
Dengan telaten Aiyra merawat Bram yang telah dua hari ini sakit, badan nya demam, dan sering muntah muntah, Bram yang bersikeras tidak ingin di bawa ke RS mengharuskan Aiyra memasang infus di rumah, Bram yang demam dan muntah muntah di tambah Bram tidak mau makan membuat Aiyra takut Bram akan dehidrasi. Setiap malam Bram selalu merancau tidak jelas, dia bergumam dalam tidurnya, Aiyra selalu terjaga di buatnya.
"Kak... Kakak.. sadarlah" Aiyra yang berusah untuk tertidur sejenak terkaget, saat Bram bangun dan seperti orang sedang mabuk, matanya merah, wajahnya penuh dengan amarah, Bram celingukan kesana kemari seakan ada yang sedang dia cari.
Aiyra mencoba meraih tubuh Bram yang tinggi kekar untuk tidur kembali, tapi Bram yang tak sadar itu melepas jarum infus dari tangan nya, darah menetes dari tangan Bram, Aiyra yang melihat itu segera berlari ke arah kotak P3K dan mengambil kain kasa, Aiyra kembali dan meraih tangan Bram, Aiyra berusaha menutup bekas jarum infus yang kini mengeluarkan darah itu, namun dengan kuat Bram menepiskan membuat Aiyra kaget.
"kenapa?"
"Kak..." Aiyra merasa sedikit takut melihat mata Bram yang memerah dan menatapnya tajam.
"kenapa kamu merawat ku dan peduli padaku" tanya Bram tegas.
"Kak, kamu kenapa?"
"Aku tanya kenapa kamu merawat ku?" Bram meninggikan suaranya.
"Kak, kamu ngomong apa? kita kan suami istri, sudah kewajiban aku merawat dan menjaga kamu Kak"
"kewajiban? huh!? lalu bagaimana dengan kewajiban kamu yang lain" suara Bram pelan tapi dengan nada yang begitu tegas, membuat Aiyra semakin merasa takut.
" Kak apa maksudnya"
"jangan pura-pura tidak tau!" Bram meninggikan suaranya lebih keras, dia berdiri dan menyeret Aiyra ke tembok kamar, wajah mereka begitu dekat, tangan Bram menjambak rambut belakang Aiyra, sementara tangan yang satunya memgang dagu Aiyra.
Perlahan bram mencium bibir Aiyra yang tipis, Aiyra berontak, dia mendorong tubuh Bram dengam sekuat tenaga, tapi semakin kuat Aiyra mendorong tubuh Bram, semakin liar Bram memperlakukan Aiyra.
__ADS_1
"Kak, stop! hentikan" teriak Aiyra. Namun Bram yang berada di alam bawah sadarnya tidak memperdulikan Aiyra, dia terus menciumi bagian bagian tubuh Aiyra yang lain. Bram membuk paksa kain yang melekat di tubuh Aiyra hingga hanya tersisa underwear Aiyra saja.
Bram menarik tubuh kecil Aiyra ke atas ranjang dengn keras, hingga Aiyra tersungkur. Air mata Aiyra mengalir deras, tubuhnya mengigil ketakutan di tambah rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya karena Bram terlalu kasar menciumnya.
"Kak aku mohon... tidak seperti ini! Kak...aku mohon jangan begini" rintih Aiyra memohon pada Bram. Aiyra merangsek mundur di atas ranjang saat melihat Bram naik ke atas ranjang sambil membuka satu per satu bajunya hingga tidak ada sehelai benangpun yang menutupi badannya.
Aiyra mengambil selimut dan menutupi badannya, terlihat sangat jelas di wajahnya kalau dia sangat ketakutan, tubuhnya bergetar rambutnya berantakan, telapak kaki dan tangannya sperti bongkahan es, dingin.
Bram teruss mendekati Aiyra, dia menarik selimut yang menutupi badan Aiyra dengan kasar, hingga kuku Aiyra patah.
Bram menaiki tubuh Aiyra yang ketakutan itu, dia terus melakukan hasratnya dengan liar, Aiyra yang sudah merasa tidak punya tenaga dan ketakutan pun diam tak berkutik, dia hanya mengeluarkan suara tangisan pilu nya. Tidak mungkin juga dia berteriak meminta tolong, bagaimana pun juga mereka adalah suami istri, akan menjadi hal yang memalukan jika Aiyra sampai berteriak dan membangun kan orang orang.
