HARAMKAH?

HARAMKAH?
Perjodohan


__ADS_3

Aiyra menghampiri Rere dan Reno yang sedang tertidur.


"Sayang ini Mommy" bisik Aiyra di telinga Rere.


Bidadari kecil itu perlahan bergerak dan membuka matanya, saat dia melihat Aiyra dia langsung memeluk Aiyra dan menangis histeris sama seperti pertama mereka bertemu. cup cup cup Aiyra berusaha menenangkan gadis kecil itu hingga tenang.


"Mommy..." suara Reno parau, dia terbangun karena suara tangisan Aiyra.


"Hai sayang" Aiyra memeluk Reno lembut


"Ok, sekarang kalian sudah bertemu Mommy bukan? come on Rere harus sembuh ya" ucap Ilham semangat.


"Rere udah sembuh kok Daddy,nih udah gak panas lagi" sambil menyodorkan kepalanya.


"Ck ck ck apa Mommy itu obat ajaibnya Rere ya bisa langsung sembuh seketika" goda Ilham. Aiyra hanya tersenyum melihat mereka.


" sekarang kita jalan jalan lalu makan,siapa yang mau ikut Mommy jalan jalan?"


"aku"


"aku"


" baiklah kalau begitu ayo kita pergi,tapi Rere harus janji gak boleh minta es krim sama snack ya,janji?"


" Rere janji Mommy"


"baiklah, ayo kita berangkat"


Rere yang masih agak demam di gendong Aiyra, sementara Reno berjalan sendiri berpegang tangan bersama Ilham.


****


Selesai berjalan jalan dan makan, mereka kembali ke hotel,,, Aiyra menina bobo kan Rere terlebih dahulu,hingga dia benar benar terlelap.


"apa kau akan pergi?" tanya Ilham


"hmm?"


"kenapa tidak tidur disini,biar aku tidur di kamar yang lain.


"Aku mau mas, tapi Ayahku sekarang sedang sakit,kemarin Ayahku masuk ICU kena serangan jantung." jelas Aiyra.


"Maaf, aku tidak tau" Ilham menyesal.


"Tidak apa mas, sekarang aku harus kembali ke RS, Mamaku sendirian disana, aku takut dia belum makan"


"baiklah, hati-hati di jalan, maaf aku tidak bisa mengantar"


"it's ok, lagi pula aku berada di kotaku sendiri jadi tidak perlu cemas,,, aku pulang ya mas"


"bye"


Setelah Aiyra berlalu, Ilham menutup pintu dan menemani anak-anak nya tidur.

__ADS_1


****


" Ra, kenapa lama?"


"Maaf ma, tadi Rara ada temen dari luar kota,kasian dia ada keperluan disini tapi tidak tau tempatnya"


"Ra..." Ayah memanggil.


"hai..." Mata Rara berkaca kaca seraya menghampiri Ayahnya.


"shhhhttttt, anak Ayah tidak boleh cengeng"


"Ayah... Rara kangen" Tangis Rara pecah di pelukan Ayahnya.


"Dokter Aiyra terlihat jelek kalau menangis"


"biarin, Rara sebel sama Ayah, kenapa Ayah tidak bisa jaga diri kenapa bisa kena serangan jantung lagi" rengek Rara manja. masih dalam pelukan sang Ayah.


" Ra, sini duduk" Mama memberikan kursi.


Ayah dan Mama Rara saling menatap, Aiyra yang melihatnya merasa heran dan penasaran.


"Ayah sama Mama apaan sih pandang pandangan gituh, Rara kan jadi iri" Aiyra mencoba bercanda.


"Ra, Rara masih ingat gak sama Pak Hartono?"


Aiyra mencoba mengingat ngingat nama yang familiar itu.


Ayah menghela nafas berat.


"Ra, selama ini Ayah tidak pernah minta apapun kan? bahkan untuk melarang Rara pergi ke kota S saja Ayah tidak memintanya meski Ayah berat melepas mu" dengan perlahan Ayah berbicara.


"Ayah dan pak Hartono berniat dari untuk menjodohkan kamu dengan Bram, Bram udah setuju dari dulu" Ayah berhenti karena sepertinya dia mulai merasa nafasnya berat.


"kami baru memberitahukan ini padamu sekarang karena Bram yang meminta, dia ingin kamu lulus wisuda dulu waktu itu,dan Bram juga ingin pernikahan nya di langsung kan dalam waktu dekat" lanjut Mama.


Aiyra terdiam membeku. Tanpa sadar air matanya jatuh, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Ilham dan anak anaknya. Rere dan Reno bagaimana? mereka masih terlalu kecil untuk merasakan kehilangan sesosok Mommy yang baru mereka rasakan. Aiyra yang sudah begitu dewasa pun begitu ketakutan kehilangan Ayahnya saat mengetahui Ayahnya masuk RS karena Serang jantung.


"Lusa keluarga Pak. Hartono akan datang ke rumah untuk melamar kamu" tambah Mama lagi.


