HARAMKAH?

HARAMKAH?
Dia Kembali


__ADS_3

Aiyra yang tidur dengan tertelungkup mencium aroma wangi yang tak asing lagi di hidung nya, parfum Bram. Aiyra tersenyum kecut pada dirinya sendiri. dia mencoba bangun dengan rambut terurai menutupi wajahnya.


"ya ampun,,, apa aku kesiangan hari ini" bisiknya malas. Aiyra melihat suaminya tengah berada di depan cermin dengan pakai yang rapi siap kerja.


Aiyra hanya memakai kemeja putih transparan, memperlihatkan underwear nya yang serba hitam. Dia turun dari ranjang dan menghampiri suaminya. Dengan manja Aiyra memeluk suaminya dari belakang.


"Kak Bram hari ini ada tugas keluar kota, tapi sore udah balik. Aya mau apa? mau Kak Bram bawakan apa?"


"aku mulai tidak suka dengan panggilan Aya"


Bram yang sedang membenahi dasi terdiam sejenak dan menoleh ke belakang.


"baiklah sayang, mau Kak Bram bawakan apa?"


"itu jauh lebih baik"


Aiyra melepaskan pelukan nya, mengambil baju ganti dan berjalan menuju kamar mandi. Dia mandi secepat kilat, agar saat Bram pergi tidak melihat keadaan istrinya yang kusut. Pikir Aiyra.


Bram duduk di ujung tempat tidur, sambil fokus ke layar ponsel, Aiyra berjalan menuju meja riasnya, dia mulai menyalakan hair dryer dan mengeringkan rambutnya, setelah setengah kering dia mengambil vitamin rambut dan membalurkan nya ke seluruh bagian rambut, sambil sesekali memijat kepalanya. Rambutnya dia biarkan tergerai tanpa di sisir.


Aiyra kemudian memoles tipis wajahnya, dia mulai memakai sedikit bedak, Ya hanya sedikit karena wajah Aiyra sudah putih mulus, dia sedikit menebalkan garis alis nya, tak lupa Aiyra memakai maskara untuk melentikkan bulu matanya yang sudah lentik. terakhir dia memoles bibir nya dengan lip cream berwarna pink peach. Aiyra begitu fokus merias wajahnya tanpa sadar sedari tadi Bram memperhatikannya dari belakang. Bram menghampiri Aiyra dan membantu nya menyisir rambut.


"sepertinya Kak Bram tidak akan fokus meeting di luar kota hari ini"


"kenapa?" Aiyra menatap suaminya dari cermin.


"sayang, apa tidak sebaiknya kamu ikut Kak Bram keluar kota?"


"ya ampun Kak" Aiyra berdiri sambil tertawa gemas, Aiyra jinjit dan merapikan dasi Bram yang sudah rapi.


Aiyra menggelayut tangannya di leher Bram dengan manja. Sementara Bram merangkul pinggang mungil istrinya.


"masa aku harus ikut Kakak kerja sih? nanti apa kata orang, gak ah!"


"siapa yang mau berkomentar? ayolah sayang Ikut Kak Bram ya, meeting nya di hotel, nanti Kak Bram pesan kamar. kita kembali besok pagi"


"hemm oke... tapi aku belum menyiapkan apa apa Kak"


"tidak perlu bawa apa apa, baju kita beli disana saja"


"baiklah kalau begitu, kita turun pamit sama Mama"


Bagaimana bisa Bram pergi sendiri meninggal Aiyra? Saat ini Bram sedang menikmati sikap Aiyra yang manja dan bersikap benar benar menjadi istri. Bram menunggu beberapa tahun untuk bisa sampai pada kondisi seperti ini, dan dia tidak ingin melewatkan sedetik pun waktu bersama Aiyra.

__ADS_1


Ting tong


Bel kamar hotel berbunyi, Aiyra yang sedari tadi menunggu suaminya, langsung berlari menuju pintu kamar dan membukanya.


"hai" ucap Aiyra bahagia sambil berhamburan ke dalam pelukan Bram, Aiyra bersikap seperti anak kecil yang di gendong Ayah nya, dia melingkar kan tangannya di leher Bram, dan kedua kakinya melingkar di pinggang Bram.


Bram hanya tersenyum dengan tingkah istrinya itu, Bram duduk di atas sofa dengan posisi Aiyra yang masih seperti tadi. Bram mencium bibir istrinya yang begitu menggoda sejak dari pagi, dia menahan diri karena dia ingat akan mengadakan meeting dengan klien besar, tapi kali ini tidak ada ampun lagi.


Aiyra membuka mulutnya dan membiarkan lidah Bram bermain main di dalam. sementara tangan Bram sibuk menjelajahi bagian-bagian tubuh istrinya. Sesekali Aiyra mendesah di telinga Bram, membuat Bram semakin tidak dapat menahan hasratnya lagi.


Kini mereka berdua tidak mengenakan sehelai kain pun, kedua manusia yang sedang di mabuk nafsu itu saling menggeliat di atas sofa.


****


"sayang apa kamu lapar?" tanya Bram sambil memeluk erat istrinya yang ada di atas tubuhnya, mereka berdua bermandikan keringat


"tidak, tapi sepertinya kita harus membeli beberapa helai baju Kak"


"baiklah, kita cari butik di Mall ya, sekalian jalan jalan dan makan"


"baiklah, aku bersihkan diri dulu ya" Aiyra mencoba berdiri namun Bram menarik tubuh kecilnya dan kembali jatuh ke dalam pelukan Bram.


