
Angin berhembus sepoi-sepoi, matahari mengintip dari balik dedaunan, burung burung bernyanyi berkicauan, Pohon melambai saling bersapa mesra. Keindahan alam ciptaan Tuhan memang tidak ada bandingannya.
" semoga dia ada di RS?" harap Aiyra. Hari ini dia tidak sedang bekerja, dia sedang jadwal libur setelah dua malam dinas di RS. Dia pergi ke RS untuk menemui Ilham. Dari pagi pesan dan telepon Aiyra tidak di balas.
" pak, kalau pak ilham masuk gak?" tanya dina kepada security depan pintu masuk RS
" Masuk mba, tadi pagi sekali beliau datangnya"
" oh oke, terimakasih ya pak"
"sama sama dok"
security mempersilahkan mobil Aiyra masuk. Aiyra memarkir mobilnya, dia mematika mesin mobil, di ambilnya tas kemudia turun dan berjalan menuju ruang kerja Ilham.
Tok tok tok
"silahkan masuk"
Ceklakk
Aiyra membuka pintu, dengan memasang senyum yang paling manis dia masuk lalu memyapa Ilham.
" Mas ku sibuk banget ya, sampai tidak bisa membalas pesan atau teleponku" goda Aiyra, dia menghampiri Ilham yang sibuk dengan laptopnya, Aiyra melingkarkan tangannya di leher Ilham dan menaruh dagunya di bahu Ilham, dengan lembut Aiyra mengecup pipi Ilham.
"maaf ya,,, Mas bener bener sibuk banget"
" iya deh iya Bapak yang satu ini memang gila kerja sepertinya belakangan ini"
"sebentar lagi selesai kok, kenapa hmm? sepertinya bahagia sekali Mommy nya Rere Reno ini" ucap Ilham sambil mengelus pipi Aiyra.
" Ayo mas selesaikan dulu pekerjaan nya baru aku cerita ya"
"ya sudah tunggu di sofa, Mas kerja dulu"
"oke" Aiyra mengacak ngacak rambut Ilham sebelum dia pergi menuju sofa. Ilham hanya tersenyum.
Aiyra menyimpan tas nya, di rogohnya ponsel dari tas. Aiyra memilih bermain game online sambil menunggu Ilham yang masik sibuk bekerja.
Ilham sudah menyelesaikan pekerjaannya sejak dari tadi, namun sepertinya Aiyra tidak meyadarinya, dia terlalu asik bermain game online.
Ilham menatap lekat wajah wanita mungil yang manis itu. Ilham beranjak menghampiri Aiyra. Dielusnya kepala Aiyra lembut,lalu duduk di sebelahnya, kepala Ilham mendekat penasaran dengan apa yang ada di layar ponsel Aiyra.
__ADS_1
"asik bener ya main game nya"
"hehehe... mas udah selesai?"
"udah lama, tapi masa gak selesai selesai memandang wajah Mommy nya anak anak ini, liatnya bikin nagih"
"emang Mas belum pernah meihat wanita cantik apa?"
"banyak wanita cantik bahkan lebih cantik, tapi Mas mau nya sama Mommy Reno aja, yang udah ketahuan bibirnya semanis madu"
"ishhhh apaan sih! ywd Mas mau denger gak aku mau ngomong apa?"
"apa?"
"Mama sama Ayah udah tau tentang kita?"
"hemm?"
" iya, kemarin Kak Bram memutuskan pertunangan kami, dia mengorbankan namanya sendiri, dia bilang kalau dia mencintai wanita lain, orang tuaku marah, Kak Bram di tampar Mama. Aku sedih melihatnya makanya aku ceritakan saja yang sebenarnya" jelas Aiyra panjang lebar. Ilham menyimak dengan seksama. Dalam hatinya dia mengucapkan banyak terimakasih untuk Bram.
"apa orang tua kamu merestui kita? kamu cerita tentang malaikat kita?"
" aku cerita semua tentangmu Mas, Mama histeris dan aku pun mendapat cap lima jari sama seperti Bram" Ilham terkejut dan langsung menarik wajah Aiyra,di lihatnya pipi Aiyra, tapi bekas lima jarinya sudah tidak terlihat lagi.
