Guruku Kubawa Pulang

Guruku Kubawa Pulang
Surat Undangan


__ADS_3

*Di kediaman orangtua Riyan


Setelah menutup pintu Abah kembali duduk di ruang tamu, mengambil amplop coklat yang mirip dengan amplop orang melamar kerja itu tapi lebih kecil, menarik isinya ada 4 undangan semuanya warnanya sama ditariknya satu, Abah membukanya perlahan perasaannya makin tidak karuan.


Dibacanya isi undangan tersebut


Bagian Cover hanya tertulis


Kepada Yang Terhormat :


Bapak Mohammad Zainur Spd


Dan tidak ada embel - embel apapun


Dibukanya halaman pertama


*Ketika dua hati yang berbeda menyatu, Maka Allah-lah yang menyatukannya.


Tatkala sebuah janji terucap, maka Allah-lah yang menjadi saksi diantara keduanya.


Maha suci Allah yang telah menjadikan segala sesuatu lebih indah dan sempurna.


Ya Allah, dengan rahmat dan Ridho-mu, perkenankanlah cinta dan kasih sayang mereka berdua :


Riyan Ardiansa


Putra pertama dari Bpk. Mohammad Zainur S. pd & Ibu Sri Hayani


Dengan


Nur Lailia


Putri pertama dari Bpk. Ahmad Ibrahim & Ibu Maulida


Akad nikah yang insyaallah akan diselenggarakan pada:


Hari : Besok


Waktu: 04.00 WIB (ba'da shubuh) – selesai


Tempat: Masjid Perumahan Asri Permai Jl. Bayangkara No. 5 Kota X


NB : Dimohon datang tepat waktu apalagi anda selaku keluarga maupun kerabatnya karena ini moment yang sangat penting dan sakral meskipun anda tidak menyukai atau menyetujuinya niatkanlah hati anda untuk mendukung orang beribadah karena pernikahan adalah salah satu bentuk dari ibadah.


Halaman kedua


*Bismillahirrrahmanirrahim


Assalamuallaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Maha Suci Allah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan.

__ADS_1


Kami bermaksud menyelenggarakan acara Walimatul ‘ursy yang InsyaAllah akan diselenggarakan pada:


Hari: Besok


Pukul: 04.00 (Ba'da Shubuh) - selesai


Tempat: Perumahan Asri permai Jl. Bayangkara No.5 Kota X


NB : Diharap datang tepat waktu*


Abah menutup Undangan itu dia tak menyelesaikan membacanya, menyenderkan punggungnya pada sofa menengadahkan kepalanya mengurut pelipisnya sebentar


"Haaaaaahhhh anak kurang ajar" Teriak Abah keras


Umi yang mendengar suaminya berteriak keras terjungkat kaget mengambil remot dan mematikan saluran TV, berjalan kedepan menyusul suaminya


"Ada apa Bah kok teriak - teriak?" Tanya Umi di ngan nada ketakutan


Umi melihat map dan undangan berserakan di meja.


Abah tak menjawab, kembali memijat kepalanya yang mendadak pusing.


Umi mengambil satu undangan itu dan membacacanya.


Umi kaget dan meengelus dadanya


"Ya Allah anakku kenapa kamu berbuat senekat ini" Batin Umi


Umi mengambil semua undangan tersebut beserta mapnya, Umi meninggalkan suaminya sendiri dia tau kalau seperti ini suaminya tidak mau diganggu.


Umi beranjak pergi mengetok kamar Devi dan Lupi yang jadi satu.


"Dog - Dog" (suara pintu diketuk agak keras)


"Ceklet cittt" (suara pintu dibuka dan berderit)


"Loh Umi kenapa" Lupi kaget melihat Umi menangis.


Umu nyelonong masuk ke kamar putri - putrinya.


Umi duduk diranjang dan meletakkan berkas undangan tadi di sebelahnya.


"Ini apa Um?" Tanya Devi dengan mengernyitkan dahinya, mengambil satu dan membacanya disitu tertera namanya


Devi membaca undangan pernikahan kakaknya itu dan menunjukkan ekspresi kaget dan senang dan bingung juga kenapa Umi menangis


Sementara Lupi yang belum tahu kejelasannya masih berusaha menenangkan Umi dengan memeluk bahu Umi dan mengelusnya


"Lahh bagus dong Mi, trus kenapa Umi malah nangis?" Ceplos Devi


"Apaan sih kamu ini dek emangnya ada apa sih tenangin Umi dulu nih" Sahut Lupi

__ADS_1


"Tuhhh baca punyamu kak?" Devi menyodorkan undangan milik Lupi, Lupipun membacanya


Sesaat kemuadian


"Ohhh jadi ini, Abah marah ya Mi?" Tanya Lupi pelan


Umi hamya mengangguk dan mengusap air mata yang membasahi pipinya


"Lalu Umi harus bagaimana?" Tanya Umi dengan nada yang masih parau


"Yaudah Mi besok kita berangkat aja" Jawab Devi enteng


"Lah terus Abah gimana dek?" Sahut Lupi


"Ya diajak lah"


Umi masih memikirkan cara agar suaminya besok bersedia hadir dan terlebih bisa merestui anaknya, bagi Umi yang terpenting anaknya bahagia dengan pilihan hatinya


"Ya Allah lunaklanlah hati suamiku, restui hubungan anakku, beri dia pentunjuk dan jalan yang benar, semoga ini memang yang terbaik untuknya" Doa Umi dalam hati


Sementara Lupi dan Devi masih ribut mengenai acara besok


"Udahlah kak mau bagaimanapun kak Riyan itu besok nikah, aku mau nyiapin baju buat besok kalau kakak gak mau ikut biar aku berangkat sendiri, aku gak mau melewatkan moment penting dalam hidup kak Riyan besok, kesempatan gak datang satu kali, kalau kalian mikir untuk diri kalian sendiri ya terserah aku gak mau dikatai adik yang egois aku harus nemenin kak Riyan" Dalih Devi seraya menuju lemari memilih gaun.


Devi kembali lagi melihat undangan


"Ini gak ada dress codenya apa?" gumam Devi


"Ahh lebuh baik tanya kak Riyan aja"


Devi mengambil hpnya menghubungi Riyan


Nampak Lupi dan Umi masih melongo melihat tingkah Devi yang mendadak begitu tegas


"Halo kak" Ucap girang Devi saat Riyan mengangkat telponnya


"Iya apa" Jawab Riyan datar


"Besok ada dress codenya gak sih?" Tanya Devi to the point


"Bebas asal ga norak" Ucap Riyan menekankan kata norak


"Ok siap boss gak sabar nunggu besok" Devi memutus panggilannya


"Umi gimana nihh?" Tanya Lupi yang ingin segera memilih gaun juga seperti yang dilakukan Devi.


Biasanya kalau hendak kemana - mana Lupi dan Devi selalu memilih gaun bareng


"Yaudah kalian pilih baju dulu ya Umi mau turun nemuin Abah segera tidur jangan Lupa izin ke sekolah kalian hubungi walikelas" Umi mengingatkan


∑( ̄□ ̄;)

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2