HARAMKAH?

HARAMKAH?
Patah Yang kedua kalinya


__ADS_3

"Ra....."


nafas Ayah terengah-engah karena menahan sesak di dadanya, meski selang oksigen sudah terpasang tapi tetap tidak banyak membantu. Aiyra yang duduk di sebelah kanan sang Ayah tidak berhenti menangis, entah kenapa tapi dia merasa sakit sekali melihat ayahnya kali ini.


"Ayah, tidak bisa pergi sebelum kamu berjanji satu hal"


"Ayah,Rara tidak mau mendengar apapun saat ini, Rara mohon sembuhlah"


"Ra, berikan kemudahan pada Ayah untuk pergi, terlalu sakit nak"


"Ayah..." ucap Aiyra lirih.


" berjanjilah untuk menikah dengan Bram"


"tapi Ayah..."


"To...tolong.. se...seka..kali i...i..ini saja"


"Ayah!" Aiyra berteriak histeris


"ber....jan...ji....lah "


" iya Ayah.... Rara akan menikah dengan kak Bram"


Wajah ayu gadis itu penuh dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir, dia menggenggam erat jemari Ayahnya, dalam hatinya terus berdoa dan berharap agar semuanya akan baik baik saja. Tangisan Aiyra pecah, di mengeratkan giginya saat melihat dada sang Ayah tidak bergerak lagi. Mama yang di sebrang sana menjerit histeris, dia menjerit seperti orang gila, tangannya gemetaran seakan ingin mencakar wajahnya sendiri tapi tak bisa,kakinya tak bergerak seolah ada ribuan ton yang membebani telapak kakinya.


Beruntung ada Bram yang menguatkan Mama Aiyra, Bram memeluknya dan berusaha menenangkannya, hingga Mama Aiyra tak sadarkan diri.

__ADS_1


****


"hai,,,"


sapa lelaki itu lembut di telinga Aiyra yang sejak tadi berdiri di depan jendela kamarnya. Bram melingkar kan tangan nya di tubuh Aiyra yang ramping namun padat. pandangan Aiyra terarah pada Mama yang kini mulai mau mengurus kebunnya lagi setelah setahun kepergian suaminya, sejak Ayah Aiyra pergi Mama memang sangat terpukul, dia menutup diri dan tak banyak beraktivitas, perusahaan nya pun hampir bangkrut jika tak ada Bram yang selalu mendampingi dan menjaga keluarga Aiyra.


"Hai Kak, sudah bangun" balas Aiyra seraya mengusap wajah suaminya kini.


Ya. Setelah selang beberapa bulan dari kepergian Ayah, Aiyra dan Bram melangsungkan pernikahan, pernikahan yang sederhana,hanya di hadiri keluarga ini dan sahabat dekat saja, mengingat kondisi Mama Aiyra yang tidak stabil. Kondisi kejiwaannya sedikit terganggu, Mama sering menangis sendiri, tetiba tertawa sendiri, tapi kadang dia juga bisa seperti orang normal pada umumnya.


"apa masih memikirkan Ayah?"


"hemm, dia membuat ku patah hati untuk kedua kalinya,dan ini tidak bisa di obati Kak"


"apa itu artinya patah hati yang pertama sudah bisa terobati?"


"Kak....." rengek Aiyra manja tapi sedikit marah


"aku mau mandi, dan bersiap ke kantor, apa kamu mau ikut mandi bersama?" goda Bram. Aiyra membesarkan bola matanya, Bram tersenyum kecil melihat Aiyra.


"mana mungkin dia mau di ajak mandi bersama, bahkan setelah satu tahun menikahpun dia belum mau aku sentuh, tidak tubuh apa lg hatimu yang bisa kamu berikan padaku Aya, semuanya milik Ilham" bisik Bram dalam hati, dia hanya menggeleng kan kepala sambil tersenyum kecut, mengasihani dirinya sendiri.


Setelah kepergian Ayah, Aiyra tidak lagi bekerja, dia fokus pada kondisi Mama nya saat itu, selama itu pula dia tidak pernah lagi tau tentang apapun yang berkaitan dengan Ilham, tapi entah apa yang terjadi pada Aiyra? hatinya masih belum bisa terbuka untuk orang lain meski untuk suaminya sendiri, Ilham.


