
"Ra, Mama senang sekali melihat kamu tidak mendimkan Bram lagi, Mama perhatikan sudah beberapa bulan ini kamu memperlakukan Bram dengan selayaknya"
"Rara sedang berusaha Ma"
"Mama doakan kalian selalu bahagia ya"
"makasih Mama"
"itu sendoknya awas ketinggalan"
"eh, iya. hampir saja lupa hihihi"
"Buahnya udah di siapin juga belum?"
"udah Ma, pokoknya makan siang buat Kak Bram sudah komplit semua" ucap Aiyra seraya membulatkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"ya udah ya Ma, nanti Kak Bram kelaparan lagi kalau kita masih saja ngobrol"
"ya udah gih pergi, hati hati ya di jalan, kamu nyetir sendiri apa bawa supir?"
"Rara sama pak Memen Ma, pinjem supir Mama sebentar ya" teriak Aiyra dari luar. Mama hanya menggeleng kan kepala dan tersenyum bahagia.
Hampir setiap hari Aiyra membawakan makan siang untuk suaminya, dia berharap dengan dia melakukan ini bisa menimbulkan benih-benih cinta dalam hatinya untuk suaminya itu, Aiyra berusaha bersikap manja dan terkadang memberanikan diri untuk sedikit 'nakal' pada Bram dengan memeluk atau mencium Bram. Mungkin rasa cinta itu belum ada, tapi setidaknya bisa mengalihkan pikiran Aiyra dari Ilham.
Sesampainya di kantor Bram, Aiyra disambut oleh security dan para pegawai disana. Aiyra selalu tersenyum ramah pada mereka.
Tok tok tok
Aiyra mengetuk pintu ruang kerja Bram.
"Masuk..."
Namun Aiyra tidak segera masuk, dia hanya kembali mengetuk pintunya, meski Bram menyuruhnya masuk lagi lagi Aiyra hanya mengetuk pintu ruangan Bram. Hingga Bram berdiri dan membukakan pintunya sendiri.
Bram yang semula kesal, seketika merubah raut wajahnya dengan wajah bahagia saat melihat Aiyra lah yang ada di depan pintu.
"marah ya..." ledek Aiyra di dalam pelukan Bram.
" Ah ya ampun, sejak kapan istriku ini jadi orang yang jahil" canda Bram sambil mencubit hidung Aiyra.
"Kakak bisa marah juga ternyata, tadi Aya lihat muka Kakak, sangat menyeramkan" ucap Aiyra sambil menggerakkan bahunya seakan akan merinding ketakutan, dia melepas pelukan suaminya dan berjalan menuju sofa. Aiyra membuka bekal makan siang yang ia bawa untuk Bram.
"tapi tidak padamu" ucap Bram
"kalau Kak Bram memarahi Aya, mungkin Aya akan masuk ICU saat itu juga"
"dan itu tidak akan pernah Kakak lakukan" tegas Bram.
"ya sudah sini Aya suapin ya, makan nya"
"ehmm kalau mau di suapin boleh gak Kakak sambil kerja, ada beberapa pekerjaan yang harus selesai hari ini juga"
"oh baiklah, Kakak bekerjalah Aya yang akan nyuapin Kakak makan"
Bram berdiri dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya, dia membuka kembali laptop yang tadi dia tutup, dan mulai menyelesaikan pekerjaan nya satu satu.
Dengan telaten Aiyra menyuapi suaminya yang fokus ke layar laptop, sesekali Aiyra mengelap noda makanan yang ada di ujung bibir suaminya dengan jarinya sendiri.
__ADS_1
Aiyra menyuapi suaminya dan menatap wajah suaminya lekat, dia melihat bagian bagian yang ada di wajah suaminya, dari rambutnya, matanya, hidungnya, dan bibirnya yang bergerak gerak karena sedang mengunyah makanan.
"Kak Bram, Aya akan berusaha mencintai Kakak, dan mungkin rasa itu sebentar lagi akan hadir" bisik Aiyra dalm hati.
"Aaaa ...." ucap Bram membuyarkan lamunan Aiyra.
"Semua orang tau Kakak itu ganteng, jdi jangan terkesima seperti itu"
"ihh apaan sih Kakak"
"kerjaan kakak hampir selesai, setelah ini Kakak ada meeting lalu pulang, mau nunggu apa mau pulang bareng?"
