
Setibanya di rumah Riyan memarkir motornya di garasi lalu mengajak Nur masuk
"Yuk masuk gausah malu gitu" ajaknya
"Hmmm" Nur hanya menundukkan kepalanya
"Assalamualaikum" Riyan berteriak agak keras lalu membuka pintu, mendapati ruang tamu yang kosong
"Kamu duduk sini dulu aja ya aku mau ke belakang dulu" pinta Riyan
"I iya mas" ucap Nur masih terbata - bata ntah sekarang dia merasa takut
"Devi......"
"Lupiii.... "
"Umiiii..... " Teriak Riyan sambil melewati ruang tengah menuju dapur membuatkan minum untuk Nur
"Apasih kak teriak - teriak" ucao Devi sambil membuka kamar mandi yang dekat dengan dapur
"Tumben pagi - pagi dah mandi" Goda Riyan
Devi hanya mengerucutkan bibirnya
"Umi mana? Abah mana" tanya Riyan
"Umi ke pasar sama Abah belanja kenapa sih" Devi penasaran jarang - jarang kakaknya cari kedua orangtuanya karena tiap kali bertemu biasanya mereka debat terus
"Aku bawa tamu dek, kamu temuin dulu ya" sambil menyiapkan minum dan mengambil beberapa kue
"Eehh cewek apa cowok kak temennya Mas kan banyak?" tanya devi penasaran jarang juga kakaknya bawa temen ke rumah sini biasanya kalo bawa temen ya dirumahnya sendiri
"Cewek udah sana temuin dulu" sambil mendorong Devi
"Ihhh iya - iya" gerutu Devi kesal
"jangan - jangan kakak mau ngenalin pacarnya nih" batin Devi
"Mbak" sapa Devi
"Ee iya" jawab Nur kaget
"Devi adiknya Kak Riyan" sambil mengulurkan tangannya
"Iya Nur" menyalami tangan Devi
"Mmmm Mbak pacarnya Kak Riyan ya" tanya Devi to the point
"Ehhh mmmm gimana ya hehe" Nur bingung mau jawab apa
"Iya mbak soalnya mmm kakak gak pernah bawa cewek kesini" bisik Devi
__ADS_1
"Haaa ahhh masa sih? " tanya Nur penasaran
"Iya tapi jangan bilang sama kakak kalo aku yang bilang ya"
Nur hanya menganggukkan kepalanya dan membuang senyum
"Hmmm" Riyan berdeham sambil membawa nampan berisi minuman dan beberapa kue menaruhnya di meja dan mempersilahkan Nur untuk mencicipinya
"Silahkan" ucap Riyan bak pelayan restoran dengan senyum manisnya
"Assalamualaikum" Umi datang sementara abah masih memarkir motornya
"Ehhh ada tamu bentar ya Umi naruh belanjaan dulu" Ujar Umi lalu melangkah ke dapur
Diruang tamu masih ada Devi,Riyan dan Nur.
"Assalamualaikum" Abah masuk melihat di ruang tamu tapi tidak komentar apa - apa juga gak berniat menyalami tamunya langsung menclos ke dapur
"Ada siapa mi?" bisik abah ke umi
"Ga tau temennya Devi mungkin bah" jawab Umi ditengah sibuknya menata barang belanjaannya.
"Tapi kenapa ada Riyan jangan - jangan pacarnya" Ucap abah ada nada kesal disana
"Hmmm ga tau abah tanya aja sana nanti umi nyusul kalau ini sudah selesai yaa" ujar umi membujuk abah
Abah kembali ke ruang tamu
suasana hening seketika
"Hmmm ini Abah Nur, Kenalkan Bah ini Nur temennya Riyan" Ujar Riyan agak gugup
Nur hanya menunduk dan membuang senyumnya
"Hmmm Devi bantu umik di belakang dulu ya" Devi pamit kebelakang karena dia tau rupanya suasana kurang menyenangkan
Devi langsung ke dapur mendekati Umi
"Mi Devi aja yang beresin Umi kedepan aja ya" pinta Devi
"Iya kalo suah Devi ke atas ya temenin Kak Lupi njemur baju" ucap Umi
Sedangkan di ruang tamu
"Ohh rumahnya di mana?" tanya Abah ketus
"Hmmm di diii...." Nur bingung mau jawab apaa dia memandang Riyan seolah cari contek an jawaban
"Di kota A Bah" jawab Riyan berbohong
"Kuliah?" tanya Abah lagi seolah tidak suka dengan Nur
__ADS_1
"Iya" jawab Nur singat
Umi datang lalu Riyan mencium tangan Umi dan diikuti Nur
"Kalo ini Umi Nur" Riyan memberitahu Nur hanya mengangguk
"Ini Nur Mi temennya Riyan" Riyan kembali memperkenalkan Nur ke Umi
"Ohhh iya" jawab Umi singkat dan sepertinya tidak mau tau
Nur hanya melirik mereka dengan posisi duduk kepala menunduk takut Nur tau mereka sepertinya tidak suka dengan kehadirannya
Suasana hening
"Gini Mi, Abah" Ujar Riyan tiba - tiba
Sontak Abah dan Umi melihat ke arah Riyan yang duduk bersebelahan dengan Nur
"Hmmm Riyan kesini bawa Nur yang pertama Riyan mau memperkenalkan Nur pada Abah dan Umi yang kedua mmm Riyan mau minta restu Abah dan Umi Riyan mau menikah i Nur" Ucap Riyan tanpa ragu
"Hah? " Umi kaget
Tiba - tiba Abah berdiri hendak meninggalkan ruang tamu tapi di cegah Umi namun Abah tidak menghiraukan Umi Abah langsung kebelakang ke arah dapur dan Umi mengikutinya
"Hah sudah kuduga" Riyan menengadahkan kepalanya sambil memijat keningnya
"Apa-apa an sih Riyan itu Mi, kuliah belum selesai udah mau nikah aja mau di kasih makan apa anak orang nanti, itu perempuannya juga gak jelas siapa - siapanya dari mana bibit, bebet, bobotnya gimana juga gak jelas udah mau dinikah i aja" Abah kesal dengan Riyan
"Tenang dulu Bah tenang" Umi menyuruh Abah duduk lalu mengambilkan segelas air minum
Setelah meneguk segelas air
"Jangan - jangan itu anak hamil duluan lagi" Abah mulai geram tangannya mengepal diatas meja
"Ahh gak mungkin Bah, biar Umi aja yang kedepan ya, Abah disini saja" Pinta Umi
Umi kembali lagi kedepan tapi kalibini Umi ingin sekali bicara sama anaknya Riyan
"Riyan sini ikut Umi" Umi ajak Riyan ke kamarnya ya kamar yang dulu ditempati Riyan waktu masih sekolah
"Kamu yakin mau nikah sama dia" tanya Umi setengah bisik - bisik
"Iya Mi kalo nggak kenapa Riyan ajak dia kesini" jawab Riyan asal
"Umi ga maksa kamu mau nikah sama siapa, tapi dia gak hamil duluan kan? " tanya Umi yang bikin Riyan kaget
"Umii ya nggak lah emang aku cowok apaan" Riyan mulai emosi
"Huh syukurlah" Umi mengelus dadanya lega karena anaknya nggak ngehamilin anak orang
"Yaudah nanti kita bicarakan lagi" udah kamu ajak dia kerumahmu aja Abah masih marah
__ADS_1