"ishhhh Kak Bram, masih ada nanti malam"


"baiklah, Aya janji tapi sekarang biarkan Aya mandi dan kita pergi mencari baju ganti"


"baiklah"


Aiyra dan Bram kembali rapi, mereka berdua keluar dari kamar hotel. Di sepanjang perjalanan, Aiyra dan Bram saling melontarkan candaan hingga tertawa terbahak bahak. mereka lupa pada supir taxi yang telinganya terasa berdenging mendengar Aiyra dan Bram yang super berisik. supir taxi menghela nafas lega saat sampai di lobby sebuah mall besar.


Aiyra tidak pernah melepaskan genggaman tangan Bram, mereka berdua berjalan jalan berkeliling melihat-lihat baju yang akan mereka beli,tentunya di toko brand ternama.


"sayang kita makan ya, perut Kakak tidak bisa di ajak kompromi lagi, habis makan kita shoping lagi"


Aiyra yang sedang memilih kemeja untuk Bram menoleh, melihat Bram memegang perutnya yang sepertinya sangat kelaparan itu, Aiyra meletakkannya kembali kemejanya dan berjalan menghampiri Bram.


"oh, baiklah. ayo Kak"


Aiyra bergelayut manja di tangan kekar Bram. dia menengadah kan wajahnya ke wajah Bram.


"kenapa tiba-tiba berhenti kak?" Tanya Aiyra, namun Aiyra melihat Bram tidak bergeming sedikitpun, Bram hanya menatap ke depan dengan pandangan yang seperti orang kaget dan marah. Aiyra mengikuti arah pandangan suaminya.


Belanjaan yang Aiyra pegang seketika terjatuh ke lantai, matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Lama Aiyra menatap hingga tak sadar butiran bening terjatuh dari matanya. Tubuhnya bergetar.

__ADS_1


"Ilham?" suaranya parau tersendat karena menahan sesak dan tangisan di dada Aiyra. Bram menoleh ke arah istrinya, Bram melepas genggaman Aiyra, tanpa kata Bram pergi meninggalkan Aiyra yang masih mematung.


Dengan langkah yang tegap Bram berjalan menuju lobby utama Mall, dia mengepalkan tangannya yang gemetaran. Dadanya seakan ingin meledak. dia ingin berteriak sekeras mungkin agar hatinya tidak terlalu sesak.


Bram merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya terpejam, air mata terjatuh dari sudut matanya membasahi telinga Bram yanh memerah.


Bram mencoba berpikir positif pada Aiyra, dia yakin Aiyra tidak akan gegabah bertindak. Aiyra nya tidak akan melakukan apapun dengan Ilham.


Bram mencoba mengatur nafas nya yang tidak beraturan, dia memukul mukul dada nya yang masih terasa sesak. Bram bangun dan terduduk, jemari tangannya saling meremas kuat, sesekali dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan keras.


Bram mengambil air minum, air dalam botol besar itu ia tenggak hingga setengah nya dia habiskan. Bram membanting botol air itu hingga sisa air di dalamnya berhamburan kemana mana.


Nafas nya turun naik tak terkendali, dia melempar apapun yang ada di sekitar.


Bram berteriak sangat kerasa, lalu membanting tubuhnya ke atas kasur. Matanya menatap tajam ke langit langit kamar hotel


Ting tong


Bram menoleh ke arah pintu kamar, dengan langkah gontai dia membuka pintu kamarnya, Aiyra. Tanpa melakukan apa-apa Bram kembali masuk ke dalam kamar, di ikuti langkah Aiyra di belakang.


Aiyra melihat sekeliling kamarnya berantakan, ada tumpahan air dimana mana, cermin pecah dan ada sedikit bercak darah disana, selimut dan bantal tidak lagi pada posisi yang seharusnya.


Bram duduk di kursi, kali ini hatinya tidak bergemuruh seperti sebelum Aiyra datang. Aiyra menyimpan tas dan paper bag belanjaannya tadi bersama Bram, Aiyra juga membawa makanan karena ingat suaminya belum makan.


Aiyra membungkuk tubuhnya dan mulai merapikan kekacauan yang di buat oleh suaminya, Aiyra mulai meletakkan barang barang pada tempat asalnya.


"jangan sentuh itu!" ucap Bram keras pada Aiyra saat Aiyra hendak membersihkan pecahan cermin yang di rusak oleh Bram. Aiyra menurut.


Aiyra membiarkan pecahan itu tercecer begitu saja. di mencuci tangannya, dan mengambil makanan yang tadi dia beli.


Aiyra membuka kotak makanan itu dan berjalan menghampiri Bram. Aiyra menyodorkan sendok berisi makanan ke depan mulut Bram, tapi Bram hanya diam membisu.


"Makanlah Kak, Aya tidak ingin Kakak sakit"


"aku sudah terbiasa sakit Aya" sindir Bram.


"sesuap saja, Aya mohon"


"simpan saja, aku bisa mencari makan sendiri di luar" ucap Bram ketus, dia beranjak dari duduknya dan pergi menuju pintu, Aiyra yang mengetahui Bram akan pergi segera berlutut dan menahan kaki Bram dengan tangan nya.


"Aya mohon, jangan pergi" Aiyra menangis.


Bram memejamkan matanya, tangannya mengepal kuat. Dia berbalik dan meraih kedua bahu istrinya, Bram memeluk kuat Aiyra, seakan dia sangat takut Aiyra akan pergi.

__ADS_1


__ADS_2