"Aya nunggu Kakak deh, lagi pula pak Memen udah pulang dari tadi"
"oh baiklah, lima menit lagi Kakak ke ruang meeting, tidak akan lama kok"
"iya Kak gak apa-apa kok, Aiyra bisa bermain game sambil nunggu Kak Bram selesai kerja"
tok tok tok
"pak meeting nya sudah bisa di mulai"
"baik, saya segera kesana"
Bram berdiri menghampiri Aiyra, dia memeluk Aiyra erat.
"tunggu sebentar,tak akan lama"
"hemmm" gumam Aiyra.
Aiyra duduk di kursi Bram, di membuka ponselnya dan mulai bermain game online favoritnya. Tetiba dia teringat dengan situasi yang sama saat itu, dia teringat saat bermain game karena menunggu Ilham bekerja.
Sejenak Aiyra terdiam dan mengingat kembali wajah Ilham, tapi segera Aiyra tepis jauh jauh, Aiyra menggelengkan kepala kuat, dia memukul mukul pelan wajahnya.
"tidak...tidak... Aiyra, stop! sekarang hanya ada Bram,, Bram dan selama nya Bram" ucap Aiyra. Namun ingatan Aiyra tentang Ilham tidak juga pergi. Aiyra gelisah di buatnya, dia berjalan mondar-mandir sambil mengigit kukunya. Aiyra menggosok gosok dahinya dengan kuat berharap Ilham pergi dari kepalanya.
Aiyra menyalakan ponsel dan menelpon Bram.
"Kak, kepalaku sakit"
Tidak butuh waktu lama Bram pun membuka pintu dengan wajah yang cemas, dia menghampiri Aiyra yang sedang berdiri di depan jendela dan menatap keluar.
" Aya..."
Aiyra membalikkan badan dan segera memeluk erat suaminya. Bram yang sedikit heran membalas pelukan istrinya, tangan Bram membelai rambut Aiyra lembut.
" Kakak, ayo kita honeymoon,kita pergi ke luar negeri atau kemanapun itu yang penting jauh dari keramaian dan hanya ada kita saja, kita berdua"
Bram tertegun mendengar ucapan istrinya itu.
"ayo kita pergi" ucap Aiyra lagi sambil memeluk Bram dengan begitu erat.
"baiklah, ayo kita pergi".
***
Sesuai permintaan Aiyra, akhirnya mereka pergi ke suatu pulau, pulau dengan pasir putih yang membentang cantik, air laut yang biru transparan memperlihatkan kehidupan di bawahnya.
__ADS_1
Mereka menginap di sebuah resort yang berada di atas laut, hanya ada 10 kamar disana, dan hanya orang-orang khusus yang bisa memesan kamar itu, karena biaya menginap disana setara satu harga sebuah mobil per malamnya.
Aiyra tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Bram, dia takut saat dia terpisah sebentar saja dari Bram, bayangan ilham akan muncul kembali.
"apa kamu suka?"
Tanya Bram saat memasuki kamarnya, sementara itu Aiyra masih sibuk melihat lihat sekeliling kamarnya. Ada sebuah ranjang berukuran besar, dengan taburan bunga mawar di atasnya, ranjangnya terbuat dari kayu dengan ukiran tehnik daerah asal dimana mereka berada saat ini, kelambu kelambu putih menjuntai Bergerak lembut kesana kemari. persis di depan ranjang ada pintu besar dari kaca menuju balkon yang langsung menghadap ke laut, di balkon ada sepasang kursi dan meja, ada juga ayunan disana. tersedia juga tangga yang turun menuju laut, disana ada sebuah kapal Dayun yang terikat pada tiang kamar. Aiyra menghirup udara laut yang hangat. setelah dia puas melihat keindahan di resort itu, dia kembali masuk ke dalam kamar, dia melihat Bram sedang mencuci tangan di wastafel.
Aiyra memeluk tubuh suaminya dari belakang. Kepala Bram menoleh sedikit.
"apa kamu suka resort nya"
"hemm" sambil menganggukkan kepala. selesai cuci tangan, Bram membalikan badannya dan memeluk tubuh istrinya.
"apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Makan" ucap Aiyra manja
"Baiklah, ayo kita pesan makan" Aiyra melepaskan pelukan suaminya, dan berjalan menuju meja makan yang tersedia disana. sementara itu Bram mengambil gagang telepon dan memesan makanan pada pihak resort.
Selang berapa lama, makanan datang, Bram memesan seafood kesukaan nya dan Aiyra. ada kepiting Soka dengan bumbu khas resort disana, Bram juga memesan lobster dan cumi goreng tepung, ada asparagus dan kerang segar dengan garlic di atasnya.
Aiyra tersenyum bahagia melihat hidangan istimewa yang tersaji di atas meja. Bram hanya tersenyum simpul melihat istrinya.
***
Selama disana mereka menghabiskan waktu untuk mengeksplor keindahan di pulau tersebut, mereka menaiki perahu dayung berdua. menyelam melihat keindahan bawah laut, berkeliling di hutan bakau yang indah, dan dinner romantis yang sudah di sediakan oleh pihak resort khusus untuk pasangan yang sedang honeymoon.
Aiyra dengan baju sexy nya dan hanya memakai kain pantai, terduduk di atas ayunan rotan yang ada di balkon resort. sesekali kain pantainya tertiup angin menyibak memperlihatkan paha Aiyra yang putih kemerahan.
Bram yang duduk di kursi berseberangan dengan Aiyra hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah laut lepas, dia sudah membuat Aiyra kecewa dan marah berbulan bulan karena dia telah ' memperkosa ' istrinya itu. dia tidak ingin membuat Aiyra marah lagi.
Aiyra sadar akan sikap Bram saat melihat paha nya yg terbuka.
"Kak, berapa lama lagi kita disini?" tanya Aiyra membuyarkan lamunan Bram.
"hemm" Bram tersadar dan menoleh ke arah istrinya. Aiyra tersenyum tipis melihat tingkah suaminya, dia bangun dari ayunannya dan menghampiri suaminya.
Aiyra duduk di pangkuan Bram, dan melingkarkan tangannya di leher Bram yang kokoh.
"Berapa lama lagi kita disini?" Aiyra berbisik di telinga Bram, dengan sengaja Aiyra sedikit menghembuskan nafasnya di telinga Bram, membuat tubuh Bram seperti tersengat aliran listrik, tubuhnya seolah teraliri api. dia merasa agak panas di tengah tiupan angin laut yang sepoi-sepoi.
Bram nampak kikuk, dia berusaha menahan diri dan menenangkan jantung nya yang beredgup agak kencang. tangan kirinya yang melingkar di pinggang Aiyra, mendadak jadi beku.
Aiyra hanya bisa tersenyum melihat tingkah diami, dan dia mengerti apa yang Bram rasakan saat itu.
"ehmm besok... besok sore kita akan pulang"
Tangan kiri Aiyra menyentuh pipi kanan suaminya, Aiyra menarik wajah suaminya yang sedari tadi berusaha menghindar. Dengan lembut Aiyra mencium bibir suaminya, perlahan Aiyra mulai memainkan lidahnya. Bram hanya terdiam sesaat hingga akhirnya diapun membalas ciuman istrinya.
Bram membopong tubuh Aiyra ke dalam kamar, masih dengan poisis bibir saling bertautan, Bram merebahkan tubuh Aiyra di atas ranjang dengan mesra.
"Kak, malam ini aku akan menunaikan kewajibannya ku sebagai istri, Kak Bram bisa meminta hak Kakak sebagai suami" ucap Aiyra di sela sela ciuman mereka.
Bram menatap mata Aiyra berusaha meyakinkan dirinya kalau saat ini Aiyra benar benar ikhlas atas apa yang dia ucapkan. Aiyra menarik kepala suaminya dan mencium bibir Bram kembali sebagai jawaban dari keraguan Bram.
Aiyra kini mengikhlaskan dan memberikan hak suaminya yang selama ini tidak pernah dia berikan. Ya, memang faktanya Aiyra memang sudah tidak perawan lagi dan ini untuk kedua kalinya Bram menikmati keindahan tubuh Aiyra, tapi kali ini berbeda karena mereka melakukannya dengan penuh kesadaran dan merek berdua menikmatinya.
__ADS_1