Aiyra memejamkan matanya dalam, Aiyra merintih, bibirnya dia gigit menahan rasa sakit saat Bram menerobos gerbang kesucian nya, Aiyra meremas punggung dan lengan Bram, bukan! Bukan karena Aiyra menikmatinya, tapi karena dia berusaha menahan rasa perih saat Bram memainkan miliknya di kewanitaan Aiyra.
Tubuh Bram mulai lemas saat Aiyra merasakan ada sesuatu yang keluar di dalam Mrs. V nya. Dengan nafas yang tersengal-sengal Bram membiarkan tubuhnya terdiam beberapa saat di atas tubuh kecil Aiyra.
Bram yang masih belum sadar, mengangkat tubuhnya dari tubuh Aiyra, kemudian dia berbaring di samping Aiyra. Tubuhnya masih demam, dan dia masih terus mengigau. Kesedihan Aiyra bertambah melihat keadaan Bram sperti itu. Tubuhnya masih terbuka tanpa sehelai benangpun, matanya menatap ke atas langit-langit kamar, sesekali dia mengedipkan matanya perlahan, dari sudut matanya masih terlihat air mata mengalir deras.
Kringggggggggg......
Bunyi jam weker yang keras membangun kan Bram dari tidurnya, dia perlahan membuka matanya, Bram mengerutkan dahi dan memgng keningnya yang masih di rasakan pusing, dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kasar dan matanya pun terbuka lebar.
Betapa terkejutnya Bram saat melihat disebelah nya Aiyra terlentang tanpa busana yang menutupi tubuhnya, Bram duduk dan melihat ada bercak darah di paha dan ************ Aiyra, kondisi kamar pun berantakan, Bram juga melihat bercak darah di seprei dekat Aiyra terlentang. Bram masih tidak berbicara, dia hendak berdiri hingga dia sadar bahwa kondisinya pun sama dengan istrinya, tidak memakai apapun.
Bram menebak nebak namun dia seger sadar apa yang telah terjadi. Bram terduduk lemas dan berharap apa yang ada di pikirannya itu salah, tapi melihat dengan mata kepalanya sendiri kondisi yang ada saat ini Bram tau ini memang sudah terjadi.
__ADS_1
"Aya, Kak Bram minta maaf" ucapan penuh sesal dengan linangan air mata. Bram menutup tubuh istrinya dengan selimut.
"Aya...."
Aiyra masih tidak merespon, matanya menatap kosong ke atas langit-langit, tubuhnya yang sedari semalam terbuka begitu sangat dingin, air matanya terus jatuh dri sudut matanya yang membengkak.
Bram meraih tubuh istri ke dalam pelukannya, Bram memeluk Aiyra dengan erat.
"Aya, Kak Bram minta maaf"
Bram menangis sambil memeluk tubuh Aiyra yang beku kedinginan. Aiyra masih tidak merespon.
Bram melepaskan pelukannya, dan membaringkan tubuh istrinya lagi di atas ranjang. Bram segera memakai pakainya yang ada di ujung ranjang, dia mengambil tisu basah dan membersihkan darah yang ada di paha dan ************ Aiyra, sesekali dia mengusap air mata yang jatuh di wajah tampannya itu, Bram terus membersihkan nya dengan isak tangisnya yang semakin keras.
"sudah Kak,cukup" suara Aiyra serak. Tangan Bram yang sedang membersihkan darah di paha Aiyra sontak berhenti.
"tidak perlu menangis, bukankah kita memang suami istri?"
Hening.
"Semua pasangan melakukan ini bukan?" lanjut Aiyra. Tatapannya masih kosong ke atas langit-langit kamar. dari sudut matanya masih terlihat air mata berjatuhan.
"Aya yang harusnya minta maaf karena tidak memberikan apa yang seharusnya Aya berikan dari dulu" ucapnya sinis.
Aiyra bangkit, dia berjalan menuju kamar mandi dengan tertatih, dia merasa sekujur tubuhnya sangat sakit, di tambah rasa sakitnya yang masih begitu terasa karena keperawanan nya telah diambil.
__ADS_1
Bram menunduk kan kepalanya sambil menangis sesenggukan. Dia sangat menyesal dan marah pada dirinya atas apa yang terjadi.