Begitu besar cinta Bram untuk Aiyra, dia rela menahan sakit setiap hari, saat melihat Aiyra melamun sendirian, Bram tau saat itu Aiyra sedang memikirkan siapa, dia hanya bisa tersenyum dalam rasa perihnya, dia selalu menyibukkan diri dengan urusan kantornya, dia juga sengaja mengambil alih perusahaan Aiyra agar mempunyai kesibukan lain, hingga dia bisa melupakan sejenak perasaannya.


Aiyra tidak memberikan tubuh apa lagi hatinya untuk Bram, namun dia tetap bersikap baik pada Bram dengan tidak bekerja di RS milik Ilham, tidak juga berhubungan lagi dengan siapapun yang ada kaitannya dengan Ilham, apa itu cukup? Tentulah tidak! Tapi dialah Bram yang selalu mencintai wanitanya dengan tulus ikhlas, bagi nya dengan melihat wajah Aiyra yang sedang tertidur pulas setiap malam adalah lagu Nina bobo terindah bagi nya, dengan menyantap masakan yang selalu Aiyra berikan untuknya adalah vitamin bagi tubuhnya yang rapuh, dengan selalu memakai baju yang Aiyra siapkan saat ke kantor merupak hal yang romantis yang Bram rasakan, saat Aiyra memakaikan dasi dan jam tangan di pergelangan tangannya adalah suasana yang membuat Bram berbunga bunga. Oh, Bram.

__ADS_1


Aiyra selalu mengantar suami nya ke depan pintu mobil, dia selalu terlihat cantik dan tersenyum saat Bram akan pergi, Aiyra mencium tangan suaminya, dan selalu berkata.


"hati hati ya Kak, jangan pulang terlalu malam".


Mungkin bagi sebagian pasangan suami istri, jika istri nya bicara seperti itu, itu tandanya dia begitu merindukan suaminya dan ingin suaminya cepat pulang, Bram tau tidak dengan Aiyra, dia tau Aiyra bicara seperti itu hanya karena Aiyra tidak ingin Bram sakit, tapi lagi lagi Bram berimajinasi seakan Aiyra adalah istri pada kebanyakan, untuk itulah dia selalu bahagia meski hatinya hancur.


Kebahagiaan semu yang selalu Bram ciptakan, membuat dirinya kuat dan bertahan menjalani kehidupan pernikahan dia yang palsu. Bram merasa tidak ada yang tahu akan hal itu, tapi apakah benar tidak ada yang sadar?


Siapa wanita yang tidak menginginkan Bram? dengan fisik yang sempurna dan kekayaan yang melimpah, ribuan wanita pasti akan bersujud untuk menjadikan mereka istrinya, atau hanya memberikan mereka izin untuk menaiki ranjang Bram dan merasakan keindahan tubuh Bram yang kekar. Sayangnya, Bram terlalu setia pada seorang wanita, wanita yang sama sekali tidak mencintai dirinya sedikitpun.


"Pak, siang ini bapak ada jadwal meeting bersama klien di hotal Z Red"


"Rom, apa bisa di pindah ke lain waktu?"


"oh.."


"saya agak sedikit tidak fit hari ini, kepala saya agak pusing"


"Baik Pak, bisa saya atur kembali, Bapak mau saya antar pulang?"


" tidak, tolong siapkan saja mobil saya di depan"


"Baik pak, segera" ucap Romi, sekertaris pribadi Bram, dia segera mencari supir Bram dan menyuruhnya untuk menunggu Bram di depan.


Dengan langkah yang agak sempoyongan, Bram berusaha untuk berjalan sendiri menuju mobilnya, meski banyak karyawan yang berusaha membantu, tapi Bram menolaknya. Keringan dingin bercucuran di kening Bram, dia merasa kepalanya pusing, badannya anas dingin dan perutnya tidak karuan.


"Pak, apa tidak sebaiknya kita ke RS?" tanya supir.

__ADS_1


"tidak, istri saya juga seorang dokter, biar dia yang merawat dan mengobati saya"


"baik pak".


__ADS_2