
"Udah yuk mas sarapan dulu"
"Emang kamu masak?"
"Iya"
"Yaudah ayo"
"Kirain dia ga bisa masak, katanya si Luki emang cewek - cewek sekarang banyak yang ga bisa masak, syukurlah Nur bisa masak"
Nur menarik kursi untuk suaminya, lalu dia sendiri duduk berhadapan dengan Riyan. Lalu tangan indahmya dengan lincah mengambil piring untuk Riyan dan meletakkan nasi diatasnya.
"Udah cukup jangan banyak - banyak nasinya"
"Mas mau lauk apa?"
"Aku mau itu" Riyan menunjuk Tempe yang dipenyet dengan sambel diatas cobek
Nur segera mengambilkan untuk Riyan
"Gak ada krupuk?" Tanya Riya
"Hmm engga ada"
"Lain kali beli ya"
"Hmmm"
"Ehh d**ia beli pakai duit apa ya, aku kan belum kasih dia uang selain uang mahar, trus kalo dia beli pakai uang mahar ini makanan haram dong buat aku"
Nur melihat Riyan memeperhatikan makanan di depannya tapi tidak memakannya sedikitpun.
"Mas kenapa ga dinamakan?"
"Kamu tadi belanja pakai uang apa?"
"Ya uang asli mas, nanti kalo palsu bakulnya ga mau lah"
"Bukan gitu maksud aku, ini kamu pakai uang mahar bukan? "
"Ya bukan lah mas, aku belum pakai sedikitpun uang maharnya"
"Terus pakai uang apa?"
"Tabungan aku"
"Habis berapa tadi?"
"Tiga puluh ribu"
"Yaudah nanti aku ganti"
"Gausah mas"
"Gaboleh bantah suami! Udah lanjut makan!"
"Hmmm"
Usai makan Riyan langsung berangkat ke kampus. Sedangkan Nur di rumah sendirian
"Tok - tok"
"Assalamu alaikum"
"Iya Walaikumsalam" Teriak Nur dari dalam
Nur segera membuka pintu
"Novii!" Nur tidak percaya sahabatnya itu benar - benar datang
Novi spontan memeluk Nur
"Aku gak disuruh masuk nih"
"Oh ya masuk - masuk, kamu sendirian Nov"
"Ndak tadi diantar"
"Diantar siapa? Mana yang ngantar? Kok ga ada"
"Udah aku suruh pulang"
"Diantar siapa sih"
"Abang..."
"Abang? Abang siapa coba"
"Abang ojol buahahahaha" Novi tertawa lepas namun tidak Nur hanya diam saja melihat sahabatnya tertawa
__ADS_1
"Ehh Nur" Novi sadar kalau candaannya itu terlalu garing
"Hmm, Oh iya Nov mau minum apa"
"Aku mau Es"
"Ada air putih, air putih saja ya"
"Kenapa tadi nawarin" Gerutu Novi
"Hahaha" Nur ke dapur mengambilkan satu teko air dan dua gelas lalu menghidangkannya di meja tamu
"Gimana semalam?"
"Apanya?" Nur mengernyitkan dahinya
"Enak?"
"Apanya yang enak?" Nur semakin tidak mengerti
"Ahh sudah jelas, pasti enaklah yakan sampai kau lupa sama aku, biasanya juga tidur denganku"
"Ahhh itu maksudmu, aku hanya tidur seperti biasanya sama sepatu saat kita di kos"
"Ha jadi kalian belum tituw - tituw gitu?" Novia penasaran
"Tituw - tiwuw apa,kamu pikir ambulan!"
"Ishh Nur"
"Haha, belum Nov"
"Hah belum kenapa?"
"Kamu ga inget lusa aku palang merah" Novi menepuk jidatnya
"Ohh iya"
"Terus dia gimana?"
"Ya ga gimana - giamana"
"Bulan madu kapan?"
"Minggu"
"Ehh cepet ya, kemana emang?"
"Wihh aku juga pingin kali"
"Mau ikut?"
"Ga ah ntar ganggu"
"Biasa aja kali Nov kita pergi juga rame - rame sama temen mas Riyan, kalo kamu ikut kan enak aku ada yang ajakin ngobrol"
"Itu namanya bukan bulan madu Nur"
"Lahh terus apa?"
"Refreshing doang itu mah, bawa rombongan pula"
"Emang apa bedanya sama bulan madu, kan bulan madu itu pergi berlibur setelah nikah ya kan sama aja Nov"
"Aduuuh embak, bulan madu itu lebih romantis, perginya biasanya berdua aja ama pasangan"
"Ehh sok tau emang kamu pernah?"
"Ya enggak sih"
"Cih dasar"
→_→
Dikampus Riyan sedang bimbingan dengan dosen.