Ilham menghela nafas panjang, di elusanya lembut punggung Aiyra, yang tidak mau melepaskan pelukannya dari Ilham, seakan dia sangat takut Ilham pergi. bagai anak kecil yang tidak ingin di tinggal ayahnya saat hendak berangkat kerja.
****
" kebiasaan jelek! kalau sibuk lupa ngasih kabar" Aiyra mendengus kesal. Sudah empat hari ini Ilham tidak memberikan kabar, di RS pun dia tidak ada.
"besok aku harus nyari dia ke rumahnya" ketusnya.
Didepan gerbang rumah Ilham, Aiyra di sambut ramah oleh security. Dia diperlukan seperti penghuni rumah itu sendiri.
Aiyra langsung masuk dan mencari seorang di dalam rumah yang lebih pantas di sebut istana.
"Kak Aiyra..." seseorang keluar dari sebuah kamar dan menyapa Aiyra.
" Hai Dis...." Aiyra memeluk Gladis, dia isteri nya Zen adik Ilham
" sepi banget di rumah, pada kemana?"
__ADS_1
"biasalah Kak, Disini kan yang pengangguran cuma aku, ya karena perutku ini" ucap Gladis sambil mengelus ngelus perut buncitnya, dia sedang hamil anak pertamanya. Zen sangat protect, dia tidak mengizinkan Gladis untuk melakukan apapun, Zen tidak ingin kehilangan calon anak untuk kedua kalinya. Ya, Gladis pernah keguguran karena terlalu sibuk bekerja.
Mereka duduk di teras belakang.
"Kak, mau nyari Kak Ilham ya..."
"Iya Dis, aku kesel sama dia, tiap sibuk gak pernah memberikan kabar, aku kan cemas"
" anak anak masih menghubungi Kakak?"
" itu dia,,, mereka juga menghilang begitu saja, padahal aku sangat merindukan dia Dis"
" semua orang diam, karena mereka tidak ingin mengatakan nya langsung pada Kakak, mereka takut Kakak kecewa, tapi bagaimana pun aku harus membertahu Kakak sesuatu"
Cookies yang hendak Aiyra makan, dia letakkan lagi ke dalam toples. Dia merasa bingung dengan apa yang barusan Gladis katakan.
" Kak,,," Gladis memegang jemari Aiyra kuat, dan itu mebuat Aiyra semakin ketakutan.
" Kak Ilham pergi!"
Mata Aiyra menatap Gladis lekat, dia berusaha mencari sebutir kebohongan dari mata Gladis, tapi sepertinya Gladis berkata jujur.
"Ap... apa.. apa maksudnya ini?"
"Iya Kak, Kak Ilham pergi ke luar negeri membawa Rere dan Reno"
Duuarrrrrrr
seperti ada geledeg besar menyambar di kepala Aiyra. Dia melepaskan genggaman tangan Gladis, Aiyra masih menatap Gladis dengan tatapan sedih dan hampir menjerit.
"Aku pergi dulu aku tidak ingin mendengar apa apa lagi." Aiyra berjalan cepat meninggalkan Gladis.
"Kak Ilham menemui ibu dari anak-anaknya"
Langkah Aiyra terhenti. Dia menelan ludah kuat, Dadanya kembang kempis dan hampir meledak.
" Bagaimana bisa?" tanya Aiyra tegas seraya membalikan badan dan menghadap kembali ke arah Gladis.
" Istri pertama kak Ilham belum meninggal, Dia dulu pergi meninggalkan Kak Ilham dan anak-anaknya demi kelangsungan karirnya sebagai model di Paris. Bahkan mereka belum bercerai sampai saat ini"
Aiyra ambruk, dia terduduk lemas kepalanya bergerak ke kiri ke kanan berharap apa yang Gladis katakan adalah sebuah kebohongan. Dia menutup telinganya dan berteriak sekeras yang ia bisa. Tangisnya pecah. Gladis memukul mukul dadanya yang seperti di timpa beban ratusa ton.
__ADS_1
Gladis menghampiri nya dan memeluk Aiyra dengan kuat.
"sabar kak... maafkan kami semua" ucap Gladis penuh sesal dengan uraian air mata di pipinya yang bengkak akibat kehamilan nya itu. Aiyra ingin sekali mendorong Gladis, tapi dia sadar ada satu kehidupan lainnya di dalam diri Gladis.