
Jantung semakin berdetak kencang dan nafas pun semakin terengah-engah, tak terasa kita akan semakin dekat dengan acara yang paling ditunggu.
"Hadirin tamu undangan yang berbahagia, kini tiba saatnya melangkah pada acara yang paling ditunggu yaitu akad nikah.
Akad nikah merupakan sebuah ikrar yang luar biasa. Langit ikut bergema dan malaikat turun mendoakan sepasang insan yang mengucap ijab Kabul." Ucap Mc
"Hadirin tamu undangan yang berbahagia, agar proses akad nikah bisa berjalan khidmat, kami menghimbau agar semuanya bisa mengikuti dengan khusyu, mengkondisikan alat komunikasnya dalam kondisi silent" Ucap MC lagi
Disisi lain Abah meneteskan air matanya
"Abah ikhlas Bah, mungkin ini jalan kebahagiaan Riyan Bah" Umipun juga meneteskan air matanya
Abah hanya mengangguk
"Tarik nafas Bah hembuskan perlahan" Umi mencoba nenangkan Abah
“Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Nur Lailia alal mahri almablagh alnaqdiu milyuun wa mi'atun wa ahada 'asyaro alfin wa mi'atun wa ahada 'asyaro rubiyyatan hallan” Ucap Rokim sebagai wali hakim
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq.” Ucap Riyan mantap
"SAAAAHHHHH" Ucap hadirin yang menjadi saksi
Dan dilanjutkan dengan doa
Riyan meneteskan air mata begitu juga dengan Nur
"Lalu ketika ijab sudah terucap, kami ajak Anda untuk tidak bertepuk tangan melainkan kita sama-sama berdoa seraya mengucapkan hamdallah dan doa pernikahan, “Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair”." Ucap
Riyan memasang cincin,
lalu Nur mencium tangan Riyan, Riyan mengecup kening Nur.
"Kamu cantik sekali istriku" Bisik Riyan
Nur hanya tersenyum
Lalu dilanjutkan dengan penyerahan mahar
__ADS_1
"Ibu - Ayah maaf aku sudah menikah sekarang, Tuhan izinkan aku bahagia" batin Nur
Nur menerima buket mahar yang unik itu
Dilanjut dengan acara foto - foto
Selesai acara, Abah menghampiri Riyan
"Plaaaakkk" Abah menampar keras pipi Riyan
"Abaaaahhhh" Teriak Umi
Umi menangis melihat Abah pergi.
Umi menghampiri Riyan dan memeluknya
"Maaf Umi gak bisa lakuin apa - apa" Ujar Umi disela tangisnya
"Umi datang aja aku udah seneng kok" Ucap Riyan membalas pelukan Umi
"Umi kejar Abah tenangin Abah mi"
"Tolong jaga Riyan dengan baik" bisik Umi
Nur hanya mengangguk
"Kakaaaaaakkkkkk" Devi spontan memeluk kak Riyan
"Hiks hiks hiks" Devi menangis
"Kenapa?" Tangan Riyan hendak melepas pelukan Devi
"Gak papa" Devi memendam sesuatu
"Jangan diumpat dalam hati, katakan selagi kamu bisa ketemu aku" Ucap Riyan tegas.
"Selamat ya kak atas pernikahannya" Ucap Devi sambil mengusap air matanya
"Aku tahu dek bukan itu yang ingin kamu katakan, mulutmu bisa bohong tapi tidak dengan tatapan matamu" Ujar Riyan sembari menatap adiknya
__ADS_1
"Hik hiks kak Riyan emang paling ngerti" Devi nangis lagi
"Apa nanti jika aku menikah akan seperti ini" Tanya Devi
Deg
Ucapan Devi seperti peluru yang menembus jantung Riyan
"Jangan bilang begitu, Aku akan berusaha agar kedua adikku bernasib baik di hari pernikahanannya" Ucap Riyan tegas
"Hmmm, aku percaya kakak" Ujar Devi
"Kakak" Lupi memeluk Riyan
"Aku gak tau mau bilang apa selain selamat, maaf dan terimakasih" masih memeluk Riyan
"Belajar yang rajin ya" Ucap Riyan
"Kakak ipar" Devi mulai iseng
"Hmmm" jawab Nur datar
"Persiapan nanti malam ya hihi" Bisik Devi dengan senyum menyeringai
Deg
Lagi - lagi ucapan Devi menyerang jantung, Nur paham arah tujuan Devi ngomongin apa
"Kakak ipar lagi lampu merah" bisik Nur ke telinga Devi
"Yahh kasian deh kakak aku kentang di malam pertama hihi" Gumam Devi
"HiHi" Nur juga tertawa
Riyan curiga apa yang mereka berdua bicarakan
"Ngomongin apa sih?" Riyan berbisik ditelinga Nur
"Rahasia perempuan" jawab Nur datar
"Cihh, awas ya" sahut Riyan
__ADS_1
\(○^ω^○)/
Sahh kan gais ya walaupun Abah rada miring gitu hihi