"Wahh ada pengantin baru, mau bimbingan?" Tanya Pak Eko selaku dosen pembimbing Riyan
"Iya Pak"
"Harusnya lebih semangat ya"
"Baik Pak, ini silahkan dikoreksi" Riyan menyerahkan beberapa lembar kertas, Pak Eko menerima dan mengoreksinya
"Ini harusnya kamu ganti judul" Pak Eko membolak - balik kertas
"Judul yang mana Pak"
"Bab 3 ini kamu ganti judul 2 A"
__ADS_1
"Kenapa begitu Pak?"
Pak Eko meletakkan kertasnya diatas meja, duduk santai dikursinya yang nyaman itu, menyandarkan kepalanya dibantalan kursi empuk
"Kamu mau ndak dalam rumah tangga kamu ada orang ke tiga?"
"Ya enggak lah Pak, baru juga kemarin nikah udah ngomongin orang ke tiga aja"
"Hehe, jadi gini Yan"
"Gimana Pak"
"2A itu emang jarang dipakai orang, kebanyakan suka pakai 3 supaya kelihatan banyak bab yang dia ambil, tapi hubungannya dengan rumah tangga itu ada"
"Apa sih Pak, aku ga ngerti" Riyan garuk - garuk kepala
"Misal suatu hari kamu bosan dengan istri kamu, apa kamu akan nambah istri lagi?"
Deg
Riyan tercengang mendengar kata Pak Eko barusan, pasalnya dia menikah tidak didasari dengan cinta, nafsu mungkin iya, tapi perasaannya tepat dan yakin waktu itu bahwa Nur adalah Ibu dari anak - anaknya kelak.
"Hallo" Pak Eko menggerakkan tangannya kedepan wajah Riyan yang tengah melamun
"Eeehh ee iya Pak"
"Iya apa kamu mau nambah istri lagi?"
"Eee bukan Pak"
"Lalu bagaimana?"
"Ga tau Pak"
"Gini Riyan, kalau kamu bosan dengan istri kamu jangan cari istri lagi, tapi bilang dengan istrimu apa yang menyebabkan kamu bosan dengan dia"
"Contohnya Pak" Riyan masih bingung dengan penjelasan Pak Eko
"Jadi misalnya istrimu berambut panjang, dan kamu menginginkan wanita beramput pendek, ya kamu jangan cari wanita berambut pendek untuk kamu jadikan istri lagi, tapi bicaralah dengan istrimu, bujuk dia untuk menuruti keinginanmu kalau kamu menginginkan rambut pendek darinya, begitu juga sebaliknya kamu harus bisa memahami juga apa yang istrimu mau, jangan sampai dia bosan, karena wanita pada dasarnya mudah tergoda"
"Ohh begitu ya" Riyan manggut - manggut
"Tapi Pak, kok bapak bisa tau, setau saya bapak belum punya istri, ehh maaf Pak"
"Ya itu sebabnya dulu saya ingin istri saya seperti si A tapi dia tidak mau"
"Terus"
"Saya kejar si A dan menikahi si A, istri saya tahu kalau saya menikah akhirnya dia mengajukan cerai, setahun kemudian si A juga meninggalkan saya karena saya tidak bisa menjadi apa yang dia mau"
"Ohh begitu"
"Tapi pesan saya, jika memang pasangan kamu tidak bisa menjadi seperti apa yang kamu inginkan ya jangan dipaksa, kamu harus bisa menerimanya apa adanya"
"Baik Pak, kalau begitu ini saya ganti 2A saja Pak"
"Hmmm"
"Terimakasih Pak, saya pamit dulu ada interviu kerja, doakan saya diterima ya Pak"
"Ya semoga berhasil"
Riyan keluar ruangan bimbingan masih mengingat perkataan Pak Eko tadi
"Riyaaaaannnnn"
Lamunannya buyar seketika saat mendengar namanya di panggil, Riyan balik badan.
"Reta"
"Kamu jahat Riyan kamu jahat"
"Jahat kenapa? Aku ga nyentuh kamu ya, ga nyolong bemda kamu"
"Kenapa kamu nikah ga undang aku?" Tanya Reta dengan nada tinggi
"Ehh sorry - sorry bukannya ga mau ngundang tapi emang itu dadakan acaranya"
"Huhhfft, Kamu tinggal dimana sekarang?"
"Kenapa?"
"Aku ingin ketemu dengan istri kamu, dan memberi sedikit hadiah pernikahan kalian"
Perasaan Riyan makin tidak enak
"Mau apa lagi nih cewek"
"Gausah, gaperlu repot - repot"
__ADS_1
"Ya kan aku pingin tau aja Yan masa ga boleh sih"
"Udah ya aku buru - buru ini mau interviu kerja" Riyan harus segera mengakhiri perbincangannya dengan Reta