
Semua wanita di dunia selalu menginginkan suaminya selalu ada di sampingnya saat mereka sedang hamil, itupun yang di rasakan Aiyra dulu dimana dia begitu manjanya mengalami masa ngidam yang membuat Bram kewalahan dan hampir putus asa.
Masa masa terindah yang di alami Aiyra selama hidupnya, satu kebahagiaan dari segala derita yang dia rasakan. Namun kebahagiaan itupun tak bertahan lama dalam hidupnya, kini kebahagiaan nya hanya tinggal kenangan.
Sekarang rasanya kebahagiaan itu telah benar benar pergi menjauh dari hidupnya, kebahagiaan yang dia miliki satu satunya pun kini memudar perlahan, Bram yang harus menjaga dua istri kini perlahan mulai melupakan Aiyra, bukan ingin hati melupakan istrinya, hanya saja Maura memiliki janin yang selama ini di impikan keluarga Bram, dimana janin itulah yang menarik Bram menjauh dari Aiyra.
"Mau makan apa Kak?"
"Apa saja, selama itu masakanmu aku akan selalu memakannya" ucap Bram yang baru saja tiba di rumah Aiyra.
Seharusnya Bram dari kemarin ada di rumah Aiyra, hanya saja Maura menjadi alasan untuk Bram lebih memiliki waktu sedikit bersama Aiyra.
Dengan penuh kasih sayang Aiyra menyiapkan Bram makan malam, dia mengambilkan nasi dan lauk pauknya, tak lupa juga Aiyra mengambilkan segelas air putih untuk suaminya tercinta.
Makan malam begitu hening tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kedua insan itu, tidak ada yang aneh memang karena makan memang tidak ada pembicaraan, itulah adab makan.
Selesai makan Aiyra membereskan piring dan meja makan, sementara itu Bram beranjak ke lantai atas menuju kamar.
Setelah selesai membereskan semuanya, Aiyra menyusul suaminya menuju kamar, dia melihat suaminya tertidur.
"Kak..." Aiyra mengusap pundak suaminya, tak ada respon.
Wajah Aiyra terlihat sedih, dia menghela nafas kemudia berbaring di samping suaminya. Dia tertidur dengan rasa sedihnya yang dalam, tidak ada lagi kehangatan dari Bram, dia datang selalu dengan wajah yang nampak lelah. Berbicara hanya seperlunya saja.
" hari ini mungkin akan pulang terlambat, Kak Bram harus mengantar Maura membeli beberapa perlengkapan bayi kami"
"Hmmm"
Bram menoleh ke arah istrinya, suara Aiyra terdengar lemah, Tangan Bram yang masih membenahi dasi dia lepaskan, Bram berjalan menghampiri istrinya saat melihat wajah Aiyra begitu pucat.
__ADS_1
"Apa kamu sakit? kenapa wajahmu begitu pucat?"
"Aya baik baik saja Kak, hanya sedikit pusing"
"Kita pergi ke dokter ya, Nanti Kak Bram drop kamu di RS"
"kalau begitu sibuk, tidak perlu mengantar dan drop Aya di RS seperti supir taxi"
Aiyra beranjak dari ranjang melangkah ke kamar mandi.
Bram hanya bisa duduk termenung mendengar perkataan Aiyra. Bram masih duduk menunggu Aiyra keluar dari kamar mandi, hanya saja satu jam berlalu Aiyra tak kunjung keluar.
Bram berfikir mungkin Aiyra sengaja berlama lama di kamar mandi karena marah padanya.
Mendengar langkah suaminya keluar dari kamar, Aiyra pun keluar perlahan dengan mata yang sembab, karena selama di kamar mandi Aiyra terus saja menangis.
sejenak Aiyra berdiri termangu, dia masih tidak menyangka hari ini akan terjadi, Bram yang begitu mencintainya, yang begitu romantis dan perhatian padanya, yang rela meninggalkan segalanya hanya demi dirinya kini telah berubah. Aiyra mencoba terus berfikir bahwa wajar karena Maura kini sedang hamil anak Bram.
drreeettt drreeettt drreeettt
Aiyra merogoh ponsel yang ada di hand bag yang dia bawa.
Kakak minta maaf sayang...
Aiyra menghela nafas dalam dan memasukan kembali ponselnya.
****
"Bagaimana keadaan saya dokter?"
"Ny. Aiyra bukankah anda itu seorang dokter? kenapa tidak bisa mengenali gejala yang anda rasakan selama ini?"
__ADS_1
"mungkin karena saya terlalu banyak urusan dok"
"seberapa berat sakit kepala yang anda rasakan selama ini?"
"kalau hanya pusing pusing sedikit sering dok, hanya saja sakit yang begitu terasa jarang jarang dok, hanya saja pernah kemaren saya pingsan setelah mandi, dan saya sadar kembali tengah malam dok dengan handuk yang masih menempel di badan saya"
"suami anda kemana Ny. Aiyra? pingsan sebegitu lama tidak di ketahui siapapun"
Aiyra terdiam, Bagaimana Bram tau istrinya pingsan sementara dia sibuk dengan istri dan calon anak mereka, Mama? dia sudah sepekan ini keluar kota.
"Baiklah, saya tidak akan menduga duga untuk sementara ini, nanti minggu depan kita lakukan CT scan"
"apa jangan-jangan..."
"sebaiknya tidak Ny. Aiyra, berdoa saja semoga hanya tumor biasa, bukan cancer"
Entah kenapa Aiyra bersikap dingin, dia tidak begitu merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti pada dirinya, meskipun hasil nya kanker, Aiyra sepertinya sudah siap, baginya itu bukan hal yang menakutkan.
***drreeettt drreeettt drreeettt
sayang,,, Maura perutnya kram, Kak Bram tidak pulang malam ini ya, malam besok akan Kakak ganti.
Baik Kak. tidak perlu di pikirkan***.
Aiyra menghela nafas, matanya melihat ke langit yang kini mulai mendung, dia melangkah kan kakinya menuju mobil.
"Pak, hari ini saya ingin pergi ke sebuah Mall, kita kesana ya, nanti bapak drop saya saja, bapak pulang duluan saja"
"Iya Non"
Mobil maju perlahan membelah jalanan kota yang mulai padat, Pandangan Aiyra menerobos tak tentu arah, dia hanya menatap hampa.
__ADS_1