Kepala Aiyra terasa begitu berat mendengar perkataan Mama yang terahir.


"sayang, kenapa menangis?" tanya Ayah.


Aiyra menatap Ayahnya yang masih terbaring lemah, apakah sekarang waktu yang tepat untuk menceritakan tentang Ilham? Apa Ayah akan menyetujui nya untuk bersama Ilham yang sudah memiliki dua anak?. Pikiran Aiyra terus berkecamuk.


"Ayah, kenapa begitu cepat? Apa Rara tidak memiliki kesempatan untuk berpikir sebentar?"


" Nak, Ayah tidak tau akan bertahan berapa lama lagi, Ayah tidak ingin saat Ayah pergi kamu belum ada yang menjaga, Ayah ingin ada yang menggantikan Ayah kelak"


"Ayah...." Aiyra berhambur memeluk ayahnya. Tangis Aiyra pecah sejadi jadinya. Bukan, bukan hanya karena sedih mendengar perkataan Ayahnya, dia sedih karena hatinya sendiri.


Dengan segala kekuatan yang masih dimilikinya, Aiyra mengirimkan pesan untuk Ilham.

__ADS_1


Mas,dua hari kedepan aku tidak menemui mu dan malaikat kecil kita, jangan pulang duluan ya ke kota S, kita pulang bareng.


Aiyra mematikan ponselnya, selama dua hari kedepan dia tidak ingin berbohong saat Ilham menanyakan sesuatu padanya.


****


Aiyra sudah siap dengan baju kebaya peach nya yang cantik bersiap menyambut tamu yang sudah tiba.


Acaranya begitu khidmat, di tambah saat Aiyra memberikan sambutan yang isinya hanya untuk kedua orangtuanya.


"Ayah, Mama, Jika ini adalah sebuah pengorbanan untukku bisa membuktikan baktiku pada kalian, maka Rara siap mengorbankan apapun di dunia ini, terimakasih telah merawat dan menjaga Rara selama ini, maaf Rara belum bisa memberikan yang terbaik, Love U Mam Dad." Rara menangis di pelukan kedua orangtuanya.


"Ilham" gumam Aiyra dalam hati.


Acara terakhir yaitu tukar cincin. Aiyra dan Bram maju ke depan di antara para tamu. Aiyra tidak memungkiri kharisma yang di miliki Bram. Rahang yang tegas, mata yang bersinar, Alis yang tebal dengan bulu mata yang lentik serta badan nya yang selalu harum, membuat siapa saja tertarik untuk menjadi pasangan nya,di tambah dengan jabatan yang dia miliki sebagi CEO dari perusahaan terkenal di negara ini. Tapi tidak, hati Aiyra sudah milik ilham dan anak-anaknya.


Bram sedari awal masuk ke kediaman keluarga Aiyra, dia melihat dengan jelas kalau Aiyra tidak bahagia, ada guratan kesedihan di wajahnya, air matanya yang sesekali menetes jelas bukan karena sedih akan orang tuanya.


Setelah acara selesai,para tamu yang hadir dipersilahkan untuk menyantap makanan yang telah di sediakan.


" hai...." sapa Bram pada Aiyra sedang termenung di roof top.


"ehh, kak Bram kok gak makan?"


"bagaimana kak Bram bisa makan kalau calon istri kak Bram bersedih"


Aiyra sedikit merasa kaget sekaligus tidak enak mengetahui kalau Bram tau bahwa dirinya tidak bahagia.


"cerita saja Aya, apa yang sedang kamu pikirkan"


"gak ada apa apa kok Kak,beneran"


"apa kamu sudah memiliki kekasih?"


pertanyaan Bram membuat Aiyra kaget dan spontan menoleh ke arah Bram dengan mata yang membesar.


"beruntung nya dia memiliki hati mu Aya."


" tapi, Aya janji Kak tidak akan berhubungan dengannya lagi, Aya akan menghargai pertunangan kita"


"selesaikan dulu hubungan kalian dengan baik, tidak perlu terburu-buru santai saja, Kak Bram juga tidak ingin kamu datang pada kehidupan Kakak dengan penuh luka"


"Kak Bram..."


"Kakak mencintai mu sejak lama, hanya saja Kakak tidak ingin mengganggu kuliah kamu, Kak Bram egois ya Aya menyetujui perjodohan ini tanpa bertanya terlebih dahulu padamu, Kakak juga egois meminta ini dipercepat"


Bram duduk di samping Aiyra dengan sedikit membuka kakinya, sikut nya dia letakkan di atas kedua lutunya. jemarinya mengepal erat, kepalanya tertunduk dengan perasaan antara marah dan sedih.


"Kak Bram, Aya...."


"pertunangan ini biarlah berlanjut, Kakak tidak akan menikahi mu dalam waktu yang dekat, bicaralah saat kamu siap, maka Kak Bram kan segera manyuntingmu."


Bram berdiri dengan helaan nafas yang panjang dan berat, dia pergi meninggalkan Aiyra yang dalam keadaan terdiam.

__ADS_1


__ADS_2