
Keesokan harinya
Riyan berniat mengajak Nur kerumahnya mengenalkannya kepada keluarga Riya kedua orangtua dan dua adik perempuannya
Nur sudah bersiap - siap memakai pakaian yang sopan dan rapi tidak lupa memkai sedikit make up natural
"Mau kemana Nur cantik amat pagi - pagi tumben, kayaknya kemarin kau pulang malam deh, kesambet apa sih kau sampe kyak gini" Novi yang baru bangun kaget melihat penampilan Nur di kosnya
"Ituu aku mau cerita sama kamu semalam tapi kamunya udah molor duluan yaudah" jawab Nur nyengir
"Iya sekarang aja ceritanya" Novi penasaran
"Semalam aku di jemput sama mas Riyan pulangnya, trus akuu.. " ucap Nur terhenti ketika Novi langsung menyahut
"Kau gak kenapa - napa kan Nur kau gak diapa - apain kan aku takun kau diguna - guna Nur kau kan juga gak tau apa - apa tentang cowok, apalagi jaman sekarang banyak orang main santet demi memenuhi keinginannya" Dalih Novi
"Kamu mimpi apa sih Nov baru bangun juga udah ceramah gini, aku semalam dilamar sama Riyan Nov jadi hari ini aku mau diajak ketemu sama keluarganya aku deg deg an gini malah kamu ceramahin" Nur berdecak kesal
"Haaaaa Kau dilamar? S - serius Nur? " Novi ga percaya
"Iya semalam aku dilamar, tuh pulangnya aku dikasih coklat juga aku kasih kamu satu aku kan ga pelit orangnya" Nur mengambil coklat lalu memberikannya pada Novi
"Nih" menyodorkan satu bungkus coklat
"Ihhh romantis juga ya si Riyan, cowok aku aja nih ga pernah ngasih aku coklat, makasih ya Nur" ujar Novi terharu
"Iya sama - sama" sambil mengelus lengan Novi yang mulai sedih
"Aku doakan lancar Nur semoga Riyan memang bener-bener jodohmu, Ya Tuhan lindungilah temanku yang satu ini" Novi menengadahkan kepalanya
"Amin" Jawab Nur penuh harap
Nur sebenernya juga masih ragu apakah dia akan menikah dengan Riyan tapi dia tidak punya pilihan dulu dia berjanji bahwa jika ada seseorang yang mengajak dia menikah dengan sepenuh hati dia akan terima mengingat dia tak punya keluarga satu pun di kota inj dia sangat bersyukur dalam waktu hanya beberapa bulan di sini sudah ada yang mau meminangnya, dan Nur sangat ikhlas merelakan hidupnya untuk suaminya dan keluarga kelak
Tiba - tiba ponsel jadul milik Nur berbunyi
"Kamu keluar ya aku udah di gang ini" ujar Riyan di sebrang telepon
__ADS_1
"Iya mas" langsung mematikan teleponnya dan berpamitan pada Novi yang di kamar mandi
Nur mengetuk pintu kamar mandi "Nov aku berangkat Doain ya"
Novi yang sedang menggosok gigipun menjawab sekenanya "Uo - ohhh, opuangnya ai ai"
"Iya" Jawab Nur singat sebenernya juga ga ngerti tadi Novi ngomong apa an
Nur berkaca membenarkan tampilannya
"Bissmilah Ya Allah lancarkanlah niat baik kami"
Kemudian berjalan keluar gang menghampiri Riyan ada rasa gelisah, khawatir, cemas, dan bahagia di hatinya tapi Dia tidak tau mana yang lebih dominan sekarang jantungnya juga berdegub kencang
Nur pernah berjanji pada dirinya sendiri jika nanti ada laki - laki yang tulus mau meminangnya dia akan terima apa adanya mengingat dia tak punya keluarga satu pun di kota ini. Dan dia berjanji akan sepenuh hati menjalankan tugasnya sebagai istri dan patuh terhadap suaminya dan sekarang baru beberapa bulan di kota ini sudah ada laki - laki yang melamarnya
"Semoga nasibku lebih baik" Doanya dalam hati
Sampai di ujung gang Nur hanya tersenyum manis Riyan memandanginya dari atas sampai bawah
"Kamu cantik sekali " Ucap Riyan
"Udah sarapan belum?" tanya Riyan
"Eee b belum mas" jawab Nur terbata - bata Nur tidak tahu kenapa segugup ini berhadapan dengan laki - laki biasanya juga santai aja ya mungkin karena ini calon suaminya
"Nih pake dulu" ujar Riyan sambil menyodorkan helmnya
"Hmmm" Nur memakai helmnya
"Kita makan nasi pecel aja ya" ajak Riyan
"Heem" jawab Nur singkat karena dia makin gugup
Setelah siap mereka meluncur ke warung pecel yang searah dengan rumah Riyan
Di sela - sela makan
__ADS_1
"Hmm Nur ee nanti jangan kaget ya kalo ketemu sama Abah dan Umi, ini pertama kalinya aku bawa perempuan ke rumah, di sana nanti ada dua adik perempuanku, dan misalnya mereka ngomong yang macem - macem tolong jangan diambil hati ya sebab mereka suka ceplas ceplos kalo ngomong gak di pikir dulu akibatnya kya gimana" ujar Riyan
"Hmmm iya mas mmm aku mau taanyaa mmm" ucap Nur terputus
Tiba - tiba Riyan mengusap bibirnya yang mungil itu
"Duhh manis banget sih nih bibir pingin aku ***** abis aja" batin Riyan
"Mmm maaf Nur belepotan bumbu pecel " Riyan menarik tangannya
"Ohh mmn iya mas makasih" ujar Nur sambil mengambil tisu dan mebersihkan sisa bumbu pecel di bibirnya dengan salah tingkah
"Ohhb iya kamu tadi mau tanya apa" Riyan kembali mencairkan suasana
"Mmm apa ya aku lupa" Nur makin salah tingkah
"Yaudah kamu makan dulu habisin ya" Ucap Riyan sambil mengelus punggung tangan Nur lembut
Nur makin salah tingkah tapi dia pingin tanya ini sebelum berangkat
"Mmm mass... " Ucapnya Lirih
"Hmmm iya kenapa" tanya Riyan
"Kenapa mas memilih aku" tanya Nur gugup dan menundukkan kepalanya
"Gak tau aku dari awal lihat kamu kayak gimana ya ada sesuatu gitu yang intinya kamu itu ibu dari anak-anakku gitu ya aku yakin aja sih walaupun kita baru kenal juga" Ujar Riyan jujur
Wajah Nur bersemu kemerahan
"Hmmm aku malu mas kamu ngomong gitu" wajahnya makin merah seperti kepiting rebus
"Gila ini anak kalo salting bikin si bapaknya Tole berdiri aja" batin Riyan
"Iya aku juga baru kali ini ngomong gini sama perempuan" Riyan mengalihkan pembicaraan
Selesai makan Riyan ke kasir dan langsung meluncur ke rumah orang tua Riyan, sebenernya Riyan juga punya rumah dia membelinya satu tahun yang lalu dengan tabungannya mulai dari smp dan dibantu kedua orangtuanya karena bagi Riyan yang penting punya rumah dulu itu investasi yang terpenting percuma juga punya mobil kalo ga punya rumah iya kan
__ADS_1
jangan lupa kasih komen ya kak pemula nih sarannya yang mendukung ya