" Riyan mulai gombal (tapi dia juga serius gais


"Apa gak kebanyakan mas?, aku ga mau membebankan kamu mas" Ujar Nur


"Ya nggaklah aku yang ngasih kok" Sahut Riyan


"Iya mas aku terima pemberian mas, trimakasih mas"


"Yaudah yuk balik keburu malam nanti kamu juga hubungi teman - teman kamu undang semuanya ya,kamu juga harus persiapan dan istirahat" Perintah Riyan sambil mengacak anak rambut Nur pelan


"Iya mas" Jawab Nur antusias


*

__ADS_1


Kediaman Rokim


"Gimana semuanya siap?" Tanya Rokim pada asistennya


"Iya mas siap, ehh kalo boleh tau siapa yang mau nikah mas?" Tanya Doni asisten Rokim


"Ada temenku" Jawab Rokim cuek


"Kalau sudah kamu datang ke alamat ini kasihkan ini keorangnya dan pastikan besok sekeluarga itu datang" Perintah Rokim lagi


"Ohh iya mas saya tau alamat ini, ini alamat kediaman orang tuanya Riyan kan?" Tanya Doni memastikan


"Iya cepat urus"


"Baik mas" Doni beranjak pergi memanggil bawahannya untuk mengantarkan undangan tersebut tapi Doni tidak tahu bahwa yang akan menikah adalah Riyan


" Don jangan suruh orang antar sendiri saja" Teriak Rokim


"Iya mas" Doni teriak balik agar kedengaran juga karena jarak mereka sudah lumayan jauh


"Kenapa sih harus aku sendiri yang antar" Doni bicara sendiri sambil melangkah menuju mobilnya


Undangan yang dibungkus map coklat itu ditaruh di kursi sebelahnya Doni fokus menyetir


*


Diruang keluarga


"Mi perasaanku kok ga enak gini kenapa ya?" Tanya Abah sambil mondar - mandir seperti setrikaan


"Abah habis melakukan kesalahan apa, sholat sana Abah tadi belum sholat isyak kan?" Umi bicara tapi matanya fokus pada TV


"Ohh iya ya" Abah langsung ambil wudhu kemudian sholat dikamarnya


"Tok - tok - tok" ( suara ketuk pintu )


"Assalamu alaikum" Doni menunggu di depan pintu dengan membawa amplop undangan tadi


"Waalaikumsalam" Teriak Umi beranjak dari sofa depan TV


"Ceklek" (pintu dibuka Umi)


"Kamu temennya Riyan ya?" Tanya Umi spontan


"Iya Mi ada yang mau saya bicarakan" Ujar Doni berharap dipersilahkan masuk


"Ohh iya masuk" Jawab Umi ketus

__ADS_1


"Duduk dulu, Abah masih sholat" Ujar Umi dan balik lagi ke sofa depan TV


"Orang tua Riyan nih aneh ya, kamu betah ya yan hidup sama mereka sikapnya sama tamu aja kayak gini" Batin Doni


Abah keluar dari kamar masih memakai baju taqwa, sarung lengkap dengan peci tapi wajahnya masih gusar


"Ada tamu didepan Bah rupanya temennya Riyan" Ujar Umi tetap fokus sama TV


"Ngapain?" Tanya Abah mengernyitkan dahinya


"Ya ga tau, dah sana temuin dulu" Umi mengibaskan tangannya


Abah berjalan ke ruang tamu


"Ada apa?" Suara Abah yang berat itu mengagetkan Doni yang sedari tadi ngelamun


"Ohh Abah" Doni beranjak dari duduknya bersalaman dengan Abah


"Ada apa kamu kemari sendiri, mana Riyan" Tanya Abah penuh selidik


Doni menyodorkan amplop


"Apa ini?" Abah bertanya tapi tidak menyentuh amplop itu sedikitpun


"Undangan Bah dari organisasi di kampus" Jawab Doni


"Undangan? lah saya bukan organisasi mahasiswa kenapa dapat undangan?" Tanya Abah yang semakin bingung


Doni selalu punya jawaban untuk meyakinkan orang


"Itu langsung dari ketua kita Bah, rupanya itu Undangan khusus untuk Abah dan keluarga" Ujar Doni dengan jurusnya mengelabuhi lawan bicaranya


"Baiklah kalau begitu, lalu ada urusan apa lagi?" Tanya Abah udah mulai males dengan lagak Doni yang menurutnya sok - sok an


"Sudah Bah, baiklah kalau begitu saya pamit" Doni berdiri dan menyalami Abah


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Gila bener nih orang tua ngeselin banget dah, untung Riyan ga niru kelakuan orangtuanya, ada tamu juga ga disuguhin apa-apa, gak dibikin minum gak pernah diajarin apa tuh orang" Doni membatin kesal


Doni kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, baru kali ini dia tidak disegani orang.


Doni bersumpah tidak akan ketemu orang tua Riyan lagi


.....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2